08 Juli, 2013


Punya darah NTB gak membuat saya sering mengeksplor provinsi ini. Jadi kalo ditanya, orang mana? “Bima, NTB”. Banyak yang kemudian menyambung dengan kalimat “Oooo, asik dong ke Lombok melulu!”. Ehm, sayang sekali broh, sis, berhubung Bima dan Lombok itu beda pulau. Sekali-kalinya kesana juga lewat doang, nggak ngunyah apa itu yang dikatakan pemandangan pantai yang aduhai, dll. Dan akhirnya, saya bisa menunjukkan eksistensi saya sebagai keturunan orang NTB *hazeeek* karena akhirnya saya bisa liburan singkat ke Lombok. Ahyea! 

 
Tiba di Bandara Internasional Lombok (BIL) di kawasan Praya, Lombok pukul 14.20. Bandaranya nyaman banget, apalagi kalo dibandingin bandara di Bima hehehe. Saya, papa mama dan adek menetapkan tujuan utama ke Gili Trawangan. Tapi karena dapet flight siang, rasanya tanggung dan mepet banget kalo langsung ke pelabuhan Bangsal (pelabuhan menuju Gili Trawangan). FYI, perjalanan Praya-Bangsal itu memakan waktu sekitar 2 jam, sementara kapal umum ke Gili Trawangan hanya ada sampai jam 4 sore.

Tujuan selanjutnya adalah kawasan Cakranegara, pusat kota di Mataram, dengan numpang Lombok Baru Taksi dari dalem bandara dengan tarif flat Rp 125.000 (yang mana ternyata kalo naik Blue Bird argo biasa nggak sampe Rp 80.000). Alasan sederhananya sih karena Cakranegara letaknya di tengah-tengah, dan sudah setengah jalan kalau mau ke pelabuhan Bangsal. Di sini layaknya pusat kota, fasilitas bank, minimarket, toko-toko, karaoke, semuanya lengkap lah. Tentu menyenangkan, secara eike 5 hari di kampung halaman yang jauh dari begini-ginian heuheu.


Tempat nginep kami di Jl. Subak 2, Cakranegara. Uhm rada lupa euy namanya, kalo nggak salah namanya Ganesha Inn. Tempatnya nyaman, mirip kost-kostan dengan harga Rp 100.000/malam. Fasilitasnya kipas angin, TV cable 14 inch, kamar mandi dalam, sabun, handuk, teh dan kopi (meski seadanya yaa). Strategis banget nih, mau ke bank, makan, belanja dll tinggal jalan kaki aja!
.
Kelar mandi dan lalala, kita langsung cabcus mau makan ayam taliwang. Berdasarkan info, ayam taliwang yang enak ada di Jl. Transmigrasi 99, namanya Dua Em Bersaudara. We have no idea where is it. Google map nggak berfungsi karena entah mengapa sinyal XL jelek banget. Untungnya, hasil nanya-nanya ke juru parkir, ternyata tempatnya nggak jauh jalan kaki, sekitar 1,5 km sajah! Yaa tentu ‘nggak jauh’ nya itu versi gue ya, karena eike emang doyan jalan kaki *elus-elus betis*. Setelah jalan 30 menit sambil haha hihi dan jalan santai, ketemulah kita sama restoran terkenal ini. Ihiy!


Ayam pelecingan (Rp 38.000/ekor), ayam bakar bumbu madu (Rp 38.000/ekor), pelecing kangkung (Rp 10.000). Jangan salah, ayam yang dipake itu ukurannya keciiiil seukuran burung. *kalo burung rajawali kan gede sis. Burung merpati kali yah. Lah siapa juga yang makan burung merpati *ah yaudahlah* Makanannya suwer enak-enak, dan saya doyan banget sama pelecing kangkung dan sambal beberuk nya. Mantaf!

Jut jut lanjuuuttt... Besoknya jam 7 pagi udah siap-siap menuju pelabuhan Bangsal. Sarapan dulu, beli nasi bungkus yang dijual ibu-ibu berjilbab, karena nggak nemu warung nasi di sini. Resto-resto gedepun masih pada tutup. Taksi Blue Bird pesanan juga udah siap menunggu di depan penginapan. Markicaw!

1 komentar:

Isi di blog Neng Flora menarik-menarik..
salam kenal..

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates