29 Desember, 2015

Bandung begitu asik dinikmati sambil naik motor. Kemana aja ayooo, macet nggak berasa, dan lebih hemat plus santai pastinya. Salah satu destinasi yang saya tuju adalah Punclut, dimana bisa makan malam sambil menikmati city light kota Bandung, dengan gaya makan lesehan dan Sunda banget! Kesan makan di sini bener-bener ‘berasa’ buat saya dan Esti, temen seperjalanan. Bukan makannya, tapi perjalanan pulangnya. Hehe

Berani bawa motor, sis?
Iyes, saya punya sim C dan terbiasa naik motor dari rumah ke….. stasiun terdekat. Hahaha. Yaa saya pede bawa motor di kota orang karena sudah biasa naik motor keliling ibukota, surat-surat lengkap dan juga beberapa kali ke Bandung. Tapi tetep aja bang, sebelumnya kan ke Bandung biasanya naik angkot, sama driver kantor ataupun sama keluarga dan adek yang juga tinggal di Bandung. Bawa motor dan menentukan jalanan sendiri adalah pengalaman pertama. Untungnyaaa ada Google Map!

Dari beberapa minggu sebelumnya, saya sudah titip pesen ke adek: pinjemin motor matic yang sehat (diutamakan Yamaha Mio/Honda Beat), STNK hidup, dan jangan lupa jas hujannya. Lalu kata adek saya: Hedeeeh ribet -___-. Hahaha. Ya safety first kan yaaa. Matic karena saya terbiasa bawa motor matic, motor matic bisa ditaro sesuatu di ruang kaki jadi nggak berat, dan lebih asik buat saya yang kemana-mana pakai rok. Ihiy banget kaan.

Sebagai pengatur itinerary *halah*, saya memilih Punclut secara random aja. Hahaha. Niatnya sih karena teman saya, Esti, baru melewati perjalanan panjang BSD – Bandung yang memakan waktu… 14 jam aja sis! Kayaknya Punclut asik buat selonjorin kaki sambil liat pemandangan kaaan.


sumber foto 1: sini - sumber foto 2: sini

Dari Pool X-Trans di Cihampelas, kami lewat Tamansari – ITB/Bonbin - Ciumbuleuit untuk sampai ke Punclut. Semakin ke atas, suasananya semakin lengang. Sampai di pertigaan, kami belok kiri melewati rumah sakit, dan ketemu pertigaan lagi, kemudian belok kanan (belok kanan ini karena mengikuti feeling aja hahaha, Alhamdulillah bener). Jalanan semakin menanjak dan berkelok-kelok, serta minim lampu jalan (di beberapa titik malah cuma ada cahaya dari lampu motor karena gelapp gulita). Sekitar jam 7 malam jalanan masih lumayan ramai, jadi yaa lanjut ajalah.

Perjalanan menuju Punclut ini kami masih ketawa-tawa aja di jalan. Yaa nggak sangka aja ternyata naiiik turuuuun curam gelaaaaap, dan jalannya agak sempit. Kemudian kami makan di Saung Punclut Sangkan Hurip 1. Kami memilih menu 2 nasi merah, ikan lele, ayam goreng, cumi, jambal, tempe, serta sambal dan lalapan dengan es teh manis. Totalnya Rp 75.000 berdua.

Kalo dicontek di Google Map, ada jalan yang lebih singkat untuk menuju tempat penginapan kami di Dago. Jadi dari Punclut, ke arah atas lagi, nggak perlu ke Ciumbuleuit. Kata kang parkir yang kami tanya juga begitu, nanti kami akan ketemu perumahan, dan teruuuus aja lewat. Okelah. Insya Allah mari kita hadapi perjalanan ini *tsah*

Kamipun mengikuti jalanan yang sudah dijelaskan. Di beberapa titik, nggak ada lampu jalan dan gelap gulita. Saya nggak bisa memperkirakan seberapa jauh kita sudah berjalan, tapi kemudian kami sampai di satu titik dimana: CHOY! PUTER BALIK AJA!. Perjalanan yang haha hihi berubah jadi grogi dan degdegan karena jalan semakin menanjak menikung, sepi dan gelap. Kampungnya juga senyap. Sepertinya memang saya salah jalan, tapi jalur ini sama sekali belum pernah saya lewati dan perkirakan. Serius, di sini saya panik. Hahahaha.

Akhirnya kita puter balik. Lewatin tempat kita makan lagi, dan akhirnya daripada nyasar lagi, kami memutuskan untuk lewatin Ciumbuleuit lagi. Punclut – Ciumbuleuit – Dago sih muter-muter banget, sudah di atas, kebawah lagi baru ke atas lagi. Tapi gimana nyai, udah malem dan itulah jalan yang saya tahu. Mana sinyal jelek pula kaan. Di sini jalanan agak ramai. Lega lah karena nggak sendirian, tapi ada masalah lain: bensin hampir habis. Rupanya karena jalanan yang naiiiik dan turuuuun, bensin terkuras. Gak ada yang jual bensiiiin! Inilah degdegan kedua, karena waswas kalo bensin habis sementara kita masih jauh dari jalan besar.

Akhirnya sampe juga di simpangan di ujung jalan Ciumbuleuit, belokan Hotel Padma. Okeh, Ciumbuleuit kan banyak rumah dan hotel bersatpam, kalo ada apa-apa, bisa diminta tolong. Ga ada pom bensin pulaaa di Ciumbuleuit. Alhamdulillah akhirnya sampai hingga Dago, dan menemukan pom bensin di seberang Hotel Wirton. Huwoooowwww bahagia dan legaaaa…

Mungkin ke Punclut nggak akan terlalu ‘bercerita’ kalo kita nggak pake nyasar malam-malam dan hampir kehabisan bensin. Agak ngeri euy, karena setelahnya baru tahu kalo daerah situ sempat rawan begal. Cukup sekali aja yahhhhh, gak lagi-lagi ke Punclut malem-malem. Trauma shay! Masih ada nilai positifnya sih, karena menguji ketahanan saya bawa motor dengan tetap stabil. Tapi ya…. Cukuplah buat pelajaran dan cerita, tapi nggak boleh diulangin lagi. Makan-makannya mah biasa aja, tapi perjalanannya bener-bener bikin deg deg serr. Hahahha. 


 Ulasan tentang Bandung lainnya:
Mengunjungi Tebing Keraton Naik Motor -- klik di sini
Lebih Dekat dengan Hewan Buas di Kebun Binatang Bandung --  klik di sini
Makan Malam Ala Mahasiswa di Warung Misbar -- klik di sini
Lihat Pembuatan Tahu Lembang, Salah Satu Tempat Seru di Lembang -- klik di sini
Belanja di Pasar Buah Lembang, Lengkap dan Segar! -- klik di sini
Ke Observatorium Bosscha, Jadi Inget Petualangan Sherina -- klik di sini
Cafe D' Pakar, Rekomendasi Tempat Hang Out yang Sejuk dan Cantik -- klik di sini 



2 komentar

Salut atas keberaniannya :)

REPLY

Hai Etha! *sok ikrib* kalo diinget-inget lagi, sepertinya lebih tepat dibilang 'nekat' daripada berani... hihihi

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates