13 Maret, 2017


Memesan Kebutuhan Pernikahan Secara Online Via Instagram (Tips)

Buat saya, belanja online itu memudahkan hidup banget. Nggak perlu keluar ongkos, parkir, capek nyari, belum lagi biaya logistik alias makan dan jajan. Hehehe. Untuk pesan keperluan pernikahan saya dan Afid bulan Februari lalu juga dilakukan di toko online, melalui Instagram. Namun meskipun sudah akrab dengan jual beli online, kita-kita juga harus waspada. Apalagi untuk hari pernikahan kita, rambut ikal bisa langsung berubah kribo kalo ternyata kita kena tipu ataupun PHP penjual online nggak bertanggung jawab!


Berbekal pengalaman belanja kebutuhan pernikahan secara online yang telah dilakukan neng Flora, ada beberapa langkah dan tips menghindari penjual nakal macam ini. Insya Allah persiapan nikah jadi lebih ringkas, praktis dan minim drama-drama tak bermanfaat. Kalo belanjanya di tempat yang tepat, anggaran kawinan kan bisa lebih hemat ya kakakkk..

Jadii, apa aja nih yang perlu diperhatiin?


1. Jangan Mepet!

Kalo memang mepet, cari di toko aja deh mendingan. Untuk beli keperluan nikahan via penjual online, berikan jarak waktu beberapa bulan bulan dari acara. Kita nggak bisa pegang omongan si penjual ini 100%, ada kemungkinan pengerjaan mundur. Misalnya kita memesan souvenir untuk acara pernikahan tanggal 20 April, dan si penjual memberikan waktu 1 bulan pengerjaan. Sebaiknya pesan (maksimal) di bulan Januari dan berikan dateline akhir bulan Februari. Jadi masih ada waktu 1 bulan (Maret) apabila ternyata waktunya mundur atau ada perubahan.

Intinya, ada jeda waktu untuk antisipasi apabila pengerjaan ada kendala dan pengirimannya mundur. Jangan lupa untuk menambahkan hitungan masa pengiriman (misalnya Jogja – Bekasi dihitung 5 hari).

Ini demi kemaslahatan bersama, demi mood yang tetap semangats dan gak pake deg-degan, hahaha.


2. Perhatikan Akun Instagram/Website Penjual

Perhatikan desain atau pesanan yang sudah pernah dikerjakan. Ada kontak jelas? Foto jualannya banyak nggak? Akunnya terus update, nggak? Ada testimoni nya nggak? Kalau mayoritas dijawab enggak, pikir-pikir lagi dehh… Standar tukang jualan di Instagram adalah ada kontak dan deskripsi yang jelas. Kalo saya, lebih pro sama akun IG yang mau menjawab DM dan komentar, apalagi mau taro harga, hehehehe. 


3. Respon Penjual Saat Dihubungi

Menjual barang online artinya si penjual paham betul barang yang dijual dan juga mau meluangkan waktu lebih untuk berkomunikasi dengan pembeli mengenai jualannya. Biasanya penjual online mampu merespon dengan baik dan waktu yang nggak terlalu lama. Kalau kita adalah pembeli yang tidak terlalu paham barang, si mbak atau mas penjualnya mau jelasin. Bahan kanvas tuh begini lho mba… Bahan katun jepang kelebihannya ini lho mbak… Pokoknya dia merespon pertanyaan kita dengan detil. Seimbangkan juga dengan banyak cari referensi, supaya kita ada gambaran.

Kalau udah mah balesnya lama… singkat-singkat…. Nggak mencoba membuat saya mengerti… Bahasanya nggak ramah…. Males deh saya. Atuhlah kalo pas PDKT aja nggak ramah, gimana mau lanjut kaaaan *idih gitu. Setelah deal, bina komunikasi yang intens dengan menanyakan update progress pengerjaan pesanan kita.


4. Testimoni Pembeli

Untuk transaksi yang cukup mahal, gak ada salahnya mencari tahu siapa aja yang pernah pakai jasa si vendor alias pembelinya. Biasanya penjual suka tag pemesannya, naaah coba ajah kita kontak terus tanya-tanya. Manfaatkan aja fitur Message di Instagram, jadi nggak perlu sungkan. Saya beberapa kali melakukan ini dan biasanya berakhir dengan pemberian support doa dari si orang tersebut “semoga lancar yah mba…”. Langkah ini diharapkan bisa memberikan gambaran jelas mengenai plus minus memesan barang di toko online ini.

Lebih enak lagiii kalo ada teman yang sudah pernah beli di toko ini :)


5. Datangi Toko Fisik/Workshop/Ketemuan

Untuk undangan dan souvenir, pasti ada toko fisik ataupun tempat pembuatan/workshopnya. Bisa juga dengan ajak si penjual ketemuan. Dibanding stalking akun social media dan juga ngobrol via Whatsapp, ketemu langsung bisa menambah keyakinan sama si toko ini. Kalau toko nya jauh atau beda kota, minta bantuan dengan saudara ataupun teman yang mungkin sedang berada di kota tersebut.


6. Cek Reviewnya

Banyak pengantin yang membicarakan ataupun mereview vendor yang digunakan di sosial media, blog, ataupun website pernikahan. Coba deh cari reviewnya…


7. Stalking Socmed, Simpan Chat dan Data Dirinya

Hahaha, ini sih saya banget. Biasanya saya akan cari nama si penjual di berbagai akun Socmed dan simpan foto-fotonya, biasanya lewat screenshot (tapi kalo udah beres transaksi, langsung dihapus dooong). Chatnya juga selalu saya back up di Google. Ini untuk mengantisipasi kalau-kalau dia curang dan nggak bisa dipercaya. Untuk hari pernikahan, bukan Cuma kita rugi uang, tapi juga waktu, tenaga dan mental. Kan nggak lucu yaa kalo H-1 bulan undangan belum ada kepastian…

Mudah-mudahan langkah di atas bikin kita menemukan penjual yang tepat dan amanah. Acara juga jadi lancar sesuai rencana :)





Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates