22 Mei, 2012


Gue sadar betul kalau segala bentuk hubungan manusia akan ada on-off dan bahkan berujung. Alasannya, kematian, memisahkan diri secara sadar, ataupun yaa pergi gitu aja.

Alasan ketiga itu yang kini menyetani gue. Ketika seorang teman yang menurut gue sangat dekat, amat dekat, bangun pagi-pagi *nyasar ke lagu anak TK* tiba-tiba berasa sangat berjarak.

Mungkin memang benar jika diistilahkan, kesenangan baru akan mampu menggeser keriaan lama. Yang bahkan saat ada di sebuah comfort zone yang baru di angkat dari kompor dan masih  on fire, dan orang itu bukanlah bagian dari kenyamanannya. Ujungnya.... kadang sikap dan ucapan jadi tidak diatur.

Gue jadi inget beberapa masa-masa tersulit gue dan dia, kita saling ada. Bahkan gue tidak punya alasan lagi untuk anggap dia orang lain, karena gue rasa kita nih BFF abeys *gaul kan..*

Lalu, masa-masa ini ada -lagi-. Dimana kita sibuk dengan kehidupan masing-masing tanpa libatkan satu sama lain. Dan gue seperti ada di dalam angkot yang tiba-tiba di laju pelannya mengerem mendadak dan nggak jalan lagi. Kemudian bukannya pindah angkot, gue malah jalan kaki tanpa berhentiin kendaraan lain. Hmm entahlah ungkapan itu nyambung atau enggak.

Oke, cukup dangdutkah postingan gue ini? Bagi gue, keluarga, pasangan dan teman dekat selalu punya posisi. Mereka seperti 'rumah tempat gue pulang', secapek apapun hari itu, dengan siapapun gue berbaur, bagaimanapun perubahan-perubahan yang gue alami dan siklus apa yang gue jalani, posisi itu Insya Allah nggak berubah (kecuali karena hal-hal fatal).

Gue rindu dengan momen bodoh yang nggak bisa lagi gue rinci di bertahun-tahun pertemanan. Lalu kenapa kita bisa se-jauh ini dengan alasan yang sebenernya nggak ada? Dan sekarang gue bahkan hanya bisa menyimpulkan singkat sebagai silent reader sebatas 140 karakter Twitter, menyimak jika mungkin banyak progres hidupnya yang nggak -lagi- gue tau. Yea, ini hanyalah faktor keterbiasaan untuk memahami fase cepat suatu perubahan. Dan lagi-lagi, gue masih lambat dalam proses itu, belum bisa melaluinya sambil lalu.

1 komentar:

untuk gue : 140 kata itu... gak cukup untuk menggambarkan apa yang ada di ujung tenggorokan, yang di/ter-tahan tuk diluapkan.

untuk gue : 140 kata itu... bisa jadi lobang bahkan bom waktu kalau gue/ orang lain salah menafsirkan arti/ maksud yang sesungguhnya.

untuk gue : 140 kata itu... sebenernya bukanlah hal yang mudah tuk dirangkai (bunga kali ah), dimana harus memotong puluhan, ratusan bahkan ribuan kata dari sebuah kisah seru menjadi 140 kata.

dah ah 140 kata-nya...

walopun gak se-tema dengan apa yang nengflora tulis, walopun bukan ngomentarin apa yang nengflora tulis, dan yang lebih parah walopun apa yang gue ketik gak jelas. yang penting eksis.. hehehe

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates