04 September, 2010

Masih membekas di ingatan ketika beberapa tahun lalu, terdengar alunan musik organ tunggal dari kamar di lantai 2. Sepertinya sih itu suara dari komplek sebelah, yang mana emang rumah ini perbatasan antar 3 komplek. Lagunya adalah "munajat cinta" nya DEWA, yang kira-kira begini liriknya. "tuhan kirimkanlah aku kekasih yang baik hati. yang mencintai aku apa adanya...". Kemudian playlist selanjutnya adalah lagu SMS, karya yang super digandrungi dalam playlist karaoke organ tunggal masa kini. "bang, sms siapa ini bang? bang, pesannya kok pakai sayang sayang? bang, coba jujur padaku abang! kalau tidak, hape ini kubuang!". Tebaklah itu hajatan apa. Dan jawabannya adalah... itu acara pernikahan. OH!. 

Hmm, okay, itu semua adalah hak sepenuhnya dari si empunya hajatan, juga kebijaksanaan dari si om-om organ tunggalnya, mau  menampilkan lagu apa. Tapi... sadarkah mereka bahwa itu adalah hajatan pernikahan, dimana momen itu sakral banget. Lagu kan merupakan salah satu esensi penting dari acara itu sendiri. Perhatiin lirik lagi Munajat cinta dan SMS itu tadi. Di lagu munajat cinta, itu adalah lagu sedih, tentang pengharapan seseorang akan jodohnya. Naaah, fakta nya, acara pernikahan itu nggak akan ada kalau kita belum punya pasangan. Jadi, jelas2 acara itu terlaksana karna sudah saling menemukan, sementara "munajat cinta" isinya tentang ia ingin "menemukan". Nggak nyambung, kan?!. Sementara di lagu SMS. Aduuuh... kalo ini sih bener-bener saya nggak setuju. Itu jelas lagu tentang si istri yang nangkep basah si suami selingkuh. Helooooo... itu hari pernikahan mereka, hari pertama kehidupan baru mereka, tapi lagunya tentang selingkuh... Oh tidak. 

Saya bukan ngomongin status sosial disini, yang mungkin membuat perbedaan tentang playlist lagu-lagu yang dipunya sang pelaku organ tunggal maupun si empunya hajatan. Juga bukan tentang resepsi itu di rumah atau di gedung super mewah. Bukan!. Tapi, rasanya kok nggak nyambung banget antara suasana yang bahagia, haru, dengan lagu yang sedih, apalagi bermakna "nyeleneh". Rasanya kalau memang yang punya hajatan suka dangdut, jenis koplo/pantura sekalipun, masih banyak kan lagu genre itu yang bertemakan romantisme dan cinta-cintaan?. Rasanya, lagu cinta super mendayu jauh lebih pas diperdengarkan daripada lagu bemakna selingkuh, suaminya punya pacar lagi, ditinggalin suami, sebatang kara, dll. Kontras banget dengan aura bahagia dan esensi pernikahan itu sendiri. Dan rasanya kok...hmm... lagu itu kayak nyumpahin. Hiiii....

Dalam suatu resepsi juga (pastinya) ada yang ingin menyumbangkan lagu. Dan sepanjang yang terlihat, biasanya si penyumbang langsung naik ke atas panggung, dan meminta buku kumpulan lirik dari si penyanyi. Ada pengalaman saya, waktu anterin si mama ke kawinan yang nggak jauh dari rumah. Ada satu ibu-ibu yang semangat banget nyanyi, joget, dan suaranya (maap yah bu) nggak banget. Sementara si mbak2 penyanyi beneran, mendampingi si ibu nyanyi dengan bedaknya yang terlihat aneh karna keringetan. Kalo nggak salah, saat itu mereka nyanyiin lagunya Mulan jameela yang "WONDER WOMEN". Perhatiin liriknya.

kamu tipu aku lagi 
mungkin sudah ke-seribu kali 
tak tahu kapan akan berakhir segala penyiksaan ini 


Rasanya kok... hmm... kita sebagai tamu, atau bagian dari perhelatan itu perlu tahu diri juga ya tentang apa yang mau ditampilkan. Hehehe, saya memang paling sering mengomentari panggung di sudut acara pernikahan itu. Apalagi kalau adik saya juga ikut, seru lah komentar kita berdua tentang lagu yang dibawakan, plus gimana gaya penyanyinya. Pernah waktu itu, di sebuah pernikahan kerabat di kawasan Rasuna Said, saya dan adik saya dengan betahnya berdiri mengomentari si penyanyi. Oh, mungkin bukan penyanyi. Karna wedding singernya adalah seorang wanita yang suaranya enak. Yang kami komentari adalah seorang laki-laki yang sepertinya BERNAFSU banget nyumbang lagu. Sumpah. Setiap bait yang dia nyanyikan, mulutnya melebar empat jari. Tangannya melambai kesana kemari. Plus, dia nggak mau gantian nyanyi. Gubrak.

Rasanya kok saya pengen lepas dari aturan mainstream hiburan pernikahan seperti itu. Di hari pernikahan saya suatu hari nanti, kepingin nggak ada organ tunggal dan nggak ada penyumbang lagu yang nyanyiin lagu diluar playlist yang sudah saya atur. Bagaimanapun itu kan acara saya, saya ingin seoptimal mungkin, jadi boleh dong kalo menuangkan idealisme saya dan pasangan. Nggak perlu semuanya, karna pastinya ada pakem2 acara dan juga ada andil ide orang tua. Tapi pastinya, salah satunya Nggak ada lagu selingkuh selingkuh, ditinggalkan meninggalkan, ya walau bagaimanapun lagu nyeleneh itu memang populer di masyarakat. Tamu undangan, bahkan sodara2 saya, punya selera musik yang beda-beda pastinya. Tapi plisssss jangan lagu aneh2 :(. Gak lucu banget kan kalo ada acara kawinan, tapi nyanyi keong racun. lebih lebaynya lagi, kalo pake gaya sinta jojo. "dasar kau keong racun. baru kenal eh ngajak tidur. Ngomong nggak sopan santun, kau anggap aku ayam kampung?".  

4 komentar

tu dia kalo nafsu doank yang besar. bagi mereka yang penting nampil, suasana meriah. yang hadir jadi gemuruh, tertawa. ntah itu mentertawakan karna si penyanyi memang lucu atau mungkin mentertawakan ketololan si penyanyi. entahlah, seperti budaya yang tlah jadi tradisi.

REPLY

bagaimana kalau lagu keroncong "sepanjang jalan kenangan" atau Mars "Maju Tak Gentar" ?

REPLY

wah, brati kurang frontal tuh lagunya. coba ganti ama yang lebih frontal tentang perselingkuhannya :D

REPLY

emang mba febi mau nikah sama siapa???
saya mau daftar dong :D

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates