09 Januari, 2017




Makan Siang Di Kampung Sampireun Garut

Nggak susah mendeskripsikan Kampung Sampireun ke keluarga. Tinggal sebut aja “itu lhoo yang ada di Adzan maghrib”, dan semuanya langsung paham. Kalo room rate nya bikin kita istigfar, masih ada tujuan lain yang lebih membumi untuk dibayar, yaitu makan di restoran Seruling Bambu. Kenyangnya dapet, foto-foto seabrek dan semuanya senang!


Dengan segala drama, akhirnya liburan akhir tahun bareng keluarga terlaksana jua. Dari Ciater, Bandung, Gunung Salak, dan jadilah ke Garut. Karena terkenal dengan hotel-hotelnya yang ciamik, nginep di resort hits di Garut tentunya juga sempat jadi opsi. Tapi mengingat kami ber 7 plus 1 bayi, dan ini high season, rasanya ga tega ngabisin sebulan gaji dalam dua malam, haha. Yaa kecuali besokannya lagi mau makan pake kecap bango doang ya sis. Akhirnya kami menginap di dekat Kawah Darajat, sekitar 20 KM kalau dari daerah Samarang, garut.

Kalau nggak nginep di resort mevvah, alternatif selain menginap tentu saja makan di restoran. Di Kampung Sampireun, ada restoran Seruling Bambu. Lokasinya ada di ‘dalam’, dan pengunjung seperti kami ini dipaksa harus jalan melewati danaunya dulu. Sebel? Ya enggak laaaaaah, wong tujuan utama kita emang mau foto-foto dan jalan-jalan doang kok. Makan siang hanyalah alasan ke sekian. Hahaha.


Sesuai harganya, Kampung Sampireun memang eksklusif. Rasanya tenang, rileks dan adem banget di sini. Pemandangannya cantik dan sungguh nyaman, pegawainya juga ramah-ramah. Keponakan saya seneng bangeeet lihat-lihat ikan di sini. Kakaknya sibuk cari makanan ikan, adiknya heboh nonton ikan yang banyak banget di depan mukanya. Selain itu juga sambil foto-foto dengan pemandangan danau dan perahu. Untuk masuk ke area Kampung Sampireun, tidak dipungut biaya apapun. Sebutkan saja jika kita mau ke restoran. Selanjutnya bebaaas mau narsis di tiap sudut Kampung Sampireun yang alami dan indah.



Berhubung saya ke sana saat hari kerja, suasana restoran sepi sekali. Kami memilih tempat lesehan di bagian ujung restoran. Restorannya luas dan terdiri dari beberapa area. Di dalam dengan kursi, outdoor dengan kursi, ataupun outdoor di saung. Saungnya terpisah satu sama lain, nggak nempel dengan tamu sebelah. Untuk ke area saung, kita akan melewati bunga-bunga dan pepohonan yang asri.

Surprisingly, harga makanannya cukup terjangkau, mengingat ini bisa dibilang makan siang sekaligus rekreasi. Bahkan (seingat saya) harga yang tertera di buku menu sudah termasuk dengan pajak (namun belum termasuk service charge 10%). Kami memesan 2 porsi gado-gado komplit (Rp 25.000), karedok medok (Rp 25.000) juga nasi timbel komplit (Rp 60.000) dan Chicken Finger (Rp 40.000). Sudah ada air putih gratis, dan kalau tambah teh manis atau bandrek harganya Rp 15.000. Padahal masih agak kenyang, karena 2 jam sebelum sampai di Kampung Sampireun kami makan nasi goreng porsi kuli, banyak banget! Hahaha.


Penyajian makanannya cukup baik, dan rasanya pas di lidah. Gado-gadonya unik karena sayurannya di bungkus dengan kol. Tampilannya cantik, namun harus kita aduk sendiri supaya bumbu merata. Saya memang tidak terlalu ekspektasi tinggi soal menu kampung di restoran besar, karena sudah banyak penyesuaian baik rasa dan penampilan. Timbel komplit nya enak, pas, begitu pula dengan karedoknya.

Secara keseluruhan, asik banget deh main-main di Sampireun. Daaaaan yang terpenting, Kampung Sampireun cocok banget emang deh buat honeymoon, babymoon, sailormoon atau apa ajalah pokoknya yang berdua-duaan. Ihiy.



Kampung Sampireun / Restoran Seruling Bambu
Jl. Raya Samarang, Kamojang KM 4
Kp. Ciparay Desa Sukakarya Kec. Samarang Kab. Garut
Jawa Barat


 Tempat bermain anak di tengah-tengah pohon bambu, dekat restoran. Kalo siang tampak seru, kalau malam sepertinya tampak seram. hahaha. Hiii.




Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates