28 Januari, 2012





Boleh teriak? Boleh? Uwyeaaaaaa!!! Akhirnya kesampaian juga ke Bromo! 18 jam perjalanan dengan kereta ekonomi Matarmaja, Pasar Senen – Malang. Akhirnya saya nyampe Malaaang!!! Nyampeeee!!! Tiba di Stasiun Kota Baru Malang jam 8 pagi, langsung antri toilet stasiun buat sikat gigi-cuci muka. Perlu antri lumayan lama, hingga akhirnya bisa mencelupkan diri kedalam air. Ouchhh… lucunya mbah-mbah pemilik toilet. Ketika narikin bayaran, dia akan bertanya dengan suara pake toa: “TADI APA? BE*L??”. “iya bu”, jawab si pengguna wc dengan suara dipelan-pelanin seperti menutupi aib. “OOOOHHH BE*L…. BERARTI 2000 KALO BE*L…….!!!!!!”. Hancur sudah pencitraan si mas-mas necis yang masuk WC pake kacamata item.

Karena kita pergi menggunakan paket wisata, jadi soal penginapan dan transportasi, sudah ada yang atur. Saya pergi bareng Asmi, Kiki dan Septya, dengan total rombongan 60 orang. Dari stasiun Malang, kita jalan-jalan dulu ke pantai Balekambang, Malang, dan baru tiba di pemukiman Suku Tengger sekitar jam 11 malam.

Perjalanan menuju pemukiman suku Tengger ini agak bikin deg-degan. Malem, gelap, nggak bisa lihat apa-apa. Yang saya tahu, ada hutan dan jurang di kiri kanan jalan. Bapak driver Elf-nya bilang “hati-hati lihatnya, mbak.. kalau ada yang dilihat, santai aja ya…”. Beuh. Saya langsung meniduri mata saya, daripada lihat yang aneh-aneh. Ketika saya bangun lagi, ada banyak cahaya keemasan yang berkilat-kilat. Apa ya? Kok bagus banget? Saya penasaran, sambil lihat kanan-kiri (belagu… padahal aslinya serem juga), tapi itu pemandangan bagus banget. Perjalanannya, wow! Banyak banget tikungan tajam yang bikin otak berfikir… “ini dimana? Jangan-jangan gue diculik dan dilarikan ke kaki gunung!”. Bodoh sekali ya, kan memang sedang pergi ke gunung!


Setelah tidur 4 jam, kita dibangunin untuk siap-siap pergi ke Pananjakan. Saya tidur di homestay milik warga Suku Tengger. Rumahnya bagus, bersih, rapi dan lengkap. Seriusss, kamarnya enak, spring bed dengan bantal guling empuk, rumahnya ada tv, sofa, dapur, kamar mandi luas, nginep setaun juga nyaman lah! Udaranya dingin banget, dan saya baru sadar, jaket saya rusak resletingnya. Udah dingin seada-adanya, saya dobel celana, dobel kauskaki, dan memberdayakan semua jilbab buat jadi syal. Bodo lah kalo warna nggak matching, atau terlihat aneh.
Jam 4 pagi, tempat parkir di pemukiman suku Tengger sudah banyak orang. Dari sana, kita naik mobil Jeep menuju Pananjakan. Nggak sampai 30 menit kita sudah sampai. Sudah ada deretan mobil Jeep lain di parkirannya. Kurang beruntungnya, baru beberapa langkah jalan, sesak napas saya kambuh. Untungnyaaaa… jalannya nggak jauh dan saya bisa nutupin muka grogi saya. Eh, sesek napas kok grogi. 
 
Saya berdiri di pagar pembatas. Menghadap hamparan kabut yang menutupi gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru. Rasanya Subhanallah banget berdiri disitu, membayangkan saya akan melihat lukisan alam yang sebelumnya cuma bisa saya lihat di kalender gratisan. Pikiran saya:  “Get ready, Flo… you will see one of the greatest scenery on earth, in a minute!”. Tapi… setelah ditunggu… Sunrise nya nggak muncul. Hanya hamparan kabut di depan mata saya. Hmm… tapi nggak apa-apa. Bisa sampai disini aja, saya sudah bersyukur banget. Mungkin ini artinya, saya harus balik kesini lagi lain waktu!


Selesai di Pananjakan, kita balik lagi ke parkiran untuk ke gunung Bromo. Saya sempet curi waktu buat makan bakso malang. Ketika kuah bakso yang panas mengepul dituang ke mangkok, dalam hitungan menit, kuahnya udah anyep. Hahaha. Pas mau bayar. Saya: “Pak, piro? Pangsite papat, tahune telu, mine siji”. (sadeyyysssss bahasa gueeee). “ro ngewu mbak!”, kata masnya. Hah? Dua rebu? Ahhh inilah yang saya suka dari Jawa Timur…. Harga makanan ‘pinggir’nya ramah di kantong!



Dari situ, lanjut kita ke Bromo. Perjalanannya? Mantep! Banget! Pemandangannya pun super keren. Beberapa kali kita bilang ke mas Dharma, sang driver Jeep yang agak tampan (eh?) supaya hati-hati. Tapi dia santai banget bawa mobilnya, ibarat lagi lewatin tol JORR jam 12 malem, padahal, kita lagi ada di jalan menanjak menurun menikung dengan sisi  jurang dan tanah rawan longsor. Mas Dharma ini sangat terbuka ditanya apapun tentang Bromo dan Tengger. Saking sopannya, setiap kali kita tanya sesuatu, dia akan jawab sambil nengok menghadap wajah kita, tapi tetap sambil nyetir. Luar biasa. 


Jalanan menuju Bromo nggak semuanya mulus. Bahkan ada beberapa titik dimana ada bagian sisi jalan yang ‘mencelos’ alias longsor dan bolong. Mas Dharma sih santai, tapi jantung kita udah pada joget TNI. Ketika AKHIRNYA perjalanan roller coaster itu berakhir di hamparan pasir, perjalanan malah makin seru karena banyak bagian pasir yang ‘ambles’. Seru banget!

 Mas Dharma, itu tuh yang jaket merah


Dari parkiran, saya jalan kaki menuju kaki gunung. Saya jalan sendirian, dan nggak tahu temen-temen saya dimana. Di titik ini, saya menemukan the best part of this trip. Saya selalu suka bagian ketika saya jalan kaki sendirian…. Jalan… lurus…. Sendiri…. Entah kenapa, dimanapun saya jalan kaki sendirian dikelilingi tempat yang indah, saya seperti lagi ‘ngasih makan’, dan manjain hati saya sendiri. Nggak mikirin siapapun, apapun, berkata apapun…. Cuma jalan kaki, dan momen itu cukup untuk jujur-jujuran. I use my heart, that always give me a clearer view than the naked eyes and the logic can do :) Ahhh… susah dideskripsiinnya :)


Sampai di kaki gunung, eh ketemu Asmi, Kiki, Septhya dan Angga lagi. Hihi. Jalannya pasir menanjak, dengan banyak lubang dan banyak kuda berlalu lintas beserta kotorannya menghampar. Kalo itu di Jakarta, mungkin udah ada lampu merah khusus kuda kali yah. Di tengah jalan, saya ditawarin naik kuda sampai bawah tangga menuju kawah, harganya Rp.20.000. lucu banget, nanjak sambil enjot-enjotan di atas kuda. Akhirnya sampai juga di kawah gunung, dengan agak-agak dibantuin Angga yang standby di depan saya. Harus super hati-hati jalan di pinggir kawah, karena nggak ada pembatas apapun. Saya cuma sekitar 15 menit disitu, karena, ngeri cing! 

sarung tangan sebelah kanan tak tau dimana rimbanya...



Buat turunnya, banyak yang ngesot di pasir. Iya, ngesot, melorot turun. Ada juga yang ala-ala main ski di salju, dengan tumpuan tumit berdiri merosotin pasir. Itu keren banget kelihatannya. Saya sok mau coba. Udah duduk di atas pasir, siap berdiri buat merosot turun, ehhhh, saya malah ngeri. Tinggi banget! Akhirnya balik lagi ke tangga dan jalan turun seperti biasanya. Hehe…



Di perjalanan pulang, mas Dharma cerita soal totalitas warga Suku Tengger dalam menjaga alamnya. Hampir nggak ada warganya yang pindah ke kota lain atau malahan  jadi orang ‘Jakarte’, semuanya akan kembali lagi membangun kampung. Menurutnya, alam Bromo ini luar biasa kaya, nggak ada habisnya mencari makan disini. Kenapa harus cari uang di luar?


Jalanan menuju Bromo pun dibuat swadaya oleh masyarakatnya. Baru akhirnya, ada pihak pemerintah yang membantu perbaikan jalan. Di sana, hanya orang lokal Tengger yang bisa bangun homestay ataupun punya Jeep sewaan, itupun jumlahnya terbatas. Dari tarif sewa mobil/rumah yang didapat, selalu ada sekian persen yang harus diberikan pada Paguyuban.
Oh ya, mereka nggak mengizinkan investor/orang luar membangun asetnya di sana. Sungguh cara yang cerdas supaya warga asli nggak diinjak-injak di tanahnya sendiri! Mereka yang membangun dan menjaga. Kontras ya sama daerah lain, yang di tanah kelahirannya sendiri pun, akhirnya harus takluk dengan gila nya pembangunan dari kantong orang asing. Dimana orang harus jadi pengangguran, PRT, dan buruh dengan gaji prihatin, di tanahnya sendiri, yang sudah jadi milik “orang lain”. Edan.





By the way… perjalanan ini bikin saya senangsekalih… walaupun saya kecewa dengan pihak organizer, yang tidak total meng-organize. Yang seharusnya kita pergi ke 4 lokasi, mengerucut jadi Cuma 2 tempat aja. Alasannya, karena lokasi Coban Pelangi yang nggak bisa dilewati mobil elf (memangnya… nggak survey dulu?). Atau lokasi pasir berbisik yang dibilang kurang kondusif. Yang saya rasa sih, memang terlalu banyak waktu yang kebuang percuma buat hal-hal yang nggak perlu. Plus, ada kekacauan bahkan saat duduk di kereta. Oh Mannn!! They are not that ready and serious to handle their clients. Pergi sendiri tanpa “jasa” ini rasanya akan jauh lebih murah dan NAMPOL. Hehehe :). But as a friend, they are, the organizer team, such a great buddies for me :)

But I thank God; finally I have arrived at Bromo. Feel the ambiance, the magical scenery and creature, feed my eyes and also my heart and soul with an unexplainable things and feelings…. That was priceless. Alhamdulillah…
 :)
:)


*foto-foto diambil dari kamera sendiri, ponsel, punya Riefky, Dimas, dan dokumentasi Smartrip Community

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates