16 Desember, 2015

  
Sebagai makhluk mainstream, beberapa bawaan yang haram untuk tidak dibawa antara lain dompet dan handphone. Nggak bawa salah satunya? Hidup langsung bingung. Beda dengan mukena yang tidak selalu dibawa. Prioritasnya seakan ada di bawah, nggak bawa mukena juga nggak apa-apa.

Mungkin alasannya, karena dompet dan handphone adalah benda yang begitu personal. Uang, berbagai kartu, nomor kontak, dan akun chatting yang selalu aktif. Hmm, jadi agak lupa kalau mukena sebetulnya punya sifat yang jauh lebih pribadi. Itu ibadahmu, kepada Tuhanmu, sumber kehidupanmu.

Ini sebetulnya jadi toyor-an untuk diri sendiri. Menemukan tempat sholat yang kurang sip dan mukena nya kotor sudah sering saya alami, bahkan di hotel-hotel berbintang 4 dan 5 sekalipun. Salah satu momen yang membuat saya JLEB dan mikir adalah ketika menghadiri pernikahan salah satu sahabat. Penampilan tentu aja kece, baju bagus, jilbab cantik, tas matching, sepatu bersih. Kemudian saya sholat Dzuhur di Masjid depan gedung resepsinya. Pakai mukena seadanya, ternoda (hehe maksudnya ada noda nya), dan aroma yang kurang enak. Karena nggak ada pilihan, jadi dipake aja.

Sungguh malu rasanya. Baju yang saya pakai untuk acara itu mungkin dbagus dilihat. Tapi saat ibadah… saya malah pasrah dengan mukena yang nggak layak. Padahal nggak mungkin saya ke resepsi pernikahan dengan baju lusuh, apalagi baju kotor dan ada nodanya. Berani sekali, dan kok menghadap Allah malah compang camping gitu (?).

Saya jadi ingat… ibu saya punya banyak sekali jenis fashion item yang sangat modis dan up to date untuk berbagai kebutuhannya. Apiknya ibu saya dalam berpenampilan juga berbanding lurus dengan koleksi mukena dan peralatan sholat nya.

Dulu saya protes. Boros banget sih beli mukena. Dan (anehnya, beda dengan barang-barang lain, hahaha) ibu saya nggak pernah larang saya tiap kali kita ke Tanah Abang dan saya menunjuk mukena bagus. Biasanya langsung ditawar dan dibeliin (padahal tau kalo dulu sholat saya sering bolong). Dan di Tanah Abang juga, ibu saya pernah bilang “Kalo suka, beli aja. Masa kita bisa gampang beli baju, tapi mikir-mikir beli mukena. Masa bajunya bagus tapi mukenanya itu-itu aja”. 

 musholla di Mall. Alhamdulillah banyak mall dengan musholla bersih dan wangi. 
sumber foto: tourismwatchnews

Intinya… kalau kita sudi untuk ber-repot-repot dandan dan berpenampilan layak di aktivitas sehari-hari, jangan sampai kita malah perhitungan untuk urusan ibadah. Tas berat dengan payung kalau-kalau hujan, make up kit kalau-kalau harus poles lipstick lagi, powerbank dan charger jaga-jaga baterai gadget habis, nah mukena bersih juga harus ada! Jangan pasrah dengan pikiran “ah nanti di sana juga udah disediain mukena” atau “nanti pinjem aja mukena temen”, lha itu ibadahmu lho sis! Bawa mukena juga berdampak baik dan positif untuk kualitas ibadah. Coba deh baca di sini.

Memang poinnya bukan hanya tentang pakaian/mukena apa yang kita kenakan, tentu jauh lebih dalam dari itu. Sebetulnya ini lebih kepada bentuk penghormatan kepada Yang Maha Menciptakan, jangan sampai kalah prioritas dengan momen ketemu sesama manusia. 

Tulisan ini untuk menampar diri sendiri sih sebenarnya. Supaya nggak lagi mikir-mikir buat ‘bawa mukena apa nggak yaaa’, terutama kalau beraktivitas di luar rumah dan kantor. Syukur-syukur bisa menggerakkan hati yang lain juga. Aamiin :)

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates