16 April, 2014


Postingan ini sebenernya sekaligus jadi media saya untuk menjawab pertanyaan yang seliweran di otak dan datengnya tiba-tiba aja. Gara-garanya saya ngobrol-ngobrol sama salah satu sahabat. Durasinya nggak lama, kejadiannya jarang, tempatnyapun selalu alakadarnya. Tapi, obrolan kita selalu membekas. Ihiy!

Kemudian kita pisah, saya pulang, dan ngelakuin banyak hal termasuk whatsapp-an sama AF as usual. Kemudian tercetuslah satu pernyataan. “Asik banget yah kalo pasangan itu sekaligus bisa jadi sahabat”, kata saya. Kemudian dibalas kira-kira begini sama AF, “Lho, ya itu harus lah. Masa sampe enggak?”. Dan berlanjutlah kemudian.

Flo: Bagusnya tentu begitu, tapi nggak selalu bisa begitu tau
AF: Ya nggak boleh ada yang ditutup-tutupin dong
Flo: Iya, tapi realitanya, susah banget loh

Kadang percakapan berjalan begini:

Flo: Ih aku pengen deh bla bla bla bla bla bla bla bla bla kayaknya seru banget ya bisa bla bla bla bla bla bla bla bla bla nanti aku mau ah begitu bla bla bla bla bla bla
AF: Hmm, iya, bisa tuh

*lalu obrolan selesai *krik krik krik *bedakan pake sagu

Etapi nggak berhenti sampai di situ. Pertanyaan “gimana caranya ya, pasangan bisa jadi sahabat juga?” terus muter di kepala. Gimana bisa? Mari kita rinci alasannya *muka serius*


1. Sahabat bertugas untuk mendengar. Mayoritas aktivitasnya adalah menyiapkan telinga sebaik mungkin. Pasangan tidak mungkin bisa hanya mendengar, ia pasti lebih sigap berpendapat. Pasangan punya ekspektasi dan harapan tentang apa yang kita ceritakan, yang sedikit banyak juga mempengaruhi hubungan.

2. Minimnya ekspektasi dari sahabat bisa bikin kita ngomong lebih jujur, blak-blakan, apa adanya. Sebaliknya, sama pasangan, meski tetep bisa blak-blakan, tapi kita justru lebih kontrol intonasi dan pemilihan kalimat, bahkan detail cerita. Ada perasaan yang harus dijaga, bung! Bedanya juga, kita lebih memilih topik saat sama sahabat, apalagi yang ketemunya jarang-jarang. Kita cenderung hanya akan menceritakan sesuatu yang menarik, dan ‘wow’, menimbulkan antusiasme tersendiri. Dengan pasangan cenderung ngomongin apa aja, suka nggak suka, ngerti nggak ngerti, semua diomongin.

3. Ada label berbeda antara keduanya. Dengan pasangan, kita adalah individu sekaligus pasangan, calon isteri/suami, dan buat yang udah nikah, ia adalah suami/isteri, ia adalah ayah/ibu, ia adalah menantu, dsb. Ada pakem dan cap. Sementara di mata sahabat, elo dilihat sebagaimana individu. Sebagaimana elo aja.



Well, itu sih yang saya rasain. Buat saya, sahabat itu adalah ketika kita udah bener-bener nggak ragu bertanya, bercerita, berpendapat tentang apapun. APAPUN. Lebih jauh lagi, sahabat adalah orang yang membantu saya mengurai isi pikiran dan hati. Mungkin kalimat saya terdengar agak dangdut ya. Tapi, berapa banyak sih orang di sekeliling kita yang mengajak kita bicara tentang apa yang ada di ‘dalam’ dan melupakan sejenak hiruk pikuk di sekeliling?

Eits, ini maksudnya bukan mau mengecilkan peran pasangan ya. Tapi jelas, kan, kalo pasangan dan sahabat punya wilayah masing-masing di hati. Sama-sama penting, fungsinya mirip, tapi nggak identik. Tapi tentu saya juga nggak lantas pesimis kalo pasangan itu bisa jadi sahabat, bukan ‘sekedar’ teman hidup. Saya banyak belajar dari lingkungan, banyak orang yang nggak bisa tertawa dan bicara se-lepas ketika dia lagi sama sahabatnya. Iyess, saya emang belom nikah, tapi ya boleh kan ya siap-siap hihihi. *ceileh ploooo*

Jadi menurut pakar pernikahan berlisensi bernama tante Corey dalam artikelnya berjudul "should your spouse be your best friend", semakin kita berjalan di sebuah hubungan, semakin kita menjauh dari hal-hal yang sering kita lakukan sebelum kita ketemu si pasangan. Kemudian larut dalam ekspektasi tentang hidup dan masa depan yang akan dijalani bareng. Okei, mungkin nggak mudah, tapi bukan mustahil juga, kan :) 


As you began spending more time together and getting to know one another, you likely had less time to engage in the things you were doing before you met. Some couples go so far as to completely give up everything they previously found fulfilling and important in order to spend time together. The problem with this is, as you became fused you became more and more dependent on each other to meet your individual needs


Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates