29 Maret, 2015


Car Free Day, atau populer disingkat CFD sudah jadi area massa yang kian digemari. CFD menjadi alasan mengapa akhir pekan tak sulit lagi untuk bangun pagi. Motivasinya bervariasi, ada yang mau lari, bulutangkis, quality time dengan keluarga dan teman, butuh area segar, mau bersepeda, nongkrong aja, ataupun dalam rangka cari tambahan uang, atau malah terhitung shift masuk kerja.

The Jakarta Post (09/2014) mencatat jika ada lebih dari 100.000 orang tumpah ruah di jalanan Sudirman Thamrin pada kegiatan CFD. Itu tahun 2014, angkanya bisa jauh lebih tinggi dari itu. Apalagi, di Indonesia, CFD ini hits sekali. Sejumlah kota besar menjadikan CFD jadi rutinitas. Coba ketik ‘Car Free Day’ di mesin pencari Google, artikel, foto maupun hashtag tentang Car Free Day di Indonesia tampak paling ramai. 
 Tujuannya tentu beragam. (1) menyuplai udara yang sedikit lebih baik dengan meniadakan kendaraan bermotor lewat. (2) memberi area terbuka untuk warganya mengekspresikan diri. (3) Perputaran uang. Dan macam alasan lainnya.

Bekasi juga punya gelaran sendiri, dengan melaksanakan CFD setiap hari minggu di Jl. Ahmad Yani, dari lampu merah perempatan Kayuringin sampai jembatan Summarecon, jam 6 – 9 pagi. Untuk penggowes sepeda maupun yang hobi lari atau jalan kaki, ini sungguh menyenangkan. Warga Bekasi tentu terima kasih dan senang.


 Lalu ada banyak penjaja barang. Hingga panggung-panggung hiburan, sampai sales motor, suplemen kesehatan dan tv berlangganan tersebar dan berpromosi dimana-mana. Kini, dari penjual sosis bakar, kaus Elsa dan Anna, sampai kartu perdana, apapun ada. Tak cukup di trotoar, penjual juga menduduki area jalur cepat. Kini, kiri kanan adalah tukang jualan, bukan lagi lokasi bebas. Setiap sudut ada yang punya.

Masih belum selesai, tengoklah area GOR Bekasi. Padat pedagang makanan, parkir kendaraan dan penjual aneka barang. Untungnya (masih) tersisa secuil area di sekeliling Stadion untuk sekedar jalan atau syukur-syukur cukup area untuk main bulutangkis (sementara Stadion nya sendiri tidak dimanfaatkan). Ironi, di CFD, justru area untuk berolahraga dengan lebih ‘serius’, misalnya lari, bersepeda, jogging santai dan lainnya malah sulit, karena banyaknya pejalan kaki yang window shopping. Bahkan jalan kaki pun masih bertemu macet!

Tentu, Car Free Day menjanjikan pasar tersendiri. Mereka mencari sarapan. Mereka jalan-jalan dan bawa uang. Mereka senang jajan. Coba bayangkan, penduduk kota Bekasi ada lebih 2 juta orang, misalnya 10 persennya saja atau 200.000 orang datang ke CFD, sementara ruas jalan yang dipakai tidak seberapa panjang. Untuk menampung orang saja belum tentu memadai. Kemudian ditambah area yang diblok pedagang, apalagi kalau mereka bawa kendaraan!


Membludaknya warga Bekasi di CFD juga membuat kita sadar kalau Bekasi masih belum punya cukup ruang terbuka umum. Selanjutnya, mungkin agak sinis, tapi mungkin orang Bekasi butuh hiburan lebih banyak. Bisa juga, orang Bekasi jengah karena terlalu banyak mall, dan akhirnya kebutuhan hiburan serta perbelanjaan yang lebih ekonomis bisa didapat di momen CFD. Atau malah cenderung konsumtif?

Kondisi bebas kendaraan bermotor tentu (harusnya)  tidak lantas membentuk pengertian pedagang jadi bebas jualan. Nah, dalam hal ini, yang jadi PR buat Pemda Bekasi adalah urgensi pembenahan pedagang! Meminjam judul artikel di kolom Kata Kota (Kompas, 27/03), kita sudah sampai di titik di mana harus tegas untuk “Mengembalikan CFD”. Pemkot Bekasi harus tegas mencari cara, sebar petugas dimana-mana, buat himbauan tertulis yang disosialisasikan. Masih belum terlambat untuk membawa kembali CFD sebagaimana tujuannya.


*UPDATE
(kalau tidak salah) mulai 3 minggu lalu, atau sekitar seminggu setelah saya menulis ini, ada fakta menyenangkan di Car Free Day Bekasi, yaitu: jalan CFD bebas pedagang! Pedagang dialokasikan di parkiran gedung maupun jalan-jalan kecil di sekitar jalan utama. Dan good news kedua, kini jalur CFD menjadi lebih panjang, yang semula dari Jembatan Summarecon - perempatan Kayuringin, kini sampai ke perempatan MM - BCP (di depan Islamic Center Bekasi). Yeaaayyy!!

2 komentar

Coba deh ke CFD yang di Harapan Indah, lebih rapi dan tertip and jangan lupa mampir mampir ya ke lapak kami di depan bumbu desa ;)

REPLY

Kalau jualan disana kita bayar berapa ? Kemana ? Pakai stand atau meja sendiri ya ?

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates