15 Juli, 2013


Yeay! Akhirnya 20 Juni datang juga. Setelah 4 tahun, akhirnya saya dan adek bisa mudik lagi ke kampung halaman asalnya bokap. Selain nengokin nenek dan ngusir asap dari kepala (saking hectic-nya UAS di kampus dan kerjaan di kantor), tanggal ini juga akhirnya kita ketemu lagi sama mamapapa. Yaks, mereka udah pergi duluan dari akhir bulan Mei. 

Ngerancang perjalanan ini juga nggak simpel. Saya dan adek sama-sama kuliah, di kota yang beda dan jadwal yang beda. Apalagi jam kerja saya lumayan panjang dengan ketentuan cuti rada strict. Plus menyesuaikan jadwal SBMPTN si adek, dan plus plus lainnya. Ditambah ortu yang maunya pergi bulan Mei. Huff emang lebih ribet ya pergi jauh sama keluarga. Hehehe. Akhirnya disepakatilah, kami pergi selang 20 hari dari orang tua. It was such a superrr busy week. Flight kami di jam 4.30 pagi, dan saya baru sampe rumah sekitar jam 11 malamnya. Barulah ngepak barang, tidur sejam, bangun lagi, mandi, cuss bandara jam 2 pagi.


Whooosaaahhh, akhirnya kita sampe di Bima jam 8.30 waktu Jakarta, setelah transit dulu di Denpasar. Rasanya agak kliyengan karena kurang tidur dan akumulasi dari hari sebelum-sebelumnya. Ditandai dengan banyaknya pria-pria bersarung turun dari pesawat dan seorang bapak-bapak yang turun pesawat langsung pipis di deket landasan (iya, pipis aja gitu doi di ujung landasan pesawat!), resmilah kami tiba di Bima. 

Di bandara, sudah ada papamama yang jemput beserta umi tua (nenek). Enggak langsung pulang, tapi kita jalan-jalan dulu ke pantai yang nggak jauh dari bandara, namanya pantai Kalaki. Jiwa keibuan yang sangat kental membuat si ibu udah siap dengan perbekalan nasi goreng dan abon, sambil duduk-duduk di pinggir pantai. Tebakan mama emang selalu tepat, kita emang kelafaran.


Yang bikin terpukau, di Bima itu pemandangan langitnya juara. Langitnya biruuuu menghampar dengan gumpalan-gumpalan putih awan yang cantik. Padahal katanya, di Bima lagi ujan terus. Tapi kita ternyata disambut dengan cuaca super cerah begini (dan alhamdulillahnya, selama kita di sana, Cuma 1x hujan). Kitapun sempat ngerasain jalan-jalan naik kapal, murah meriah, Rp 5.000 aja per orang di pantai Kalaki. Matahari yang diskon dan panasnya mentereng bangetpun nggak bikin anak-anak setempat jaim. Mereka hayu ajah berenang, meski pas keluar air gelaaaaap bener. That’s true, man. There’s no ‘sun and dirt’ allergic in their dictionary. Hihihi.

Duduk-duduk di pantai yang bersisian langsung dengan jalan utama, saya juga ‘disambut’ dengan salah satu ciri khas lain di Bima: kendaraan yang hobi ngebut. Entah kenapa, kecenderungan pengendara di sini memang ngebut dengan kecepatan yang nggak kira-kira (apalagi buat ukuran di Jakarta). Ada yang ngalangin? Siap-siap diklakson dengan volume edan-edanan, atau malah motor yang digeber. Ckckckck. 

 
Kelar main-main sebentar di pantai, kitapun langsung balik ke arah rumah umi tua di daerah Tonggondoa, Lido, kabupaten Bima, sekitar 30 menit dari bandara. Enggak banyak yang berubah, di sana sini sawah, bukit, gunung, rumah panggung, bawang yang dijemur, pria dan ibu-ibu bersarung, juga sapi-sapi di jalanan. Rumah panggung milik umi tuapun hampir nggak ada yang berubah. Tapi terasa lebih nyaman, karena mamapapa udah 3 minggu di sana, dan otomatis banyak ‘ketidaknyamanan’ yang udah diminimalisir *ribet ya bahasanya*. Misalnya ada kulkas (sewaan), dikasih hamparan kain di bawah langit-langit, juga nggak ada ayam/bebek/kambing di bawah rumah. 


Kalau dihitung, usia umi tua(namanya: ibu Hendo) sudah sekitar 90-an, dengan usia anak pertama yang sudah mendekati 70 tahun. Seiring usia, pengelihatan dan daya ingatnya semakin menurun. Badannyapun semakin kurus dan bungkuk. Rumah yang ia tempatin juga umurnya udah sekitar 110 tahun, diturunkan dari orang tuanya. Beliau juga tumbuh besar di rumah ini. Oh ya, kamar mandinya terletak di luar, dengan kendi buat wudlu yang udah ada dari zaman dulu. Kemudian barulah anak-anak hingga cucunya satu persatu bikin rumah di sekeliling rumah tersebut, rata-rata dengan ukuran yang lebih luas, lebih kokoh dan lebih berfasilitas dibanding umi tua-nya. 

Datang saat liburan sekolah juga bikin saya dan Tony, adek saya punya banyak temen kecil (kebanyakan sih masih ada hubungan saudara). Anak-anak yang tinggal jauh dari ibukota emang sering bikin saya kagum. Energi mereka gila-gilaan, nggak gampang capek, ngeluh, atau jijik-an. Kondisi kesehatannya juga ajaib. Kalau mau dijabarin, banyak hal-hal nggak lazim yang mereka biasa lakukan, tapi mereka (tampak) sehat-sehat aja. 

Contohnya mereka biasa minum air dari ember atau bahkan langsung dari bak mandi, minum dari gayung. Lebih rincinya lagi: kamar mandi yang lokasinya di luar rumah, dan kondisinya nggak bisa dibilang bersih. Hiyy! Anak-anak ini juga jaraaang banget pake sendal dan cuek aja jalan di becekan ataupun tanah lembek. Jarang ganti baju (bahkan nggak terbiasa pake celana dalam), apalagi inget untuk cuci tangan. Soal makan, mereka juga terbiasa makan dengan proporsi 80% nasi, 10% lauk kering dan 10% sayur.


   

Anak-anak desa memang terasa lebih menyenangkan. Nggak susah untuk didekati dan jadi akrab. Pola pendekatannyapun nggak macem-macem. Gunakan bahasa mereka, ajukan pertanyaan-pertanyaan dasar dan ‘manusiawi’, tuturkan bercandaan a la ‘kampung’, dan merekapun bakal cepet akrab. Bahkan sebungkus permenpun bisa jadi ‘modal’ pedekate. 








Sebenernya, rata-rata perekonomian keluarga mereka bisa dibilang cukup, tapi emang terbiasa dengan lingkungan sederhana dengan orang tua yang sibuk di sawah. Kalo saya, seneng banget foto-foto mereka dengan segala kesederhanaan dan ciri khasnya. Dan untungnya, mereka emang doyan difoto. Jangan tanya soal gaya, beuuuhhh ekspres-sip abeeeezz!





 



Kalo saya jadiin foto dan ngobrol (ciyeee yang mulai bisa bahasa Bima, ciyeee) sebagai cara pedekate, lain lagi sama Tony. Karena udah lebih dulu mudik, bokap jadi akrab sama banyak orang, termasuk bocah-bocah di sini. Nah, bokap sering nyuruh anak-anak ini buat rajin sholat, terutama di masjid, juga rajin mandi. Iming-imingnya: “yang rajin sholat, nanti diajarin silat sama abang Tony”. Yaks, adek saya emang atlet silat. Uhuii.





 

Jadilah sejak hari pertama kita dateng, anak-anak ini langsung ngumpul. Awalnya mereka banyak yang main-main dan nggak begitu respek sama si newcomer ini. Tapi begitu dikasih liat teknik mecahin genteng, wuih, mereka terpana loh! Dan selanjutnya, mereka nuruuuuuttt banget sama Tony hahahaa.Walopun baru latihan jam 4 sore, biasanya jam 2 udah pada kumpul di depan rumah. "Mada waur ndeu, waur sembea," (Saya sudah mandi, sudah sembahyang), kata mereka.

 



Salah satu hal yang selalu saya kangenin dari Bima adalah momen jalan-jalan ke sawah. Besoknya, jam 9 pagi baru jalan, dan lagi-lagi, matahari lagi diskon-diskonnya. Kita ziarah dulu ke makam abu tua (kakek) yang wafat Juni 2011, dan dikubur di bukit deket rumah. Dari situ, kita jalan lagi ke sawah milik salah satu tante yang rupanyaaaa.... jauh. Hahahaha. Sepanjang jalan, anak-anak ini nggak diem aja. Mereka sambil nyanyi-nyanyi, kejar-kejaran, lari-lari, dll. 

Di sana baru aja panen mentimun dan jagung, dan kita dibakarin jagung yang baru aja dipetik dari pohon. Di sini, biasanya tiap sawah dikelola satu keluarga, jadi kalo lagi liburan sekolah, bapak, ibu, sama anak-anaknya semuanya di sawah. Oh ya, dari 9 bersaudara, 3 orang termasuk bokap udah merantau ke Jakarta dari zaman muda, dan nikah sama orang dari pulau Jawa (dan jadilah saya hehehe). Dan ternyata banyak orang yang mengidentikkan Bima dengan masyarakatnya yang berkulit gelap. “Hah? Kamu orang Bima? Kok putih? Kok nggak kayak orang Bima?” yaiyelah broh, kan emak saya Sunda. Hihi. 



Siangnya, saya dan anak-anak (yang sebenernya semuanya masih saudara sepupu atau keponakan siiih) janjian ke kawasan wisata Bombo Ncera, sejenis air terjun dan bendungan gitulah, nggak jauh dari rumah nenek. Ehhh, taunya ujan super deras, dan awet! Jadilah anak-anak yang (akhirnya!) sudah mandi itu pada manyun hihihiii.... Sayapun akhirnya ya nggak ngapa-ngapain, Cuma duduk di tangga masuk rumah, sambil liatin bocah-bocah yang main bola tanpa alas kaki, sambil ketawa-ketawa, hujan-hujanan dan enggak capek-capek. Bok, simpel banget ya arti bahagia buat anak-anak desa. Enggak mikirin sakit. Enggak takut kuman. Cuek sama cuaca. Dan la li lu soal hidup. Yang penting seneng, itu aja. Hmm, sampai hari kedua ini, bocah-bocah ini ngasih saya banyak ‘contoh’. Dan yak, saya bener-bener menikmati dan total lupa sama kerjaan hahahahaa. 

Anyway, dilanjut di post selanjutnya ya :)

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates