23 Januari, 2017



Liburan dadakan di Jogjakarta, liburan sebelum menikah.

Sesantai-santainya persiapan pernikahan saya, sebetulnya deep down inside, saya merasa penat. Calon pengantin butuh liburan! Alhamdulillah teman baik sayapun ada waktu, dan kami (mendadak) berangkat ke Jogja. Ini menjadi salah satu wishlist yang ingin saya wujudkan sebelum menikah bersama teman terdekat.


Mungkin istilahnya, bridezilla. Dalam kasus saya, saya kewalahan untuk mengelola perasaan sendiri. Efeknya, teteh plora jadi lebih sensitif dan mungkin perasaan awut-awutan. Hahaha.


Ehm, curhatnya prolognya udah ya plo…

Perjalanan 8 jam dengan Senja Utama Jogja ditempuh dengan tidur yang nggak nyenyak karena kursinya keras. Untungnya bisa lanjut bobo selonjoran di Stasiun Tugu sampai jam Subuh. Enak ngetz! Bangun tidur langsung cuci muka, sikat gigi, ganti baju dan sholat Subuh. Jam 6, kami janjian sama orang Andies Rental Motor Jogja untuk ambil motor Honda Beat pesanan, persis di pintu keluar stasiun.

Tujuan kami adalah wisata di Sleman. Tau jalan? Kagak. Ngandelin Google Map dan insting aje shay. Untungnya pernah bikin itinerary, destinasi pertama pagi itu adalah sarapan di Sauto Bathok dekat Candi Sambisari. 



Karena masih pagi, suasananya enak bangeeeet... Jalanan menuju tempat soto ini adem, seger, sepi. Warung soto nya cukup nyaman dan luas. Di sini, menu makanannya cuma satu, yaitu sauto atau soto. Disajikan dalam mangkok batok kelapa, tentunya ukurannya mini. Isiannya nasi, potongan daging dan tauge yang disiram kuah bening gurih. Kalau lapar, mungkin harus pesannya lebih dari 1 porsi. Harganya? Rp 5.000 aja kakak seporsinyaaa... Plus tempe Rp 500 dan teh manis Rp 2.000, total sarapan per orang Rp 7.500 ajah.

Yang paling nyenengin di sini adalah view sawah nya yang menghampar hijau. Bikin tenang, adem, dengan semilir angin. Waduh kalo menu nya macem-macem, dijamin banyak pesen dan betah duduk lama!

Beres makan, langsung cus ke Candi Prambanan. Supaya nggak gengges, tas dan bawaan yang berat dititipkan di hotel tempat kami akan menginap yaitu Hotel Quin Colombo, Sleman. Hotel bintang 3 ini jaraknya sekitar 4 km dari Candi Prambanan, dan terletak di pinggir jalan utama.

Kami tiba di Candi Prambanan jam 08.30 dan disambut dengan matahari yang lagi banyak diskon. Panas, kak. Parkiran motor masih sepi banget, dan mayoritas pengunjung adalah bocah-bocah study tour dari Depok yang pakai kaos seragaman warna biru tua. Dan teteh plora pake kaos biru tua. Terus disangka murid sama salah satu guru. Hetdah buuu!



Meskipun gerah maksimal, tapi bersyukur karena nggak hujan, tentu susah cari tempat berteduh *selain di tatapan kamu yang teduh. Langitnya cerah banget! Tentu cocok untuk jemur kerupuk foto-foto. Topi dan kacamata cengdem harus banget dibawa.

Dua wanita awam tentang sejarah macam kita ini amazed sekali dengan ukiran batu-batuan yang punya filosofi cerita. Keren banget ya!

Selanjutnya, kami ke Muhammadiyah Boarding School (MBS) Sleman, nggak jauh dari Candi Prambanan. Ngapain? Mau menuntut ilmu? Atau berserah diri? Tujuan utamanya sih menjenguk keponakan Esti yang sekolah di sini. Senang sekaliiii dengan pemandangan menuju kawasan pesantren. Hijau, sejuk dan tenang. Bertemu anak-anak yang santun, rajin ibadah dan berjilbab syar'i, bahkan pada salim ke akuh dan dipanggil tante.... Uhuk! *gampang banget dibikin seneng *padahal diakui kalau sudah tante-tante, bukan kakak-kakak lagi.

Gara-gara ke pesantren yang enak ini, langsung baper dan whatsapp Af. "Kamu mau nggak masukin anakmu ke pesantren? Tapi pesantrennya jauh di Sleman?". Doi pun menjawab dengan his signature answer yang sepertinya sudah di set sebagai autotextiya boleh aja


Bersama Esti, temen jalan-jalan paling setia asal Lamongan.

Setelah tante nikah, harapannya kita bisa segera double date :')


Karena mau ke Tebing Breksi sore harinya, kami janjian dengan ponakan Esti untuk kembali lagi di jam 04.30 sore sambil bawain makanan. Lokasinya memang dekat. Dari sini mau check in di hotel dan mandi. Soalnya tante kan belom mandi dari pagi. HAHAHAHAHA.

---------

Udah mandi sore, udah cakep, udah wangi, udah bedakan, siap untuk main sama tetangga sebelah, eh hujan gede dengan angin kencang. Gede bwanget sampe billboard yang diliat dari jendela kamar goyang-goyang. Mbak calon penganten ini agak ngeri karena nggak mau ambil risiko di kota orang. Mau kawin, cuy. Sementara kita sudah punya janji dengan ponakan Esti di depan pintu masuk pesantren (yang tentunya tidak pegang HP, dan sekolahnya sulit dihubungi). Terima kasih ada Gojek Jogja, jadi Esti tetap menunaikan zakat maal tugasnya sebagai tante yang solehah. 

Orang bule bilang, every cloud has a silver lining. Sore itu hujan sudah berhenti, dan matahari kembali naik. Sunsetnya luar biasa cantik! Meskipun hanya dilihat di tepi sawah pinggir jalan. Di sini dilanjut makan bakmi jogja dan susu jahe, jalan-jalan motoran tanpa tujuan dan diakhiri dengan menonton acara maha penting bagi orang Bekasi: nonton debat Pilgub Jakarta. Iya, mas Agus memang ganteng dan gagah, tipe aku banget lah setelah Fedi Nuril. 



Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates