07 Februari, 2012




Karena harganya yang murah dan merakyat, buat sebagian orang, kereta ekonomi jadi last option kalo emang nggak ada alternatif yang lebih baik. Panas, berisik, rawan copet, dan yang paling penting, lama. Ayo, ada yang mau nambahin?

Dari cerita beberapa temen yang rutin naik kereta ekonomi ke luar kota, naik kereta ekonomi itu (sepertinya) bikin sengsara. Terbukti dengan ketika saya sms begini.

Flora: Woi, lagi di Bekasi ya lo? Maen dong!
Dia: Besok aja ya Flo, gue pengen ngelurusin badan dulu…

Nah, apa hikmah dan intisari yang bisa kita petik dari fabel di atas? Iyak, betul, menempuh perjalanan naik kereta ekonomi sama saja dengan membiarkan tulang belulang serasa dilipet dalem map trus map nya diselipin di antara ketek. Ngepres dan lecek.

Okay. Lalu bagaimana ketika saya (akhirnya) merasakan naik kereta ekonomi?
Whoa.
Kayaknya bakal bombastis ya? Coba gitu siapkan mental anda agar kuat mendengar kenyataan bahwa… naik kereta ekonomi itu….
....
....

Seru juga.
Iya, I mean, gak jauh beda sama naik kereta bisnis.
Sekarang kereta api ekonomi sudah memberlakukan sistem nomor duduk seperti kereta bisnis dan executive. Jadi nggak ada lagi deh tuh yang namanya tiduran di koridor jalan atau di kolong bangku. Yaa boleh aja sih, kalo emang di dalem kereta api ada yang inisiatif main petak umpet dan gobak sodor.

Pengalaman naik kereta ekonomi saya yang pertama ini naik KA matarmaja, jurusan Pasar Senen – Malang dengan tarif Rp.51.000. Waktu tempuhnya pun mirip-mirip antara Jakarta – Timbuktu, 18 jam. Beneran mennn, 18 jam! Berangkat dari stasiun Pasar Senen jam 2 siang dengan cuaca ekstra hot (mirip sambel). Siap-siap kipas deh, dan kipanya mesti yang aduhai ya, bukan kipas souvenir kawinan yang anginnya malu-malu.

Terlalu banyak tukang dagang wara-wiri, mulai dari dagang kopi, nasi, baju batik, kupluk, pengamen dan lainnya. Nggak kuat iman, saya jadi malah belanja. Hehehe. Saya sengaja nggak banyak minum, biar nggak sering-sering kebelet. Tapi ujung-ujungnya, 2 jam sebelum sampai, saya malah cuci muka+sikat gigi di kamar mandi itu. Hehehe.

Saking banyaknya tukang dagang, saya jadi punya hobi baru, yaitu perhatiin intonasi dan cara si tukang dagang jualan. Dalam setengah jam, tukang dagang yang sama bisa mondar-mandir 3 kali. Lucunya, ada ibu-ibu yang jual banyak buah, mulai dari anggur, salak, manggis, pepaya, dan jeruk. Lalu dia mengucapkan jualannya dengan runut dan cepet, “anggur salak manggis pepaya jeruk manis seger”, gituuu terus ngomongnya. Sampe hapal banget, seperti akan keluar dalam soal ujian.

Urusan tidur juga lucu. Saya duduk sama temen-temen saya, Asmie, Kiki dan Septia. Berhubung Asmi dan Kiki perawakannya tinggi, mereka butuh space lebih buat meletakkan se-onggok kaki mereka. Karena emang temenan dan nggak canggung lagi, selama perjalanan kita heboh melakukan adegan tidur freestyle. Dari mulai kaki Kiki di kolong eh tau-tau kakinya ada di sebelah muka saya, sampe saya yang ngerasa bokong saya sudah membentuk lapisan alumunium saking pegelnya. Dan tidur dengan posisi jongkok dan nungging ternyata bisa dipraktekkan di atas kereta. Oh ya, pastikan yang di sebelah dan depan anda adalah temen sendiri. Nggak kebayang kan, kalo depan dan samping kita orang yang nggak dikenal. Tidur dengan cara demikian pasti memancing penumpang lain buat jorokin kita keluar lewat jendela sambil bilang “rasain lu!”.

Pas pulang, ketiga teman saya naik kereta Argo Bromo Anggrek. Saya pulang sendiri tanpa mereka naik ekonomi lagi sampai Semarang. Depan saya adalah dua orang ibu-ibu, dan owkai, saya harus lebih sopan dong. Dan perjalanan itu terasa membosankan dan menyebalkannnn, karena kaki saya harus tetap dibawah tanpa bisa nungging-jongkok-angkat kaki-kayang seperti waktu pergi.

Tapi… look at the bright side. Saya malah jadi kenalan sama orang yang duduk sebelah saya, seorang mahasiswa Paramadina asal Blitar. Yang akhirnya saya tawarin dia makan bakpau dan dia bilang “nggak ada racunnya kan mbak?”, “oh, enggak lah, tampangku alim gini masa ada racunnya. Enak kok itu, isi daging babi”. Lalu saya dihadiahi tatapan ilfil. hahaha.

Ada juga bapak-bapak yang -kalo gak salah- jualan rempeyek, keripik pisang dan keripik belut. Dia bilang “leli-ripik-enya-enak-lole-lole” dengan sangaaat cepat. Bengonglah saya. Sampe akhirnya saya nanya ke sebelah saya, si mahasiswa itu, “eh, bapak itu jualan apa sih?”. Dia bilang “lho, mbak nggak tau? Itu lho, beli keripik renyah enak buat oleh oleh!”. Hahaha. Kitapun ngakak. Pas pedagangnya lewat, kita mesem-mesem nahan ketawa, iya, ditahan, abis ibu-ibu depan saya ngeliat kita dengan pandangan aneh.

Jadi saudara, ternyata naik kereta ekonomi itu nggak se-merana itu kok. Bisa jadi alternatif transportasi buat liburan bareng temen-temen dengan budget ngepas. Paling asik kalo pergi rame-rame dengan nomor duduk berhadapan, jadi selama berjam-jam kita nggak perlu jaim atau rempong sama kelakuan orang yang duduk depan kita. jangan lupa pegang terus barang berharga ya, jangan lengah. Tapi tetep, naik kereta ekonomi (saat ini) sudah lumayan nyaman. Terasa wajar dan nggak “sebegitu parahnya”. So, markitnaketek, mari kita naik kereta ekonomi!


1 komentar:

tq sharenya :)
sangat bermanfaat buat saya yg setengah bulan lagi bakalan naik KA ekonomi dari Jakarta ke Malang..

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates