29 Juli, 2015




Di awal tahun ajaran baru, rasanya sudah seperti pemandangan standar di jalanan pada pagi hari:
Ngeliat anak sekolah pake atribut nggak jelas. Rambut dikuncir-kuncir. Yang berkerudung pake pita-pita. Tas dari kardus atau karung, topi dari bola, kaos kaki bola warna warni. Belum lagi berbagai jenis makanan dan tentengan yang harus dibawa. Sekali lagi, HARUS.
.
Asli, gue, eh saya, malu banget nyeritainnya. Entah untuk yang terlibat di dalamnya juga malu, atau malah kocak sendiri inget jaman dulu.


Kenapa saya malu?
Karena saya pernah jadi bagian warisan dan tradisi tolol macam itu.
.
Saya mengalaminya saat masuk SMA tahun 2003. Selain atribut nggak perlu, Masa Orientasi Siswa (MOS) juga dihiasi dengan: ngejar-ngejar tanda tangan kakak kelas, melakukan perintah mereka demi dapet ttd nggak jelas. Dan satu yang paling nggak saya mengerti kenapa ide ini harus muncul di kepala those-who-called-kakak kelas: Tes mental.  Jadi semua peserta ada di kelas masing-masing, duduk diam, dan akan muncul segerombolan kakak kelas bermuka sangar dan jutek yang marah-marah, membentak, dan mengintimidasi. Peserta yang sakit atau lemah jantung diharap info ke PIC kelas dan kemudian mereka akan dibebaskan dari sesi ini. Nggak sedikit yang pingsan atau nangis-nangis. MOS juga jadi ajang bidik membidik, gebet menggebet. Biasanya anak baru yang ganteng, kece, keren dan cantik punya 2 resiko: disukai kakak kelas, atau malah dilabrak karena dianggap nyebelin.
.
Malu karena 12 tahun setelahnya, tahun 2015, saya masih melihat MOS dengan atribusi macem-macem kayak gitu. Saya sih nggak tahu ya apakah ‘tugas’ minta ttd dan lainnya masih ada atau (akhirnya) sudah dihapus. Tapi setidaknya yang kasat mata masih ada. Beberapa hari ini, saya sering berpapasan dengan anak SMP dan SMA baru dengan atribut aneh (yang sama persis dengan yang saya lihat sejak tahun 2000, 15 tahun lalu!).
.
Yang bikin malu adalah, 5 tahun belakangan gadget dan internet berkembang sangat luas dengan berbagai aplikasi kekinian yang canggih banget. Berita dan trend pastinya update. Apalagi tentang lifestyle. Dibandingkan dengan 15 tahun lalu ketika HP baru satu dua orang yang punya, tapi Plonco, MOS dan semacamnya masih dijalankan dengan cara yang gitu-gitu juga.

Yang mereka lakukan: melanjutkan tradisi. Dulu gue digituin, ya gue ngegituin. Dari dulu begitu, ya sekarang kenapa enggak begitu?

 curhatan di Path

Ironi memang. Bayar sekolah tidak murah, orang tua menabung dan berupaya mencari uang sekolah, bertahun-tahun mengumpulkan. Lulus sekolah juga tidak mudah. Murid belajar mati-matian, orang tua bahkan rela membayar lebih supaya anaknya bisa les, bimbel, dst.

Padahal seharusnya murid baru diperlakukan istimewa. Kenapa? Uang bangunan sekolah nggak kecil, shay. Belum lagi uang seragam, buku, dan lainnya. Anak baru juga akan menjadi sumber pemasukan sekolah 3 tahun ke depan. Seingat saya, MOS juga ada biaya sendiri yang dibebankan ke wali murid. Sekolah dapet pemasukan banyak, pastinya. Rasanya kayak diludahin nggak sih, udah cari duit, bayar mahal, eh anaknya dikerjain dan diomel-omelin kakak kelasnya. Sebagai 'orang lama', bukankah seharusnya pandangan positif tentang sekolah yang harusnya dibangun pada anak baru?

Apalagi nyari atribut MOS itu menguras waktu, pikiran dan uang. Sesuatu yang mungkin ditertawakan panitia MOS.Lihat deh, istilahnya macem-macem! Belum lagi aturan dan tata tertib yang dibuat demikian kaku, seakan-akan kesempurnaan hanya milik kakak kelas dan kesalahan milik anak baru, simak aja peraturan MOS di SMK Telkom Jakarta. 'Ngeri' bacanya.  

 sumber: Akun Path Danasmoro Brahmantyo

Waktu SMA, saya belum paham hal ini. Yang saya tahu adalah ini bagian dari proses awal masuk sekolah. Kalo nggak ikut, saya bakal dihukum (oleh kakak kelas. *sigh*). Lagipula nggak usah banyak protes, semua anak SMA juga ikut MOS model begini semua. Ini tradisi. 

Liat aja nih alasan 'kakak kelas' di SMKN 4 Tangerang waktu sekolahnya disidak Mendikbud Anies Baswedan. Katanya membangun teamwork. Dan katanya lagi, doi nggak tahu kalo atribut aneh di MOS itu dilarang. Aku turut sedih, dik Hafiz. Henponmu dipake buat apa? Googling dikit bisa dongs.
   
Sementara itu Ketua Panitia MOPDB SMK Negeri 4 Tangerang Muhamad Hafiz Fatahilah menjelaskan, pemberian tugas untuk mengenakan atribut pada siswa baru yang mereka lakukan sebenarnya tidak bertujuan untuk upaya perploncoan. Tugas-tugas yang diberikan, memiliki tujuan kreatifitas dan juga kedisiplinan pada siswa.
"Kami panitia memohon maaf jika selama masa orientasi ini siswa baru merasa diplonco. Namun jujur dari hati yang paling dalam, kami hanya ingin sama-sama saling mengenal. Membangun team work. Karena bagi kami, adik kelas adalah seperti adik kandung sendiri yang harus dibimbing," ucapnya. (SUMBER)
Anies kemudian menyampaikan, bila tujuan untuk mendisiplinkan siswa baru jelas salah. Karena para senior tidak memakai atribut aneh.
"Jika kalian dipermalukan atau direndahkan kalian harus berani melawan. Jumlah kalian lebih banyak dari siswa senior. Kalian harus berani menolak tindakan perpeloncoan," tegas Anies.

Tak lama Anies kemudian memanggil ketua panitia. Siswa bernama Hafiz itu kemudian meminta maaf. Dia menjelaskan, tak ada maksud melakukan perpeloncoan. Dia juga mengaku tak tahu kalau mengenakan atribut aneh itu tak dibolehkan. (SUMBER)

Udah Flo, ngomel-ngomelnya? Hahahaha. Nih, ada beberapa ide MOS yang rasanya lebih bermanfaat dan sejalan dengan ide awal dilakukannya MOS.

.

1. Mau kompak? Coba dong bikin project bareng. Misalnya per kelas dikasih tugas untuk bikin grup musik dengan peralatan rumah tangga. Lagu bebas, aransemen bebas. Nanti ditampilin di acara penutupan MOS.
 .
2. Mau edukatif? Bisa aja dengan membuat kelompok-kelompok siswa, dan tiap kelompoknya diminta bikin presentasi yang menarik, interaktif dan edukatif tentang suatu daerah di Indonesia. Menggabungkan lagu, pakaian, dan hal-hal unik dari daerah tersebut.
.
3. Mau peduli lingkungan? Bisa aja dengan bikin campaign ‘1 orang 1 pohon’, plus praktek langsung menanam pohon. Ini bisa jadi project jangka panjang, karena pohon perlu perawatan.
.
4. Mau kreatif? Bikin kompetisi film pendek tentang sekolah. Jadi murid baru disuruh eksplor sekolah dan mencari angle menarik untuk dijadiin video.
.
5. Bikin pelatihan! Bisa pelatihan self defense, latihan kalau menghadapi situasi darurat, apapun deh.
.
 Ada ide lain? Boleh ajaaa.... Yang penting guru dan para pimpinan sekolah harus betul-betul terlibat, mengawasi, dan bersama-sama dengan murid (yang muda-muda) untuk bikin susunan acara MOS yang menarik, edukatif dan seru. Liat deeh, artikel tentang MOS di sebuah sekolah yang melakukan kegiatan di luar ruang/outbond untuk murid baru (baca di sini). Berharap bangeeet, tradisi MOS yang so-last-year dan gitu-gitu aja akan segera berubah. Aamiin! Sedih kan kalo suatu hari nanti anak eike (dan orang tuanya!) masih dikerjain tradisi nyebelin macam ini :''))))

PS: Kalau ada saran ataupun laporan tentang penyimpangan saat MOS, silahkan sampaikan di website ini: http://mopd.kemdikbud.go.id/ 

2 komentar

Bener banget. Saya paling anti sama yang namanya MOS macam plonco-ploncoan gitu, gak menghasilkan apa-apa kecuali budaya balas dendam turun temurun. mBully orang lain kok dipelihara.

Dan berharap banget ada budaya MOS yang lebih kreatif dan membuat siswa baru menjadi lebih 'cinta' sama sekolah dan belajar. Usulan ide MOS nya itu keren-keren deh ...

REPLY

Yess, seneng kalo ada yang sependapat :D
Gak paham deh kenapa dedek-dedek panitia masih seneng melanjutkan tradisi. Pernah kepikir juga sih, jangan-jangan karena memang definisi MOS yang dia ketahui ya seperti itu. MOS = kepang-kepangan, dll.

Iyaa sama banget! Semoga nggak ada lagi tradisi 'elu tes, elu bayar, elu dikerjain' ini, digantikan dengan tren orientasi siswa yang kekinian, seru dan bermakna. Aamiin.

Makasih udah meninggalkan jejak, om Bart! :)

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates