05 April, 2013

 Foto: The Ranchers Guide

Jadi malam ini *ini ngetiknya beneran malem loh ya sodara sodara*, saya mau bahakomunikasi intrapersonal. Ini adalah komunikasi yang paliiing akrab sama kita, karena membahas tentang pengaruh dan reaksi diri yang berdampak pada komunikasi kita dengan orang lain. berbekal buku Applying Communication Theory for Professional Life nya oma Marianne Dainton (2011), ayo kita jabarkan secara singkat, sederhana, apa adanya dan saling mengerti satu sama lain *eh ini apaan sih*.

Penting gak sih komunikasi ini? Ya eyalaaaaaahhh... Kalimat dan gesture yang kita lakukan tentu udah melewati tahapan ini. Ah udahlah ya, mari kita menceburkan diri ke dalam komunikasi intrapersonal ini.

----------------------------------------------------
1. Message Design Logics (MDL)

MDL adalah cara kita merespon sesuatu lewat penggunaan bahasa. Dibuat oleh O'Keefe dan Lambert (1997), Interpretasi dan kematangan pola pikir sangat terlihat di teori ini. Mari kita gambarkan situasi: ceritanya B merasa ditipu oleh tukang bawang merah. B beli bawang Rp. 42.500, eh taunya toko sebelah jual Rp. 35.500.

- Expressive MDL
"Abang tuh gimana sih! Jualan harganya nggak kira-kira! Emang duit bisa digambar sendiri, nggak pake kerja? Mikir dong bang, kalo jualan jangan ketinggian harganyaaaaa!" *abangnya cuek. Malah ngeloyor pergi ke warung mie ayam*

- Conventional MDL
"yah kurangin ngapa bang harganya, biasa juga dua puluh lima rebu sekilo." *abangnya selow aja, gak nanggepin*

- Rethorical MDL
"Bang, saya akui emang bawang merah Brebes yang abang jual emang kualitasnya bagus. Bebas kutu, anti rayap, water resistant. Tapi abang juga nggak boleh seenaknya naikin harga. Kalo abang masih jual harga segitu, dijamin pembeli kabur. Jelas, mereka milih yang lebih murah. Kalo bawangnya malah nggak laku, ujung-ujungnya rusak, malah jadi rugi! Abang harus pikirin itu baik-baik! Abang denger saya kan?" *zzzzz, abangnya malah ngorok*

-------------------------------------------------------------------------
2. Communication Accommodation Theory (CAT)

Dalam CAT, lingkungan dan penerimaan sangat berkaitan erat dengan bagaimana kita bersikap dan menyikapi perbedaan. Digagas oleh Giles&Coupland, 1991. Dalam CAT, kita kenal istilah in group dan out group. In group adalah kelompok di mana kita ada di dalamnya, dan kita sudah nyaman betul di dalamnya. Sebaliknya, out group merupakan hal-hal di luar lingkup in group. CAT mencermati bagaimana seseorang melakukan perubahan agar bisa lebih diterima oleh kelompok.

Dalam CAT, ada 2 sikap yang menjadi respon, yaitu konvergensi dan divergensi. Konvergensi bisa diartikan sebagai proses adaptasi, sementara divergensi justru tetap kekeuh mempertahankan jati diri, watak dan sifatnya.

Contoh: Lisa, cewek metropolis berhak tinggi dengan soft lense dan rok mini, ketemu sama ponakan pacarnya. Lisa nggak pernah deket sama anak kecil (diposisikan jadi out group Lisa).

- Konvergensi
"Halo tayaaaaang..... Udah ma'em beyooom? Yuuuk ma'em cama tanteeee, tante punya coklaaaat..... cini cini, tang ting tang ting tung...." <--- tampak dia mau menyesuaikan diri, menyamakan 'level ' nya dengan orang yang ditemuinya, 'keluar' dari perilaku aslinya, bertujuan untuk lebih bisa diterima.

- Divergensi
*enggak mau megang. Soalnya anaknya rewel. Lagian males juga ngomong ala ala anak kecil gitu. Terserah lah yaaa mamanya si pacar mau komen apa. Gue emang nggak suka anak kecil* <---- tidak mau keluar dari sifat aslinya, menunjukkan inilah dirinya yang sebenarnya, ingin dipandang sebagaimana dirinya sendiri biasa bersikap. Contoh lain: Orang berlogat Jawa medok yang tinggal di Jakarta, yang tetap tidak ingin meninggalkan ke-medokannya, dgn siapapun ia berbicara untuk menjaga identitas dirinya sbg orang Jawa.

---------------------------------------------------------
3. Uncertainty Reduction Theory (URT)

 URT didefinisikan Berger dan Calabrese (1975) sebagai langkah untuk mengurangi ketidakpastian. Bok, banyak banget ketidakpastian dalam kehidupan ini. Pake baju apa hari ini? Jalanan macet nggak? Doi sebenernya naksir kita nggak? Nah, daripada terus menerka, ya selesaikan sajalah teka tekinya! Baiklah, mari kita berikan contoh yang sesuai dengan kehidupan di dunia fana ini, dengan menjawab ketidakpastian di poin ketiga, soal naksir-naksiran.


                                                                                      Foto: Indigo Statics
- Passive strategy
Media sosial si doi kita ubek-ubek. Liat recent update BBM nya. Foto-foto masa alay-alay di Facebooknya. Tulisan-tulisan di Twitternya. Kalo perlu cari tahu tagihan listriknya, berapa kali dalam seminggu pergi ke Alfamart, dan apa sabun cucinya di rumah.

- Active strategy
Caranya adalah bertanya pada pihak ketiga, soal kebiasaan, status, tipe istri idaman, soal aktivitasnya, juga soal orientasi seksualnya *eh suwer deh ya, ini penting!*. Tapi tanyalah pada sumber yang kredibel, jangan tanya sama kasir Alfamart langganan dia, sama pemimpin sanggar senam di komplek, atau malah nanya operator 108.

- Interactive strategy
Kalo ribet kelamaan, yasutralah ya booookkk... tanya aja langsung sama orangnya. Resiko selalu ada, tapi strategi ini dijamin hemat waktu dan kadar perasaan *hazek*

---------------------------------------------------
4. Expectancy Violations Theory

Teori ini dikembangkan oleh oom Judee Burgoon. Sesuai namanya, expectancy, kita manusia emang harus mengantisipasi apa yang bakal kejadian di masa depan. Interpretasinya bisa didasarkan dari tingkat kedekatan antar manusia. Sebagai efeknya, kita bisa merasa reciprocate (merasakan hal yang sama dengan yang ditunjukkan orang lain) atau justru compensate, merasakan hal yang berbeda.

Contohnya begini. Di kantor ada cewek kece berat, namanya Ghea. Cakep, pinter, berprestasi, tinggi, langsing, modis dan ramah. Tiap kali meeting sama orang ini, para cowok-cowok cuma bisa menikmati senyumnya dari jauh, menyimak tutur kata nya, dan memberi support serta perbincangan formal *cakep ya bahasa gue*. Yah idaman pria-pria lah ya.

Suatu hari, cewek kece ini curhat kalo dia lagi punya buanyaaaaakkkk kerjaan dan project yang dia garap berantakan. Harus segera diselesaikan dan kalau tidak akan mengancam karirnya. Dia ngomongnya dengan muka sedih di kantin kantor. Si lawan bicara, sebut saja Ridho, udah kepengeeeeen banget menatap matanya dalam-dalam, menggenggam tangannya sambil bilang "everything will be okay, aku yakin kamu bisa, babe". Tapi ya enggak dilakuin, dirasa nggak pantes, dan apalah Ridho yang bermuka kusut dibanding Ghea yang kinclong. bisa digaplok depan umum dan jadi public enemy dia kalo tau-tau megang tangan Ghea. <---- contoh compensate.

Sebulan kemudian, kantor geger karena Ghea dipecat. Ghea yang punya pamor bagus di kantor dianggap tidak bisa melakukan tanggung jawabnya dengan baik. Doi dipecat di tahun ke 2 nya bekerja di perusahaan itu. Saat ngumpul dengan satu divisinya, Ghea menyalami mereka satu persatu sambil agak-agak menitikkan air mata. Ridho yang cukup dekat sama Ghea merasa harus memberi support lebih. Mereka salaman cukup lama, Ridho bilang "everything will be okay, aku yakin kamu bisa lebih sukses di depannya. Aku yakin kamu bisa lebih sukses dari ini, semangat terus ya!" *sambil ngomong eye to eye ke Ghea, terus nepuk-nepuk bahu Ghea. Kali ini nggak apa-apa, sikonnya pas dan tepat, orangpun nggak menganggap aneh. Padahal seneng juga bisa megang bahunya* <---- contoh reciprocate.

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates