11 Maret, 2012



Hmm, lagi semangat banget cerita tentang Rumah Cokelat! Gimana enggak, lha wong novelnya aja baruuu aja selesai dibaca. Kalo lihat genrenya “MomLit”, tentunya ini novel tentang keluarga, tentang ibu muda. Belum, saya belum jadi mama-mama, but mostly, I love this book! 

Rumah Cokelat bercerita tentang sebuah keluarga kecil terdiri dari Wigra, Hannah dan anaknya Razsya. Sang ibu, Hannah, tipikal ibu muda jaman sekarang banget, punya pekerjaan bagus, up to date sama fashion, lifestyle yang masa kini, tapi juga obsesi nabung buat sekolah Razsya serta kehidupan mereka dan kebutuhannya.

Hannah merasa sudah menjalankan profesinya sebagai seorang ibu, dengan mencukupi kebutuhan Razsya. Memberinya mainan, plus ngasih sederetan peraturan buat dijalankan pengasuh anaknya. Di saat tuntutan kerjaan dan gaya hidupnya makin tinggi, Hannah merasa desperate sebagai seorang ibu. Anaknya jadi lebih dekat dengan pengasuh. Razsya bahkan lebih dekat dengan pengasuh dibandingkan ibunya. Ironi. Beruntung Hannah punya Wigra, sosok superhero yang jadi tipe idaman para gadis ranum: sabar, positive thinking, religius, kalem, family-man, ganteng, dengan otak yang pintar dan pekerjaan yang bagus. Perfect. Mereka berusaha banget bangun keluarga yang bahagia dan berkecukupan (tak hanya materi, tapi pendidikan, moral dan tentunya… kasih sayang). Nggak gampang memang.

Membesarkan anak jadi seperti yang diharapkan juga nuntut kedua orang tuanya belajar. Mau berubah, memberi contoh yang bener dan layak.  Gimana bisa kita ingin anak ngomong yang sopan, kalau kita malah ber-gue-elo di depannya, bicara membentak ataupun berkelakuan buruk? 

Hannah si wanita karir kerepotan dengan segala tetek-bengek urusan rumah tangga, dan urusan Razsya yang sulit dia kenali. Yea! Begitukah potret keluarga modern zaman sekarang, saat anak-anak bahkan bermain dan berkembang bersama baby sitter. Ketika ibu-ibu tak bisa lebih dari satu jam benar-benar bersama anaknya, tanpa mengintip Blackberry, asyik baca majalah fashion ataupun sibuk dengan laptop? 

Sempat hadir “pengganggu” kecil di kedua sisinya, mulai dari Hanna yang dikejar Banyu, juga Ara, mantan pacar Wigra dan Olivia Chow, rekan kerja Wigra. Huhuuuuw… agak bergidik membayangkan realita kalau hubungan itu kalau nggak dimaintain dengan sangat-sangat rapi, mudah banget retak dan hancur. Apalagi kalau pertanyaan seperti “memangnya kalau sudah menikah nggak bisa senang-senang lagi?” itu diartikan berbeda. Buku ini bikin gue sering nelen ludah. Glek! Begini ya pernikahan?

I love this book. Tutur bahasa Sitta Karina sangat ringan, sehari-hari banget dengan setting yang membumi dan nggak muluk. Konflik ibu-anak tentang pola asuh yang beda zaman juga menarik dan so real. Hehehe. Terlebih, banyak pelajaran tentang hubungan dan komitmen. Gue merasa sebagai  perempuan –sekalipun masih sendiri, ya bok!- belajar dan mencari tahu itu perlu banget, apalagi tentang pernikahan. Sebuah komitmen yang tak main-main. Rentan. Riskan. Gue tidak seberani dan se-pede itu masuk dalam proses dan lingkarannya dengan modal otak kosong dan bilang “liat aja entar”. No way!. Novel seharga Rp.38.000 ini beneran worth to buy buat para ibu muda, atau cewek-cewek muda macemnya kita ini. *cieee*

“Jagain ibu ya, Nak. Hormati perempuan. Kalau nanti Razsya sudah besar dan mau berbuat seenaknya ke perempuan, ingat Ibu. Menyakiti mereka sama dengan menyakiti Ibu.” -Wigra-


“Jaman sekarang esensi keluarga sudah ‘kopong’. Kalau sudah berkeluarga tapi masih pergi sama teman-teman melulu itu berarti elo alien di antara keluarga elo sendiri. Atau elonya kesepian. Dan yang paling menarik, kalau elo nggak bisa bermain sama anak elo sendiri lebih dari sejam dan prefer untuk nyuruh nanny menggantikannya, you’re not ready for family.” -Banyu-

“Elo menganggap enteng konsep pernikahan dan keluarga, dan berpikir semua orang akan berpikiran yang sama kayak elo. Memangnya gampang mempertahankan semua itu?” -Hannah-

“Sekarang ini kebanyakan pasangan orientasinya menghindar dari masalah, sih. Bukannya menyelesaikan masalah. Pilihannya Cuma dua, mau diselesaikan atau tidak. Untuk dapat menyelesaikannya, kita butuh niat untuk benar-benar menyelesaikan-serta komunikasi.” -Wigra-


***

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates