04 November, 2012


Lontong kari ini jadi comfort food di Bandung. Di mana-mana adaaa aja penjual lontong kari. Yang ini lontong kari yang dijajakan di area Gedung Sate, Bandung. Harganya? Kalo di tempat lain sekitar Rp. 5.000 saja seporsi, di sini Rp. 12.000 sodara-sodara! Prinsip opportunity cost berlaku. Faktor apa ini? Apa muka kita yang tampak tajir? Oh btw, seporsi lontong kari yang saya cicip ini porsinya pas, kalo enggak mau dibilang dikit. Rasanya enak, paduan lontong lembut, kuah yang gurih, topping sayuran dan ayam, ditaburi dengan bawang goreng dan kerupuk. Enak banget nih!



Yang ini bubur ayam di depan Gedung Sate juga. Kaget juga sih ya, kok disajiinnya pake piring, bukan mangkok. Seporsinya terdiri dari bubur yang lembut dan gurih, plus suwiran ayam, kacang kedelai, bawang goreng dan kerupuk. Plus ada hati dan ampela ayam di tengahnya. Porsinya agak pelit kalo nggak mau dibilang dikit (ya sama ajaaa). Harganya? Rp. 12.000 juga sodara... Agaknya karena ada di lokasi trademarknya kota Bandung yang banyak dikunjungi orang luar kota, untuk kelas makanan pinggir jalan 'biasa', harganya agak tinggi. Yang makan juga kebanyakan mobil berplat B a.k.a orang Jakarta. Padahal, kita orang Bekasi (*penjelasan). Adik saya yang tinggal di Bandung agak bengong sih tau harganya.



Geser ke daerah Lembang, ketan bakar (Rp. 5.000) jadi incaran. Di Jakarta banyak, tapi yang ini beda. Ukurannya sekitar 2x lebih tebal, dan yang spesial, disajikan dengan 3 jenis cocolan, yaitu bumbu kacang, bumbu oncom, dan juga serundeng. Di sepanjang jalan Lembang, banyak banget yang jual. Terlihat dari jauh, penjualnya menawarkan dagangannya sambil mengipas. Ketannya ini dibakar dulu sebelum disajikan. Saya sempat cicip ketan buatan beberapa penjual. Ketannya kurang lebih sama, tapi yang bikin istimewa ini rasa cocolannya. Saya suka banget sama bumbu kacangnya, yang kental, gurih dan manis. Mirip rasa bumbu siomay.Tapi mesti selektif juga, karena ada beberapa penjual yang tampak kurang higienis jualannya.


Yang ini adalah pisang susu (Rp. 10.000). Dari tampilannya sih biasa aja ya. Pisang bakar dengan keju dan mesis. Tapi ternyata... ini enak banget. Digunakan pisang tanduk yang belum terlalu matang, menghasilkan rasa yang manis agak sepet, paduan yang enak di lidah. Sebelumnya digoreng dulu, dan saat ingin disajikan, dibakar dulu sebentar. Disajikan dengan susu kental manis, parutan keju, dan mesis. Ciyusss, ini enak!


Masih di Lembang, selain ketan bakar dan pisang susu, kebanyakan penjual juga menjajakan jenis makanan lain, yaitu colenak (Rp. 5.000). Colenak adalah tape singkong yang disajikan dengan kinca dan kacang sangrai. Tapi kok tapenya kotak? Apa ini tape spesies baru? *yakali*. Ah rupanya, tape itu dikeluarkan seratnya, dan dibentuk dalam cetakan kotak dulu sebelum digoreng! Sama seperti tape dan pisang, sebelum disajikan, tape juga dibakar dulu. Sebenernya sih, karena udah digoreng, dibakar nggak ngasih efek rasa atau tekstur yang beda. Disajikan dengan saus kinca yang dibuat dari gula merah dan kelapa parut. Nyam!


Sebelum pulang, dari arah Lembang mampir dulu ke cafe Black Romantic di Jl. Setiabudi. Karena deket kampus (Univ. Pasundan dan Enhai), makanan di Jl. Setiabudi ini terjangkau harganya. Seporsi nasi bakar (Rp. 13.000) terdiri dari nasi bakar yang dicampur dengan ikan teri, ayam goreng ukuran kecil, tahu, lalapan dan juga sambal. Lumayan rasanya, ngenyangin dan enak, meski nggak terlalu otentik. Lagi-lagi karena deket kampus, di cafe ini maupun tempat makan di lokasi yang sama banyak yang menawarkan menu unik dengan harga yang cocok sama kantong mahasiswa. 

Ihiy. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ke Banduuung!

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates