Ajal.


Perhentian terakhir manusia di dunia, melepas segala keduniawian dan segala kebendaan. Menghadap sang pencipta dengan hanya membawa amal perbuatan selama masih berpijak pada keduniaan. Pergi ke tempat terbaik di sisi-Nya, membawa serta perilaku, amal, ibadah dan perbuatan selama di alam sebelumnya. Tuntas sudah tugas di dunia.

Dua Februari 2010, seorang ibu yang (dulu) dekat sekali denganku, meninggal dunia. Beliau meninggalkan anak semata wayangnya yang juga sudah bertahun tak berayah. aku memanggilnya IBU. Dulu kami bertiga, aku, ibu, dan anaknya sangatlah dekat. Namun hubunganku dan anaknya yang memburuk berimbas pula pada kedekatanku dengan ibu.

Perhatiannya, semangatnya, candanya, dan masakannya, selalu aku ingat. Ibu meninggal karena pembuluh darah di kepalanya pecah. 8 hari ia lawan penyakitnya, naik turun garis di layar, mendatar, kemudian berbentuk lagi. Di masa koma nya aku belum sempat membesuk ibu. Dan kami baru dipertemukan di hari kematiannya.

Aku berdiri tepat di depan peristirahatan terakhirnya. Memandang kafan dan sebentuk putih itu, kemudian kulihat liang kubur sempit didepanku. Tanah merah yang basah karena saat itu hujan. doa dilantunkan, zikir tak lepas terdengar. Alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk ikut menaburkan makam ibu dengan bunga.

Siapapun kita. apapun yang kita punya. Apapun yang kita lakukan, muara kita sama. Tanah itu. Persegi didalam bumi itu. Nantinya kamu, aku, kita semua aka nada disitu. Dengan hanya berbekal amal ibadah dan sedekah selama di dunia. Urusan kini hanya tertuju lurus pada kita dan yang menciptakan. Bukan lagi apa, dimana, dan siapa.

Tanah di depanku itu telah menjadi sebuah gundukan. Ibu sudah ada di situ. Kami yang mengantar berdoa
untuk kepergiannya menghadap ilahi dengan disiram hujan. Semua, khususnya anaknya, terlihat tegar. Malah aku yang sering menyeka air mata yang keluar, namun dapat selalu kukendalikan agar tak belebihan. Bagaimanapun ibu sudah ada di tempat yang terbaik. Tinggal bagaimana kita yang ditinggalkan dapat mengendalikan diri. Dapat bersabar dan berbesar hati. Belajar dari yang sudah ada dan terus meng evaluasi diri, karena tugas kita di dunia masih banyak. Kulihat sebentuk sempurna pelangi tergambar di langit. Pelangi tercantik yang pernah kulihat. Semoga itu pertanda baik.

Kepergian ibu juga telah mengajarkan banyak hal bagi kami yang ditinggalkan, khususnya laki laki satu-satunya. Aku berharap ia akan terus belajar dan jadi lebih baik. Ya Allah terimalah arwah ibu di sisi-mu, muliakanlah ia. Juga berikanlah kesabaran dan petunjuk bagi anaknya, dan dekatkanlah ia dengan jodohnya. Amien.