26 April, 2016

Sumber foto: banjarmasin.tribunnews.com

Akhir Maret lalu, saya berkesempatan ke Banjarbaru selama 5 hari. Dengan tetap mengusung motto “bukan kemana-nya, tapi kenikmatan perjalanan tergantung kita memaknainya” *ciyee*, perjalanan dinas kali ini terasa cukup menyenangkan. Setidaknya nambah list tempat makan yang pernah dikunjungi, dan juga ke pusat oleh-oleh yang paling heitz se-Kalimantan Selatan.


Perjalanan tanpa beban dan nikmat ini dimulai dengan iseng-iseng nonton film ‘Surga yang Tak Dirindukan’ di pesawat.Di sini saya baru kepikiran kalo…. Masya Allah, Fedi Nuril suami ideal banget deh ah! Baru kali ini saya nonton film di pesawat dan NANGIS! Huahahahhaa. Kayaknya berasa pedih banget suami yang sholeh dan baik ternyata berpoligami *turut merasakan apa yang Laudya Chintya Bella rasakan* *meski wajah kita jauh sekali* *punya suami baik, nikah lagi ama Raline Shah* *duh ampun deh ini gua mellow bener*  Pas nangis, baru ngeh kalo dua kursi di sebelah saya adalah bapak-bapak bercincin banyak. Kira-kira dia ngeh gak ya? Hahaha bodo amat. Lagi syahdu-syahdunya, belom sampe ending, eeeehh keburu sampe di Kalsel. Ini kentang sekali! Hahahaha.

Yang saya suka dari Banjarbaru: (1) dekat sekali dengan bandara, (2) kota nya Islami, pada Kamis sore, tempat hiburan dan beberapa tempat makan tutup karena banyak pengajian, (3) banyak yang Muslim dan berkerudung, (4) nggak pernah kena macet.

Most of all, Banjarbaru cukup tenang dan bersahabat! Here’s the highlight:


1. Hotel Montana Syariah


Ini adalah kali pertama saya nginep di hotel syariah. Atmosfirnya memang lebih religius, semua pegawai perempuan berkerudung, tidak ada alkohol, disediakan sajadah dan mukena, arah kiblat, juga channel TV siaran dari Mekah dan beberapa stasiun TV arab lainnya. Selama di sini saya hanya nonton channel ini, karena selain tertarik dengan visual yang ditampilkan, channel lainnya kurang jernih gambarnya. Apalagi HBO dll… hehe.

Sebagai hotel budget (kalau tidak salah sekitar Rp 460.000), saya nyaman sekali tidur di sini. Ruangannya cukup lebar, ada beberapa meja dan laci, juga ada lemari dan kulkas. Jadi semuanya bisa rapi. Di meja tersedia ceret air panas, kopi teh susu gula plus air mineral, juga toiletries yang cukup komplit (meski nggak dipake juga). Semua barang bisa saya tempatkan dengan rapi. Untuk sarapan, saya sih puas-puas aja sepanjang ada buah potong dan roti. Baru deh kalo perut masih ada space, tambah nasi atau mie goreng.

Minusnya adalah kamar mandi yang lampunya redup. Begitu juga kloset yang bernoda, serta air shower nya yang kemana-mana. Jadilah setiap mandi, kamar mandi jadi becek. Oh iya, hair dryernya tidak bisa dipinjam karena rusak. Hahaha keringin rambut manual deh!

Hotel Montana Syariah ini cukup strategis, dekat dengan berbagai tempat makan, di seberangnya ada kolam renang, dan nggak jauh dari toko Sahabat Sasirangan, Alfam*rt dan juga taman Van Der Pijl. Oh iya, WiFi nya kenceng!


2. Dikerjain Taksi

Tentu gak afdol kalo belum nyoba makanan khas nya. Habis check in, mumpung masih rapi dan masih sore, saya pergi ke soto Anang. Iya tshay, kalo udah mandi dan pake baju rumahan kan udah males lagiii rapih-rapih untuk keluar. Menurut resepsionis, kita bisa dipesankan taksi argo. Kemudian datanglah taksi berwarna orange dengan kaca cukup gelap. Beberapa menit jalan, saya sadar kalau si bapak driver tidak menyalakan argo. Sayapun tanya, dan dijawab “Ooh, mau pake argo ya”. Ya menurut nganaa.

Oh iya, di Banjarbaru ini saya pergi dengan rekan sekantor, bu Rini. Sepanjang jalan ke Soto Anang, kami ngobrol. Kalo dilihat dari isi obrolannya, semua orang pasti paham jika kami ini datang dari kota lain. Sepanjang jalan saya hidupkan Google Maps, yaa kan kita anaknya kepo.

Saya paham kalau si bapak driver membawa kita lebih jauh daripada yang seharusnya. Pas saya Tanya “ini lewat mana pak?” si bapak hanya menjawab “kalo lewat situ suka ada razia polisi”. Tadinya dia setuju untuk menunggu kita makan dan mengantar ke hotel lagi. Kan biasanya gitu ya, argo nggak usah dimatiin, daripada harus cari taksi lagi. Eh pas sudah deket, dia bilang nggak mau nunggu. “Nanti saya panggil teman saya suruh jemput ke sini”, katanya.

Saat kita sampai di depan rumah makan, argonya Rp 21.500. Saya sudah niat kasih Rp 30.000. Sebelum ngasih, dia udah ngomong duluan “Rp 40.000 ya! Di sini minimal Rp 40.000!”.

Sampai selesai makan, nggak ada tuh taksi yang jemput kita. Akhirnya kita malah naik angkot ke hotel, hehehe.


3. Makan di Soto Anang

Selfie bersama ibu Rini Djati

Begitu sampai, kami langsung mengintip dua etalase besar di bagian depannya. Ada ayam potongan besar, telur, potongan ketupat, juga sate yang sudah matang (mungkin tinggal dihangatkan kalau ada pesanan). Saat saya masih mencerna daftar menu, bapak penjual langsung bilang “yang spesial aja bu, enak!”. Oh oke, baiklah, soto banjar spesialnya dua!

Pas soto dateng, eng ing eng… saya agak diam terpaku. Hahaha. Tampilannya messy dan tidak instagramable. Saya yang biasanya refleks foto-foto aja bingung harus foto kayak gimana hahahaha.


Di pikiran saya, soto itu di mangkok, kuahnya banyak dan hangat. Beda dengan soto banjar di sini. Disajikan di piring makan lebar, terdiri dari potongan ketupat, suwiran ayam jantan, potongan telur bebek kemudian disiram kuah kaldu gurih yang keruh kemudian diberi bawang goreng. Oh iya, diberikan juga paha ayam utuh, biar lebih joss! Saya suka kuahnya yang gurih, cocok dengan lontong dan telur rebus, berpadu bawang goreng. Sayangnya saya kurang suka ayam kampung, paha nya pula. Hihihi.

Well, untuk penyuka soto banjar, sepertinya ini cukup diminati dan recommended. Untuk dua soto banjar spesial plus teh manis hangat, kami membayar kurang lebih Rp 80.000.


4. Belanja di Martapura



 Saya excited sekaliiii di sini! Terbayang beragam aksesoris batu yang cantik dengan warna memikat. Atas rekomendasi kenalan-kenalan di Banjarbaru, direkomendasikan untuk datang ke Toko Kalimantan. Di sana harganya sudah fix, nggak usah nawar. Harganyapun cukup terjangkau.

Walaupun sudah makin jarang pakai aksesoris, tapi selera saya akan pemanis tubuh ini masih sangat tinggi, hahaha. Tokonya rame bangeeet, untungnya pegawainya ramah, informatif dan cukup lucu. Kalung nya bikin kalap, pilihannya banyak dan bagus-bagus. Sayangnya saya sudah tidak pakai kalung lagi karena bisa balapan sama kerudung. Mostly yang saya beli adalah gelang-gelangan, bros dan sarung. Toko ini juga nggak pelit plastic/kertas bungkusan. Misalnya kita beli 20 gelang, maka kita akan diberikan 20 kertas kemasan bertuliskan nama dan alamat toko. Jadi kan asik yaa untuk oleh-oleh. Ya sekalian untuk brand awareness mereka juga kan.

Di sini saya juga beli ikan sepat. Lucu banget ikannya, sudah dirangkai rapi dan dijemur rapi. Harga perkilonya Rp 140.000, saya sih beli seperempat kilo aja, cuma biar ada tanda mata. Hehehe.

 ------
Sebetulnya ada 2 wishlist yang belum kesampaian:

1. Sederhana sekali, saya pengen makan di AZ Express, restoran fast food lokal. Hehehehe.
2. Jalan-jalan ke pasar apung Lok Baintan
3. Melewati Jembatan Sungai Barito


Semoga ada kunjungan selanjutnya ke Kalimantan! :)


Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates