28 Januari, 2013




‘Ekspektasi’ jadi kata yang lekat dengan hidup saya. Saya orang yang hobi ber-ekspektasi, atau lebih tepatnya: memikirkan ke depan dan sibuk mempersiapkan. Karena itu, kata ‘minim ekspektasi’ jadi hal baru. Seperti perjalanan ke Dieng ini, yang jadi cerita tanpa perkiraan dan persiapan yang benar siap. Jalan aja, dan nikmati.

Perjalanan ke Dieng baru direncanakan 1,5 jam sebelum berangkat. Miskin pengetahuan akan Jogja, tiba-tiba tercetus ide: “Kita ke Dieng yuk! Kita nginep di sana!”, kata saya ke Esti, teman perjalanan. Tahu jalan? Enggak. Tahu naik apa? Enggak. Semuanya hasil tanya-tanya teman, petugas Dishub, kenek, dan orang yang kita temui.

Beres check out dan nyoto ayam di daerah Malioboro, kita naik bus TransJogja jurusan terminal Jombor, yang harus transit dulu di RS PKU. Lanjut lagi naik bus kecil ke terminal Magelang, yang makan waktu sekitar 1 jam. Dari sini, lanjut ngebus ke Wonosobo selama 2 jam. Tiba di Wonosobo, lalu naik bus sekitar 20 menit ke arah Kauman, Wonosobo. Perjalanan terakhir, naik bus ukuran sedang sekitar 1,5 jam. Total 6 jam perjalanan, dan 6 kali ganti bus.

Takut? Sedikit. Kita berdua cewek-cewek dengan bawaan banyak –hasil belanjaan di Malioboro dan pasar Beringharjo yang bikin kalap itu lhooo- yang sama sekali nggak tahu jalan. Gara-gara grogi, sepanjang 6 jam itu saya cuma tidur sebentar banget. Nggak mau salah ataupun kelewatan, kan kita newbie, manis dan unyu *oh, lupakan*. Tapi mostly, saya begitu menikmati perjalanan. Banyak orang baik, pemandangan maha indah, dan kisah seru. Tentu yang paling berkesan adalah saat naik angkutan terakhir yang ke Dieng. Jalanan menanjak berkelok, kabut menghalangi pandangan (bahkan jarak pandang nggak lebih dari 5 meter!), udara dingin menusuk, dan kehangatan para penumpang warga lokal, yang bawa banyak muatan seperti kerupuk, umbi-umbian, bahkan dus dan buah nangka dan sikap solider plus saling tolong. Agak ngantuk, tapi rasanya kesan-kesan itu begitu sayang untuk dibarter dengan tidur barang sejenak.

Setelah 6 jam perjalanan Jogja-Dieng, akhirnya sampai juga di pertigaan Dieng, yang membelah Dieng Wetan dan Dieng Kulon tempat saya harus berhenti. Rasanya.... wow! Kesan senang begitu membuncah dan meluap lihat ladang di sejauh mata memandang, dengan latar siluet gunung berkabut. Pandangan saya dipenuhi dengan hamparan pemandangan yang lunas membayar cerita 6 jam di jalan. “Subhanallah...” syukur saya dalam hati. Dan akhirnya Flora sampai di Dieng! Uhui!



Beres taro tas di penginapan yang super nyaman (Dieng Pass, 085291250520, Rp. 200.000 untuk 2 double bed empuk plus TV kabel, lantai berkarpet dan kamar mandi dengan air panas), kami, bertiga dengan sepupu saya yang udah duluan disana, langsung menuju komplek candi Arjuna yang terdiri dari candi Arjuna, Semar, Sembadra, Srikandi dan Puntadewa yang semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki dari penginapan. Di sini ada satu kompleks candi yang dikelilingi oleh kebun bawang dan kentang. Bunga terompet, pohon cemara dan aneka dedaunan tumbuh cantik. Sayang, banyak sampah dan coretan di beberapa sudut. Padahal, tanpa tulisan “Gatot love Ayu” “Mira cinta kamu 4ever” atau “Genk XMU 5 WNSB cuantik tenan”, tentu objek wisata ini akan jadi lebih terawat. Waduh, mas, mbak, dik, kalian segitu kurang kerjaan-nya kah?




Lucunya, Dieng merupakan perbatasan langsung antara Wonosobo dan Banjarnegara, jadi beberapa obyek wisata letaknya di Banjar, dan selebihnya di Wonosobo, namun tetap di satu area.  Perjalanan sebenarnya baru akan dimulai besok paginya. Destinasi puncak Sikunir, kawah Sikidang, telaga warna, juga satu bukit dengan pemandangan maha dahsyat di dekat Dieng Plateau Theatre akan ditempuh dengan menggunakan jasa ojek, yang disepakati harganya Rp. 50.000/orang. Lagi-lagi, terima kasih atas jasa Samiaji, temen SMP saya yang mau bantu cari abang ojek yang seru dan baik. Selanjutnya, si bapak ojek bernama pak Suyoto ini jadi bagian dari perjalanan seru kami.  Plus cerita soal kamera yang tiba-tiba nggak bisa dipakai dan saya yang sempat sesak nafas di tengah perjalanan ke puncak bukit. Hihiww!!! Baca post selanjutnya ya! *bakal lanjut 6 season, kayak Cinta Fitri* 





Ini dia carica, buah khas Dieng. Rasa dan teksturnya persis buah pepaya, tapi dengan bentuk dan tampilan berbeda. Biasanya dijual dalam bentuk buah utuh, dijadiin manisan, juga selai. 







Yang ini adalah cabai gendot atau cabai Dieng. Satu renceng ini beratnya sekitar 1/4 kg, harganya Rp. 2.500. Rasanya? Pedesssshhh banget! Awet lho dibawa perjalanan 12 jam ke rumah, dan sukses membuat mama senang.












Dieng juga begitu terkenal dengan kentang-nya. Kentang Dieng terkenal berkualitas tinggi dan nggak gampang rusak. Selain kentang coklat/merah/ungu utuh, keripik kentang mentah dan kentang goreng juga banyak dijual di sini!

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates