14 Maret, 2013



cabut nih!

Akhir pekan lalu, saya dan keluarga melabuhkan diri di Kebun Binatang Bandung. Motivasi terbesar datang dari si ibu, yang merasa "kita lewat terus tapi kok gak pernah mampir...?" Minggu sore akhirnya kita kesana. Sebagai anak manis nan bijaksana, tiket seharga Rp. 20.000 (mahal yeh brooooh buat kelas bonbin) segera digenggam. 

Baru beberapa meter jalan, saya udah disuguhin pemandangan hewan-hewan yang dikandangin. Perlu dicatat: BEBERAPA METER. Jadi pintar-pintarlah kalian menjaga diri dan kehormatan, wahai anak-anak kost di sekitar bonbin. Soalnya eksistensi uler super gede yang doyan menunjukkan gigi imutnya serta unta dan biawak hanya berjarak beberapa puluh meter saja. Bersiaplah hewan-hewan itu mengetuk manja pintu kamarmu!

Yang 'menarik' dari bonbin ini adalah lokasinya yang tidak terlalu besar. Jadi nggak perlu meluangkan waktu seharian dan membengkakkan betis untuk muter-muter macamnya di bonbin Ragunan. Bahkan sebelum nasi timbel komplit di perut ludes dicerna dan lapar lagi, dijamin satu bonbin udah bisa selesai dijelajahi.

Jika biasanya kebun binatang lekat dengan kesan unyu, sayang binatang, gajah-gajah mempesona, ataupun macan berbulu merah muda, lain dengan bonbin ini. 





Di sini, adrenalin lebih terpacu. Bayangin aja, saya dan buaya-buaya ini aja jaraknya gak lebih dari 2 meter, dengan pembatas tembok dan pagar yang nggak tinggi. Bahkan di beberapa sisi, batas pagar kandang buaya ini cuma pagar kawat! Sesimpel itu ya ngandangin buaya-buaya lapar ini! 

Perlu diketahui, wahai bapak pengurus Bonbin. Pernah menghadapi buaya darat tidak lantas membuat saya berani menghadapi buaya beneran. Catet!







Nah, untung ada penyu-penyu unyu yang ngademin hati. Mereka berderet nungguin dikasih makan sama pengunjung. Kenapa makhluk sekecil ini sudah dibiasakan meminta-minta? Gimana masa depannya?












Sekilas, hewan ini mirip kerbau. Terus, ngapain pake ada kerbau di bonbin? Tenang, ini bukan kerbau, tapi banteng! Iya, banteng yang bereinkarnasi jadi kerbau *apasih. Banteng ini punya kebiasaan lari-lari kesana kemari. Lari lurus, muter, lurus lagi. Untung aja dia tidak punya akal yang cukup untuk melarikan diri. Soalnya, kalo dia mau sedikit nunduk, pagar besi pembatas cukup loh untuk dilewatin! *semoga si banteng nggak baca tips ini*




Setelah 30 menit pertama tidur pules di bonbin, gadis kecil keponakan saya ini akhirnya bangun tidur. Di sini, makannya jadi pinter. Soalnya diberi narasi "kalo udah makan, nanti burungnya keluar" *kok ambigu ya* ah entahlah. Fanesha anteng banget liat monyet dan hewan-hewan lain.





Eciyeee... Natap siapa sih Plo? Jadi begini. Monyet ini tampak lemas dan lunglai. Agaknya iri dengan spesies lain di sebelahnya yang atraktif, loncat kesana kemari dan banyak yang nonton. Sementara monyet ini kayanya mengalami apa itu yang dinamakan low self esteem *azeeek*. Sebagai mahasiswa Fisip yang baik, saya gali kepercayaan dirinya. Tapi tetep aja, nggak senyum, nggak nyaut. Ah, dia emang pasif sih.

Saya plus keluarga cuma bertahan sekitar 1,5 jam di bonbin ini. Selain hujan, lokasinya memang kurang terawat dan nggak rapi. Dari sisi kebersihan dan keamanan juga kurang terjamin *menurut saya sih ya*. Bonbin Ragunan (dengan harga tiket nggak sampe Rp. 8.000/orang) masih jauh lebih baik, meski emang luas banget dan kaki pegel. Tempat ini cocok buat kamu yang kangen gajah. Kangen uler. Pengen liat unta. Tapi menurut saya kurang pas buat piknik lama-lama. Ngeri cyin!

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates