30 November, 2016

Wisata malam naik ke atas Monas bisa jadi pilihan lho. Terutama buat om tante yang kerja di kawasan Jakarta Pusat, dan bosan dengan hingar bingar Jakarta yang itu-itu melulu. Hayuks kita jalan-jalan naik ke Monas, iconnya kota Jakarta! Biar gak malu gituuu, kerja deket Monas tapi nggak begitu kenal dengan isinya *ih ini sih saya sendiri hahaha*.


Sekali-kalinya naik Monas, mungkin itu saat saya SD. Rasanya wow banget bisa lihat kota Jakarta dari ketinggian. Kemudian saat baru lulus kuliah sekitar tahun 2010, sempat mencoba untuk naik ke Monas. Sudah beli tiket. Baju sudah lepek penuh keringat. Jadi naik? Enggak om, antriannya bikin pengen pingsan! Hahahaha. Selanjutnya kalau ke Monas, ya olahraga, ngemil, naik kuda, foto dan lainnya, kecuali naik ke atas. 


Naah, sudah pada tahu kalau puncak Monas kini buka sampai malam? Biar nggak penasaran aja kan shaaay, saya berkantor di dekat Monas, masa iya nggak paham Monas. Kan nggak lucu kalau bisa fasih menceritakan icon negara tetangga, tapi gak paham punya kota sendiri. *walopun akuh adalah anak Bekasi, kakak….


Jam buka untuk naik ke atas Monas untuk siang hari adalah 08.00 – 16.00. Kemudian buka kembali jam 18.00 – 00.00. Ini berlaku untuk hari Selasa hingga Minggu, karena setiap hari Senin libur. Kabarnya, tiket yang dijual terbatas. Untuk tiket 2 orang pada Jumat malam, saya membayar Rp 40.000 (sudah termasuk kartu jakCard, dan saldo Rp 10.000 yang bisa dipakai di tempat wisata di Jakarta dan naik Transjakarta). Diberlakukan tiket terusan yang terdiri dari biaya ke cawan/pelataran bawah Monas, dan juga naik ke atas. Untuk museum dan diorama nya harateys!

Ini rincian harga tiket naik Monas: 
Anak-anak/pelajar: Rp 4.000 (pelataran Rp 2.000, ke atas Rp 2.000) 
Mahasiswa: Rp 8.000 (pelataran Rp 3.000, ke atas Rp 5.000) 
Dewasa/umum: Rp 15.000 (pelataran Rp 5.000, ke atas Rp 10.000)

Saya dan Af ke Monas pada hari Jumat sepulang kerja, jalan kaki dari Tugu Tani. Dengan pede sepenuh hati, berniat masuk dari pintu sebelah Gambir. Ternyata tutup! Akhirnya putar haluan untuk masuk dari pintu IRTI. *Tau gitu naik bajaj atau 502 aja kan yeee* Yang saya lihat, pintu sebelah Gambir dan depan patung kuda Indosat ditutup. Entah memang ditutup atau khusus di hari kerja aja, tapi menurut saya sekarang kalau ke Monas jadi lebih lelah dan lebih banyak jalan, ya. *faktor usia kali kak… hahaha. Maklumin aja yak, sebelum ke Monas habis yoga di kantor, lanjut jalan kaki sampai IRTI, terus jalan masuk Monas, betispun semakin kencang!


Foto: https://www.la-streetball.com


Ketika sudah keluar area IRTI, kami langsung antri kereta odong-odong (ada pagar antriannya). Kereta ini akan mengantarkan kami ke depan pintu masuk Monumen Nasional. Pintu masuk bawah tanah ini persis di area Patung Kuda, selurusan dengan Istana Presiden. Kalau di peak season, keretanya juga pake antri... Syukurlah kita nggak pake antri segala. Kalau keretanya belum ada, sabar aja ditunggu. Karena kereta ini akan mengantarkan kita sampai ke depan pintu saja, masih banyak jalan kaki lagi setelah turun kereta nanti. #GerakanSayangBetis


Begitu turun kereta, langsung ada pemeriksaan tas oleh pria berseragam. Periksanya cukup detil, nggak seperti security di mall yang periksa seadanya. Kemudian kami tiba di bawah tanah dan membeli tiket. Selanjutnya masuk ke lorong, naik tangga, turun lagi, jalan lagi, hingga akhirnya tiba di Museum Sejarah Nasional. Kami yang udah gobyos keringetan merasa seperti bertemu kipas angin Maspion karena sezuk dan adem. Tapi mengingat ini sudah malam, kamipun nggak lihat-lihat museum dan diorama, langsung ke pelataran dan antri lift.



Lorong dan pintu masuk bawah tanah. Jangan sedih kak, perjalanan masih panjang!


Lift nya hanya ada 1, dengan kapasitas 11 orang termasuk operator. Antriannya masih wajar, saat itu di Jumat malam waktu tunggu nya sekitar 20 menit. Saya nggak kebayang kalau weekend dan siang hari, antrian dan panasnya bakal kayak apa yaaa… Oh iya, jangan lupa untuk meletakkan kartu JakCard di tempat yang mudah diraih, karena ada beberapa kali pemeriksaan. Sebelum naik lift diperiksa lagi. Untungnya sistem di Monas sudah rapi, jadi antriannya teratur nggak bejubel naik.


Denger-denger, lift Monas serem dan sudah berumur. Tapi kesan itu nggak saya dapatkan. Di dalamnya ada operator, dan perpindahan dari bawah ke atas terasa smooth, nggak berasa. Iyaaa, memang lift nya agak sempit siiih, hehe. Namun saat turun, saya berasa agak puyeng. Hihihi.


Sampai di atas? Rasanya nggak beda dengan naik ke gedung tinggi di Jakarta, melihat city night view dari atas. Tidak ada tempat duduk, hanya melihat berdiri dari balik pagar. Di bagian atas ada foto gedung di seputaran area Monas. Sayangnya nggak diberi keterangan nama, cuma nomer aja. Di setiap sudut juga ada teropong, saya sempet coba pakai. Saya sempet minta fotoin dan komen “ih teropongnya burem banget, nggak keliatan apa-apa!”. Dan ternyata emang itu teropong harus pake koin dulu choy, baru bisa dipake. Hahahaha.


Suasana di atas Monas. 

Antrian lift turun

Ketemu Raka dan kakaknya saat antri naik Monas. 
Raka yang baru datang dari Kalimantan excited sekali naik Monas, dan sempat berseru 
"kita mau naik ke Monas kan ya a'..." sambil tangannya menunjuk ke atas. 
Sebelum turun, saya sempat menemui Raka lagi. Raka bilang "Monas begini doang yah a'...". Hehehehe... Ternyata perasaan kita sama...


Setelah bertahan di sana kurang lebih 10 menit sazah, hehehe, saya dan si abang turun lagi. Menurut saya, ini menurut saya lho yaaaaa, di atas cenderung monoton, tidak ada hal baru yang membuat orang menjadi lebih terhibur. Tapi kesan ini bisa saja berbeda dengan orang lain yaaa. Sepertinya kalau datang dari sore dan lari-lari cancik dulu, kemudian duduk istirahat, nonton air mancur 3D, baru deh naik Monas, pasti lebih nikmat!


2 komentar

Wah, . Seru juga ya jalan-jalan ke Jakarta , biayanya ekonomis juga. Namun sayang belum punya waktu buat maen ke sana, semoga suatu saat bisa berkunjung ke Jakarta Ibu Kota Negara kita Indonesia.

REPLY

Saya pendatang baru di Room ini ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Aki karena berkat bantuan Number togel 4D yang AKI berikan ternyata benar-benar tembus dan alhamdulillah AKI saya menang angka sebanyak Rp 170 juta dalam bentuk uang Indonesia saya menang banyak karena saya pasang angka AKI MANGKUBONO dari 5 bandar di sini,saya tidak tau harus berbuat apa untuk membalas kebaikan AKI,awalnya saya kurang yakin dengan angka yang AKI berikan kalau ternyata alhamdulillah saya menang 4D lagi dan kalau boleh saya jujur AKI sudah berapa banyak peramal di internet yang saya hubungi tidak ada satupun yang tembus malahan hutang-hutang saya bertambah banyak tapi dengan bantuan AKI kini kehidupan saya jauh lebih sukses dari pada sebelumnya ini dan alhamdulillah saya ada rencana pulang kampung sebelum hari raya AKI karena sudah 4 tahun di HONGKONG jadi pembantu tidak pernah pulang ke indonesia tapi karena bantuan AKi saya akan pulang ketemu ke dua orang tua saya itu semua berkat bantuan AKI jadi bagi teman-teman pencinta togel yang tidak pernah merasakan kemenangan 4D silahkan hubungi AKI MANGKUBONO di nomor : 085203333887 Karena angka yang di berikan AKI MANGKUBONO sudah buktikan dalam 5 putaran ini tidak perna meleset dan saya pastikan anda tidak akan kecewah dan anda jangan mudah tergiur dengan janji-janji saatnya kita perlu bukti cuma AKI MANGKUBONO yang menjamin 100% kemenangan.kalau mau bukti hubungi sekarang....? DARI SAYA IBU Elah TKI DARI HONGKONG.

REPLY

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates