28 Desember, 2014


Delay sejam dua jam rasanya sudah biasa. Tapi kalau sampe seharian? Aheum, dongkol juga ya sis. Oktober lalu, saat perjalanan pulang Palembang – Jakarta. Saya naik pesawat dengan keberangkatan (kalo nggak salah) jam 19.20. Berangkat dari Tanjung Enim jam 10.00, kemudian sampai Palembang jam 16.00. Sudah sempat mampir ke Pempek Beringin di Jl. Radial dulu, baru kemudian ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Di daerah Prabumulih

Kondisi cuaca menuju Palembang sudah berasap tapi nggak pekat, kabarnya karena ada kebakaran lahan yang hebat dan asapnya nggak kabur-kabur. Bahkan sebetulnya asap sudah ‘sampai’ ke Tanjung Enim yang jaraknya lebih dari 200 km. Di pintu gerbang Bandara, jarak pandang cuma sekitar 20 meter-an men! Bener aja, ruang tunggu Bandara udah mirip acara kenduri, rame bener.




Pengumuman datang di jam 19.00. Beberapa keberangkatan dibatalkan hingga hari esoknya, Sementara pesawat lainnya belum jelas statusnya (yang kemudian ternyata diberangkatkan sekitar jam 23.00). Saya langsung telfon Esti, sahabat saya yang sering dinas ke Palembang dan sering safari nyoba-nyoba budget hotel. Karena Hotel Santika susah dihubungi, akhirnya saya berlabuh di Hotel Zuri Express. Nggak dapat kompensasi apa-apa dari pihak maskapai, karena ini alasan cuaca. 

Rasanya sebetulnya standar aja. “Ooh, jadi gini ya rasanya kena delay panjang. Hahaha”. Dan berharap dua dus Pempek Beringin aman-aman aja dan tetep enak dimakan. Kan mihil cyin. Hahaha.

To be honest, saya selalu senang Bandara dan Stasiun. Saya senang melihat moda transportasi itu melaju, posisi landing, atau baru take off. Perjalanan selalu membawa kisah personal, ada yang baru meninggalkan, atau justru semakin dekat dengan yang dituju. Ada yang termenung, ada wajah angkuh, ada yang terburu-buru, ada yang mencium kening istrinya. Selalu jadi pemandangan asik. Salah satu hal yang bisa dinikmati dari delay adalah bisa melihat tampilan ini lebih lama. 

maaf ya kak, screen shot nya kurang indah karena kecoret. hahaha

Pesawat saya baru betul-betul berangkat jam 19.00, delay (lagi) dari jadwal seharusnya jam 16.30. Sedikit manyun karena masih ada pekerjaan di Jakarta, sementara badan ada di Palembang dan keesokan paginya harus sudah menuju Bandung. Mungkin saya yang belum mahir ber-multitasking. Pesawatnya kosong banget dan kayaknya lebih lama cari tempat parkir di Bandara Soetta, dibanding perjalanan udara nya.

Lalu bagaimana dengan pempek? Mungkin karena penyimpanan yang kurang cihuy dan terlunta-lunta, rasanya nggak se-enak ketika saya makan di restonya langsung. Niat tak selalu lurus dengan realita yah kak hahaha *inget dompet*.

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates