28 April, 2016




Terakhir kali agaknya sudah setahun lalu. Naik pesawat ke Palembang, lalu jalan darat sekian jam ke Tanjung Enim. Mulai tidur saat di Indralaya, lalu istirahat untuk makan dan cari toilet di Prabumulih, gak lupa mampir ke Rumah Makan Tahu Sumedang untuk beli gorengan. Kemudian jalan lagi menuju Muara Enim, melanjutkan tidur pulas sampai miring-miring. Kalau sudah lewat GOR dan kota Muara Enim, berarti tak sampai 15 menit lagi kita sampai ke area tambang dan perumahan Bukit Asam!




Pada masanya, dalam 1 bulan mungkin ada sekian belas hari yang saya lewati di Tanjung Enim. Tanjung Enim memang jauuuuh sekali rasanya. Jalanan ke sini umumnya hanya memiliki dua lajur, tidak terlalu lebar. Jadi siap-siap untuk dibawa driver melaju kencang dan menyalip mobil di depan dengan kecepatan tinggi. Yang dihadapi mulai dari mobil pribadi, mobil bahan bakar, hingga truk muatan batubara yang banyak sekali jumlahnya! Belum lagi motor yang kecepatannya nggak kira-kira.

Setelah kira-kira 5 sampai 7 jam perjalanan, sampailah di Tanjung Enim. Memasuki komplek pertambangan Bukit Asam, jalanannya mulus beraspal, sesekali berbukit. Melewati masjid besar, GOR, rumah sakit, lalu masuk di pintu gerbang perumahan. Di bagian depan ada area golf, lalu lurus lagi ada Town Site, atau perumahan untuk karyawan. 

Tempat yang biasanya saya tempati namanya Base Camp, yaitu tempat menginap tamu atau rekanan tertentu, atau karyawan PTBA dari wilayah lain. Di depan Base Camp akan melewati pos satpam lagi yang bersebelahan dengan fasilitas fitness center dan lapangan bola luas. Selanjutnya kami akan ke kantor pengelola, untuk mengambil kunci. Di sini suka deg-degan, bakal dapet rumah nomer berapa nih? Hhahaha. Soalnya saking seringnya ke sini, saya sudah punya preferensi, rumah nomor berapa yang kotor, gak nyaman, atau malah hawa nya angker. Sampai kemudian pihak pengelola paham kalau saya cenderung memilih rumah nomor C37 yang dekat dengan jalan besar dan lampunya terang.



Well, sebenarnya mau ditaro di rumah berapapun, sebetulnya saya suka ngerasa takut. Hahaha. Apalagi pengemudi dari Palembang yang membawa kami nggak jarang menghadiahi kami dengan cerita seram dan menyebalkan.

Di komplek perumahan ini, hidup rasanya lebih tenang. Jalanan super lancar, mulus tanpa lubang. Anak-anak bebas main dan lari-lari. Mau main sepeda, sepakbola, futsal, berenang, basket, semuanya tersedia di dekat rumah. Biasanya kalau pekerjaan selesai di sore hari, saya juga suka jalan-jalan di sekitar kompleks. Menikmati udara yang segar, jalanan yang lengang, pemandangan rumah yang nggak rapet dengan sekitarnya dan punya halaman yang cukup asik dan tidak berpagar, serta pohon yang rindang. Kalau  malam, seringkali saya mendengar dari kamar suara babi ataupun hewan lain yang sedang lewat di depan.


Urusan makan, kadang repot, kadang mudah. Mudah karena ada Mess Hall, ruang makan besar di tengah-tengah komplek. Di sini disediakan makan 3 kali sehari untuk tamu-tamu. Mau diantar ke rumah dengan box pun bisa, tinggal angkat telepon. Meskipun mudah, tapi namanya manusia yahh ceuuu, ada aja ngeluhnya. Ya taste nya kurang pas sama lidah, ya bosen… Kitapun sering makan di luar, dan yang paling favorit (dan dekat) adalah Rumah Makan Hasan dan Rumah Makan Abeng. Dua-duanya Chinese food, dan dua-duanya punya daya tarik. Saya pernah tulis dalam postingan tersendiri, tentang enakan mana RM Abeng dan Hasan.


Oh iya, kalau mau kemana-mana, kita harus pesan mobil dulu di pool nya. Jarak antara rumah dan Pusdiklat tempat saya ‘ngetem’ saja sekitar 3km, tentu tidak jalan kaki-able, kecuali niat mau olahraga. Apalagi mau ke area luar PTBA, misalnya makan atau beli kebutuhan di minimarket. Nah, pesen mobil ini ada drama sendiri, karena ada operator telepon pool yang baik, ada juga yang galak. Saya beberapa kali diomelin karena suka dadakan order. Hahaha. Sampe saya curhat ke seorang pegawai di Pusdiklat, dan kemudian sayapun diajak ‘main’ ke pool, supaya kenal secara personal dan nggak ‘musuhan’ lagi.



Saat ke sini di bulan Januari, pas bangeet waktunya dengan musim duren. Oh tentu aja saya merasa ……….. biasa aja. Ya eyalaah saya kan bukan penyuka duren. Baunya huiksss. Tapi di sini saya nyobain duren jatohan, dibeli langsung di bawah pohon. Dari Pusdiklat PTBA masih naiiiik ke atas, nah di sana ada pohon duren. Bahkan nemu duren yang cakeeeep mulus dan legit banget. Kalau nggak salah, untuk 1 karung duren, si pemilik pohon menjual dengan harga Rp 100.000. Sekarung choy!

Dalam sekian kedatangan ke PTBA Tanjung Enim, saya beberapa kali site visit. Ke BWE (Bucket Wheele Excavator), ke TLS (Train Loading Station), ke Bengkel Utama, ke area Stock Pile, ataupun cuma lihat-lihat di anjungan aja. Lokasi-lokasi ini, berikut tempat tinggal dan segala fasilitasnya berada di dalam satu area kompleks PTBA. Tiap kali ke sini, yang membawa kami adalah mobil double cabin dengan bendera di bagian depannya. Terasa beda, seru sekaligus keren, karena mobilnya tinggi dan selaw-selaw aja ngelewatin kontur jalan yang berbeda.





Well, ditempatkan di proyek manapun saya berusaha supaya bisa menikmati kondisinya. Kompleks PTBA memang jauh sekali. Mau ke Bandara saja harus menempuh ratusan kilometer dengan risiko yang tak terprediksi. Namun selalu ada hal yang bisa dinikmati, dan ujung-ujungnya kangen ke sana lagi. Hehehe.

-------

Cerita lain tentang Tanjung Enim dan PTBA: 
Belanja di pasar, dan main-main ke kolam ikan milik Bukit Asam


4 komentar

Sekarang dimana? masih di c37? yuk main ke c19 xD

REPLY

Balek ke Ibukota dong mas, proyeknya udah beres di PTBA (tapi gosipnya sih ada lagi hehe). Oooh penghuni C19 yaa... Salam kenal!

REPLY

Sis sorry sy bisa minta info untuk di hub ke town site biasanya kalau untuk tlp lgsg ke mess itu gmn yah ?

REPLY

@Unknown
Saya juga nggak punya euy... setahu saya kalau kita adalah tamu/pihak luar, yg memesankan mess di town site adalah satker yang mengundang saya ke PTBA (waktu itu Pusdiklat krn bekerja sama dgn Pusdiklat).

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates