17 September, 2015

Salah satu highlight dalam perjalanan singkat saya ke Kuala Lumpur minggu lalu adalah transportasinya yang menyenangkan.

Sebagai pecinta kendaraan umum (tapi cinta juga sama kendaraan pribadi, hehehe), saya begitu menikmati pengalaman kesana-kemari di KL pakai transportasi massal. Naik taksipun nggak pernah ada di list, karena moda yang lain jauh lebih murah dan tetap nyaman. Asheik syekali!

Kesan positif itu sudah muncul saat turun pesawat dan masuk ke area bandara KLIA 2. Bandaranya bagus, luas, yeah meski petugas imigrasinya jutek-jutek bener. Hahaha. Dari sini saya ke Ground Floor untuk naik bus ke KL Sentral dengan harga sekitar RM 10. Bus langsung jalan menuju pusat kota KL. Jalanannya bersih dan lancar. Sampai di perhentian bus di KL Sentral dan mau melanjutkan perjalanan, saya harus menuju 1 lantai di atasnya. Yang saya lihat adalah tangga manual menuju ke atas. Edan, pikir saya. Dapet salam dari nenteng-nenteng koper naik tangga, shay! Tapi ternyata ada eskalator dan lift di sisi sebelah utaranya. Aman lah betis kita. Hehehe.
KL Sentral siang itu nggak begitu sibuk. 3 hari ke KL, 3 hari juga saya ke KL Sentral. Yaitu saat dari KLIA 2 mau menuju Bukit Bintang, Kemudian Bukit Bintang – Batu Caves, Batu Caves – Genting, dan juga Bukit Bintang – KLIA 2. Mantafs, gampang, murah dan cepat!

Habis beli koin (tiket) di Vending Machine untuk naik monorel. Di akhir perjalanan pada pintu keluar, koinnya dimasukkan lagi ke dalam mesin. Gak bisa dibawa pulang, dan gak perlu pakai/antri uang jaminan tiket kayak di Jakarta. So fast and eazeee! Nunggu monorelnya juga nggak pake lama.

Menuju stasiun LRT (Light Rail Transit) di depan Suria KLCC. Habis foto-foto di Twin Tower, naik ini menuju Masjid Jamek. Seneng banget, transportasi umumnya nya ada di banyak titik. Nggak pake capek juga, karena ada eskalator dimana-mana.

Naik KTM Komuter ke Batu Caves. Keretanya bersih dan sepi. Mungkin karena hari kerja dan lokasi Batu Caves bukan di pusat kota. Jadi berasa lagi naik KRL ke Bogor. Hahaha. Asik banget, lokasi stasiunnya bener-bener sebelahan dengan Batu Caves. 


Menunggu datangnya monorel. Perjalanan naik monorel selalu seru karena bisa sambil lihat-lihat kota dan aneka gedung di KL dari atas. Proses keluar masuk penumpang juga relatif tertib. Karena kecepatannya lumayan tinggi, penumpang biasanya baru siap-siap untuk turun pas kereta udah berhenti sempurna. Kalo naik KRL di Jakarta? Jika mau turun di Jatinegara, harus udah siap-siap minta penumpang lain geser mulai dari Stasiun Klender. Soalnya takut gak bisa keluar saking padatnya!

Ini kesukaan saya, bus GoKL! Perhentian busnya dekat dengan tempat saya menginap di Paradiso Bukit Bintang, nunggunya nggak lama, busnya bagus dan dingin, perhentiannya banyak, dan HRATEYS! Kaca nya juga lebar-lebar, jadi jelas mau lihat pemandangan di pusat-pusat aktivitas dan gedung-gedung di Kuala Lumpur. Jalannya juga ngebuut, cepet sampenya :))



Jalanan di KL tergolong lebar-lebar, bersih dari sampah dan nggak banyak billboard, spanduk, atau iklan apalah yang selalu menghiasi mata kita di Jakarta. Ada sih beberapa pedagang asongan yang jualan tidak di tempat semestinya, misalnya pedagang jagung rebus di sisi jalan central market ataupun penjual sarapan pagi dadakan di beberapa titik jalan. Selama 3 hari, mungkin intensitas saya melihat penjual seperti ini masih bisa dihitung pakai 1 tangan. Naik bus pun nggak pake ngetem, cepet sampai :D


pedestrian-friendly... :)

 Pembangunan MRT. Jadi alasan kenapa beberapa titik jadi macet dan tersendat. Tapi macetnya nggak lama.

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates