11 Maret, 2012



Pertama kali kenalan dengan tulisannya Tere-Liye, saya ilfeel. Novel diskonan G**media yang saya beli, The Gogons, jayus berat! Deretan novel karya Tere-Liye pun nggak pernah saya kunjungin kalau lagi di toko buku. Apalagi judulnya yang terlalu ‘puitis’.  Tiba-tiba bulan Februari kemarin, Esti, temen saya kasih novel karangan Tere-Liye, judulnya “Sunset Bersama Rosie”. Ternyata…. Novel ini keren! Sukses banget bikin saya nangis dengan airmata sederas arus sungai Citarik.

Ceritanya mengenai Tegar, seorang pemuda dewasa yang punya sahabat sejak kecil bernama Rosie. Perasaan Tegar ke Rosie sangat dalam, benar mencintainya dan amat ingin bersatu. Saat melakukan penanjakan di Gunung Semeru, Tegar berencana untuk menyatakan perasaannya. Sayangnya, di momen itu dia malah mendapati Rosie ditembak oleh Nathan, sahabat Tegar. Tak lama, mereka menikah.

Tegar, yang belum sempat menyatakan perasaannya, memutuskan untuk pergi menghilang dari Rosie. Ia begitu sedih, hatinya runtuh. Pindah dari Gili Trawangan dan bermukim di Jakarta, dan bekerja sekeras ia bisa, untuk lupakan Rosie. ‘Jarak’ antara Tegar dan Rosie hanya bertahan 5 tahun, dan setelahnya Tegar malah jadi sahabat suami isteri itu dan keempat anaknya, Anggrek, Sakura, Jasmin dan Lili. Tegar juga sudah selangkah lagi menikah dengan gadis bernama Sekar. Everything looks perfect.

Malam sebelum hari pertunangannya, -seperti biasa- Tegar melakukan Video Streaming dengan keluarga Nathan. Obrolan Jakarta – Jimbaran itu berlangsung seru dan hangat, bertepatan dengan ulang tahun perkawinan ke 13. Again, everything looks so perfect.

Namun ternyata, takdir bilang lain. Tiba-tiba saja, kejadian itu terjadi. Bom Bali. Terjadi persis di restoran tempat mereka duduk. Seketika cerita indah itu terhenti. Tanpa pikir panjang, Tegar –di malam sebelum pertunangannya- langsung pergi ke Bali. Semua hancur, tangan Sakura patah, dan… Nathan tewas. Rosie terguncang hebat dan harus dibawa ke tempat rehabilitasi mental. Semuanya berubah.

Nathan yang tewas dan Rosie yang tak stabil, membuat Tegar harus mengambil alih peran orang tua bagi keempat anak Rosie dan Nathan. Dua tahun Rosie di tempat rehabilitasi, dan selama itu juga Tegar bermukim di Gili Trawangan, tempat keluarga Rosie tinggal yang juga kampung halaman Tegar. Ia besarkan anak-anak yang sungguh pintar dan menakjubkan itu higga tumbuh menjadi anak-anak yang membanggakan. Ia begitu larut dengan “hidup baru” nya, sampai akhirnya ia lupa bahwa ia punya janji kehidupan bersama Sekar. 

Dua tahun berlalu, Rosie akhirnya dinyatakan sudah sembuh. Tegar bimbang. Awalnya, ia selalu bilang pada Sekar jika ia akan kembali ke Jakarta ketika Rosie sudah sembuh. Namun ketika Rosie pulang, hubugannya dengan Sekar bahkan sudah berantakan. Tegar juga sudah lengket dengan Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lili, menjadi om, uncle dan paman mereka yang keren dan hebat. Apakah Tegar masih harus memenuhi janji kehidupannya dengan Sekar? Atau malah memanfaatkan ini sebagai "kesempatan kedua" mendapatkan Rosie? (cie, gaya nya ibarat ringkasan cerita snetron).

DANG! Begitu banyak kejadian yang bikin air mata saya meleleh seperti sekilo mentega yang diletakkan di wajan panas. Tegar yang susah payah kembali “hidup” setelah Rosie menikah dengan Nathan, Nathan yang tewas, Rosie dan keempat anaknya yang kehilangan sosok suami dan ayah, serta Sekar dengan harapannya yang tak kunjung terwujud. Have you ever imagined if that happened to your life? Sedih, banget.

Memang ada beberapa hal yang terasa kurang real. Tentang bagaimana Jasmine yang baru 5 tahun begitu sigapnya mengurus Lili yang usianya 1 tahun, bahkan sudah seperti ‘ibunya’ sendiri. Itu kok terasa tidak mungkin ya? Plus ada penggambaran lain yang menurut saya… agak lebay dan terlalu didramatisir. But overall, I love this book. Recommended buat yang suka novel ‘agak’ mikir bertema cinta dan keluarga. 


"aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain waktu." Tegar, hal.79

"Bagi anak kecil, perjalanan pulang memang selalu menyenangkan. Tidak menduga-duga banyak hal, tidak mendendang kecemasan, prasangka dan entahlah. Hanya pulang. Bagi orang dewasa, perjalanan pulang seperti ritual suci yang penuh perhitungan." hal. 118.

"Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya." Oma, hal. 157

"Anak-anak harus belajar berdamai, bukan melupakan." Tegar hal. 167

"Dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibanding atas apa-apa yang kau kerjakan." Oma, hal. 171

"Percaya atau tidak, membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat dibandingkan kalau aku benar-benar tiba di sana. Semua itu akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat seperti yang kubayangkan. Apakah dunia memang begitu? kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya." hal.403

"Kalian berdualah yang justru tidak pernah berani membuat kesempatan itu. betapa tidak beruntungnya. kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatn itu kepada suratan nasib." Oma, hal. 409

2 komentar

pinjem dong bukunya :D

REPLY

Kalo the gogons nya nggak suka boleh saya beli? Hehe kebetulan lagi cari :)

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates