18 Januari, 2011

Hmm…
Saya ingin bagi-bagi cerita.
Tentang saya, perjalanan saya, dan kendaraan saya.


***


Sejak pertengahan tahun 2009 di usia saya yang ke 20, saya punya SIM (Surat Izin Mengemudi). SIM A dan C.

Saat itu saya lagi ribet-ribetnya ngerjain proposal skripsi, dan rasanya, kendaraan umum nggak lagi bisa mendukung mobilitas saya (cieh…). Alesannya sih karena (saat itu rasanya) sudah terlalu banyak hal di kepala, dan sudah nggak ada lagi space untuk bermesraan dengan kendaraan umum dan hiruk pikuknya.

Jelas, adanya driving license (dan kendaraan, tentunya) bikin saya super lega, bisa hemat waktu, uang, dan nggak ada lagi antri busway maupun nunggu bus yang makan waktu.

Saya jadi bisa bebas pulang-pergi jam berapapun, bawa barang apapun, tanpa harus ketergantungan kendaraan umum ataupun keberatan nenteng-nenteng bawaan.

Oh ya, saya lupa mention kalo saya ini akrab dengan kendaraan saya, si mio merah.

*

Sejak Mio, STNK dan SIM C di tangan, pengalaman saya di jalan (kok terkesan saya ini mandragade ya?) makin warna-warni. Saya jadi makin sering jalan-jalan, muter-muter, dan kemana-mana, sendiri maupun ada temennya.

Parkir motor dimanaaa, terus naik busway ataupun jalan kaki ke tempat yang saya mau.

Tapi ini sih khusus untuk weekend, karena jalanan lebih sepi dari hari biasanya.

Saya suka banyak tempat di Jakarta, jalanan Sudirman-Thamrin, Monumen Nasional, Bundaran HI, Kebun Binatang Ragunan, Planetarium, Kawasan Wisata Kota Tua, juga spot-spot makan enak+murah di Jakarta saat akhir pekan. It such a great pleasure, for me.

Rasanya ibukota dan kendaraan adalah pasangan yang pas untuk menghabiskan weekend. No heavy traffic, dan kalopun ada, yaa tanpa beban melewatinya, karena toh kita pergi untuk jalan-jalan, bukan untuk pusing-pusing kerjaan.

Umm, saya tahu kalau pakai headset saat berkendara memang dilarang, tapi berkendara sambil dengerin lagu-lagu kesukaan (dengan volume sedang, pastinya) dan nyanyi-nyanyi sendiri, itu adalah kesenangan tersendiri untuk saya. Serasa punya me-time dengan diri sendiri, melakukan hal yang disuka, tanpa orang lain tahu ataupun bisa komentar.

Tapi, memang berkendara, khususnya motor, nggak lepas dari resiko-resiko.

*

Ngomongin hal-hal kurang menyenangkan tentang perjalanan, nggak jarang mata saya ‘nonton’ kejadian kecelakaan lalu lintas. Yea, itu adalah momen sangat tidak mengasyikkan selama perjalanan.

Pengendara kendaraan bermotor, menggantungkan keselamatannya pada helm, jaket, dan aksesoris motor lainnya.

Kalau jatuh, kalau ada tabrakan, kalau tergelincir, badan kita langsung yang kena. Kulit kita yang sobek dan berdarah. Memar, patah tulang, dan lain lain.

Miris. Ngilu. Itulah yang saya rasakan.

Saya nggak tahu gimana jadinya kalau itu yang terjadi pada saya. Saya yang mengalami kecelakaan lalu lintas, saya yang luka, saya yang ada di pinggiran jalan dan dikerubungi orang-orang.

*

Perjalanan saya dari rumah ke kantor di kawasan Kelapa Gading, melewati satu daerah arah Tanjung Priok yang dilewati banyak kendaraan berat keluar masuk lalu lalang.

Terdengar ngeri, ya?

Tapi saya punya alasan lewat jalan itu: lebih cepet dan nggak pake macet.
30-45 minutes for Bekasi-Kelapa Gading.

Bayangin kalo pagi-pagi menuju Gading, lewat jalan yang “semestinya”, bisa kena 60 sampai 90 menit sampai kantor. Gile!

Seminggu pertama saya lewat jalanan itu, saya merasa merdeka dari macet. Hemat waktu. Asiklah.

Sampai saya tahu kalau ada cerita dari teman saya yang tinggal dekat jalanan itu kalau…

Jalanan itu (katanya) minta tumbal.

JENG JENG JENG

Percaya? Hmm…
Saya sih nggak gitu percaya ya… hmm, bahasa apa ya yang paling tepat… tapi menurut saya kata “tumbal” kok gimanaaaaa gitu…

Menurut teman saya, di jalanan itu sering banget ada kecelakaan lalu lintas parah yang bahkan sampai merenggut nyawa. Karena (katanya) terlalu banyak mobil-mobil berat yang lewat sana.

Keberanian saya langsung kendor. Saat itu juga.

Sampai seminggu kemudian, saya masih berkendara lewat situ, tapi dengan suasana hati yang beda. Saya deg-degan parah tiap lewat situ. Saya ngeri. Saya mengucap doa, tapi degupan jantung saya nggak biasanya.

Seminggu seperti itu.

Rasanya takuuuuuut mulu lewat situ.

Sampe akhirnya saya capek sendiri dengan rasa takut itu. Saya capek deg-degan dan mikir yang enggak-enggak. Faktanya, ketakutan itu yang ngerusak fokus. Saya jadi ilang fokus karena pikiran penuh dengan “takut kecelakaan”.

Saya malah akan lebih dekat dengan kecelakaan, kalau di otak saya hanya berputar “takut kecelakaan”. Sementara saya akan tenang dan fokus, kalau saya safety riding dengan pikiran positif. Kalaupun (naudzubillahimindzalik) terjadi sesuatu, itu karena takdir, bukan karena tumbal.


Akhirnya saya berkesimpulan, kalau safety riding adalah nomor satu.

Tips berkendara bagi perempuan a la saya…

1. Minta izin orang tua saat pergi, cium tangan, ucapkan salam. Berikan kesan yang baik sebelum pergi.

2. Berdoa berdoa dan berdoa!

3. Pergi dengan niat baik dan positif

4. Pakai jaket yang tebal, untuk menghalau, menangkis dan meminimalisir angin yang berhembus (halah bahasanya)


5. Sebisa mungkin berpakaian sesopan mungkin (untuk perempuan). Jaket, celana panjang, no legging/pakaian yang mencetak tubuh, tas/benda pribadi yang mengundang perhatian. 

Kalau memang mau pakai baju yang macem-macem, bawa baju ganti ataupun didobel. Ini jauh lebih oke daripada maksain pake yang mini-mini. Udah aneh, jadi bahan godaan abang-abang pick up.
Untuk tas, kalau nggak bisa di selempang, (kalo saya sih)sebelum ditaro di tempat kaki (biasanya ada di motor-motor matic) mendingan dibungkus plastik dulu. Cuek aja, nggak ada yang kenal ini. Siapa juga yang nggak punya kerjaan di jalan, ngeliatin gaya pakaian kita di motor?

6. Inti dari nomer 5 sih, jangan memakai/memperlihatkan sesuatu yang jadi perhatian orang. Sebagai pengendara perempuan, penting banget nih.

7. Jangan lupa pakai slayer penutup mulut+hidung, sarung tangan, dan kaos kaki+sepatu. Selain melindungi tubuh dari debu dan matahari, kalau “sesuatu” terjadi, yang sobek duluan adalah sarung tangan dll dulu, bukan kulit kita.


8. Kalau menemukan sesama pengendara yang “obsesi” banget nyalip kita, kasih aja. Kasihanilah mereka karena mereka memendam sesuatu di balik belakang celananya, dan harus segera dikeluarkan (baca: kebelet buang air). Alon-alon lah.. Sikap mengalah kan bukan berarti kita lebih lemah... Tapi kalo memang ada yang ngeselin bahkan kurangajar karena kita perempuan, boleh loh ngegertak balik. Emang kita cewek lemah?

9. Selalu berikan hak pengendara lain, dan pejalan kaki yang jalan maupun nyebrang. Jalanan bukan punya engkong kita aja, engkong mereka pun bayar pajak jalanan.


10. Jangan lemah. Ketemu polisi yang tilang sembarangan, umbar muka (sok) berani dan jangan takut kalo memang kita nggak salah. Pegang terus prinsip! Merdeka!

11. Terakhir. Pastiin dulu kita punya motornya. Plus STNK dan SIM. seumur-umur SIM saya blom pernah dipake loh… hehehe

Jadi, nggak ada salahnya untuk perempuan jadi pengendara motor. Cewek kan nggak selalu kaku, manja, dan hanya mau “the finest thing”. Sebagai perempuan harus mandiri dan fleksibel. Yang penting, safety riding harus banget selalu dilakuin. Okay, Hati-hati di jalan, dan nikmati perjalanan selagi masih ada hal menyenangkan dan manfaat di dalamnya! Dadaaahhh…



(ditulis dalam rangka ikut memeriahkan ulang tahun kedua dblogger)  :)

9 komentar

waah, mantap ni
hidup FLORA :)

REPLY

setuju! siapa sih yg gak ingin selamat di jalan? jd, ayo dukung safety riding!
okay, silahkan kunjungi pula postingan sy ttg ESQ for Safety Riding, di:
http://jimat.blogdetik.com/2011/01/10/esq-tips-for-safety-riding/
ditunggu komentarnya.
salam erat dblogger!

REPLY

Lengkap banget tips berkendaranya, ngomong-ngomong SIM nya apa nggak pernah dibawa?

Semoga sukses di lomba blogger detik ya. saya juga ikutan di posting saya yang ini: http://lovejember2011.blogdetik.com/safety-riding-dari-paksaan-menjadi-kebiasaan-akhirnya-menjadi-kebutuhan/


Salam

REPLY

Bagus mbak ceritanya. Kayaknya pengalaman yang menyenangkan tu tipsnya juga bagus..
kunjungi juga blog saya di tunggu komentarnya.
http://thimits.blogspot.com/2011/01/tips-berkendara.html

Semoga sukses selalu

REPLY

mas budi: dibawa dong.... setia di dompet, tapi agak males diliat, muka di foto agak mengenaskan :D

mbak thimit: makasih banyak mbak... sukses ya...

REPLY

biasanya kalo lagi kebut2an sama temen, dan tiba2 liat orang2 berkerumun di sekeliling korban kecelakaan di tepi jalan, kami langsung bawa motor pelan2...


tapi abis itu ngebut lagi. hahaha..

REPLY

5. Sebisa mungkin berpakaian sesopan mungkin (untuk perempuan). Jaket, celana panjang, no legging/pakaian yang mencetak tubuh, tas/benda pribadi yang mengundang perhatian.

Saya paling suka tips yang ini.
Rata-rata korban kekerasan di jalanan bermula dari dandanan yang menarik perhatian pelaku kejahatan.
Tak Care on Riding :D

salam
yudi

REPLY

betul... makanya sebisa mungkin jangan mengundang perhatian, yang biasa-biasa aja... makasih yudd :)

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates