12 Januari, 2011


Berawal dari sms-an antar kamar dengan adik saya. Isinya:
“kakak, mama, papa, semuanya usaha ngasih yang terbaik. Supaya nanti elu bisa survive ketika kita udah nggak ada. Jangan sampe elu baru anggep itu ketika udah terlambat”.
Malam itu memang saya agak kesel sama dia. For a reason.
Dan saya pengen ngajarin dia, kalau… hidup berputar. Kalo saat ini nyaman, apa-apa ada, tersedia, belum tentu besok terjadi yang sama. Di usianya yang lagi abegeh-abegeh nya, dia udah bisa mulai menghargai apa yang ada dan diberikan ke dia. Selagi masih ada.

                                                                                                    ****

Malem itu saya nggak bisa tidur karena mikir tentang isi sms tadi. Kalimat “jangan sampai elu baru anggep itu ketika udah terlambat”.  Ketika orang-orang itu udah nggak ada.
Terus terang dalam hati terdalam, hal yang paling dianggap berat adalah ketika kita harus meninggalkan dan ditinggalkan.
Jujur, saya belum siap untuk dua hal itu.
Saya belum siap ditinggalkan. Apalagi meninggalkan.
Saya takut ketika ditinggalkan, saya nggak bisa ikhlas, bisa tenang, dan bisa siap.
Saya takut ketika meninggalkan, amal ibadah saya masih cetek banget. Takut kalau saya diambil dalam keadaan kurang baik dan tidak siap.

Banyak hal yang saya dengar tentang kematian. Itu bisa terjadi dimanapun, kapanpun, usia berapapun, dan dalam keadaan  apapun. Ketika Allah mengucap Kun fayakun, maka jadilah. Mama saya pernah bilang, kalau Allah udah siapin jalan hidup masing-masing, termasuk bagaimana cara kita meninggal nanti.
"Siapapun kita. apapun yang kita punya. Apapun yang kita lakukan, muara kita sama. Tanah itu. Persegi didalam bumi itu. Nantinya kamu, aku, kita semua aka nada disitu. Dengan hanya berbekal amal ibadah dan sedekah selama di dunia. Urusan kini hanya tertuju lurus pada kita dan yang menciptakan. Bukan lagi apa, dimana, dan siapa.” (diambil dari posting saya, KLIK di SINII)

Saya nggak bisa ngebayangin.
Bagaimana jika saya ditinggalkan, maupun meninggalkan?
Dan saya selalu berharap, memiliki hari yang lebih baik lagi, lebih mengingat dan dekat pada yang mencipta, melakukan yang lebih banyak dan bermakna lagi, membagi apapun yang bisa saya berikan, berikan yang terbaik bagi orang tua & orang-orang tedekat, serta banyak-banyak berkaca dan refleksi diri.
Saya ingin jadi orang yang siap. Ketika ditinggalkan maupun meninggalkan.
Insya Allah. Amin.



3 komentar

hiduuup floraa, tenang floo :)

REPLY

subhanalloh.. :)
ayoo selalu berusaha mperbaiki diri setiap saatnya.

btw, setau sy, "kun faya kun" tuh artinya jadi maka jadilah. faya kun itu kata keterangan.
yang Dia katakan hanya "kun" saja: jadi.

REPLY

makasih tambahannya mang mux! :D

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates