13 April, 2017

Kuliner Halal Singapura: Zam Zam Restaurant yang Bikin Nagih!


Salah satu wishlist di Singapura adalah mengeksplorasi kawasan Arab Street. Tentu kuliner halal juga jadi incaran dong! Saat ke Singapura bulan lalu, saya dan Afid mampir ke Zam-zam Restaurant yang banyak direkomendasiin orang. Ternyata emang ini recommended yah di Singapura. Waktu itu kami sampai 2 kali ke sana, nyicip martabak, nasi briyani dan roti prata. Nyummmeh!

Waktu ke Singapura tahun lalu, saya makan mee goreng dan nasi briyani di depan Masjid Sultan, tepatnya di ujung jalan/pengkolan. Hasilnya? Saya ilfil berat. Mee goreng pesanan saya aromannya kuat tapi rasanya agak hambar. Saya dan adik saya dalam kondisi laper banget, dan adek saya itu makannya bwanyak (khas anak kost hobi ke Warteg lah gitu). Tapi dia aja ga minat lhoo makan mi itu, padahal mah biasanya apa juga dimakan. Apalagi mee goreng saya warnanya merah menyeramkan dan lenyeh-lenyeh gitu. Hahaha hikz. (Baca juga: Itinerary Keliling Singapura dalam Sehari Versi Backpacker Pemula)


Foto-foto duluu di Haji Lane... Untung dateng pagi-pagi, jadi masih sepi.

Naah saat jalan-jalan bareng mas pacar bulan Maret kemarin (nyebutnya pacar aja ahh hahaha), kami sengaja ke Haji Lane buat foto-foto sekalian cari sarapan. Karena Haji Lane itu lucu sekali dinding dan warna warninya, sungguh mustahil kalo kami (hmm saya sih maksudnya) nggak foto kiri foto kanan dulu. Karena kelamaan, alhasil kami jadi laper bego, sampe lemes gitu. Hahaha. Saya ajak Afid makan di Kampong Glam Café, tapi rame beneer, antriannya panjang. Makanannya juga udah jadi tinggal tuang, mengingatkan kami pada warteg ataupun restoran Padang. Ah itu sih udah keseringan. Hahahaha.


Foto diambil saat menunggu tanda boleh menyebrang yang lamaaa... 
Ini di samping Masjid Sultan

Lalu saya cerita kalau ada restoran India halal di depan Masjid. Saya nyeritainnya males-malesan, tidak semangat. As far as I know, Afid termasuk picky eater, milih kalo makan. Intinya siih, saya yang pemakan segala aja gak minat makan di sana, gimana Afid. Eh ternyata Afid justru penasaran dan terus-terusan bilang ‘ayo cepet yuk makan disana…’. Tentu saya nggak ajak ke restoran pengkolan tea, tapi yang dekat tempat penyebrangan yaitu Zam-zam Restaurant. Seenggaknya nyoba di tempat baru yaa. (Baca juga: Malam Mingguan Nonton Wings of Time di Sentosa Island)

Look sooo appetizing! *tiba-tiba laper

Pesanan kami pagi itu chicken briyani untuk Afid dan egg prata untuk saya. Seperti menu-menu khas India lainnya, pesanan kami pasti akan ditemani dengan kuah kari. Saya request untuk tidak usah diberi kuah kari, tapi gantinya susu kental manis. Untungnya babang-babang India yang melayani orangnya informatif dan perhatian (ciyeee). Jadi dia langsung paham, saya bilang ‘white and thick sweet milk’. Setelah bersusah payah menyebut dalam bahasa inggris, eeeeh si babang bilang “ooooh susu ya” dengan aksen melayu. Ahelah baaang, dari tadi napah.


Chicken briyani yang berantakan, nuangnya buru-buru, 
tapi (kata suami saya) enak bianget!

Hahaha, surprisingly, Afid menikmati sekali pertemuannya dengan si chicken briyani. Saya sempat cicip, nasinya gurih dan enak dengan rasa kari yang kuat. Ayamnya juga empuk dan dagingnya tebal. Kuah pendampingnya kental banget, untuk penyuka masakan India pasti cocok. Eh btw, kuah aja punya pendamping, masa kamu belom? *dikeplak sandal swallow*. Nasi, ayam beserta kuahnya ludes tak bersisa! Manstap! (Baca juga: Berburu Tiket Murah Flower Dome, Cloud Forest dan Wings of Time di Singapura)


Karena susu kental manis tak pernah salah... Wuenak banget paduan prata dan susu!

Egg prata nya gimana, mba Plora? Enaaak. Kalo chicken briyani tinggal tuang aja, egg prata dibuat dadakan, kayak tahu bulat lah. Kalau kebetulan lewat depan restoran Zam-zam, bisa lihat proses pembuatan prata di bagian depan resto, dari adonannya dilebarin, kemudian telur dipecahkan di atasnya. Sepertinya sih adonannya sama untuk menu Murtabak, Cuma nggak dikasih isi. Lalu si dia akan sampai di meja dalam keadaan hangat. Tentu saja nikmat! Sepertinya ini hanya jadi camilan, tapi cukup mengenyangkan karena telur ayamnya dua. Dicocol ke si whiteandthicksweetmilk, enak bangeeet! Ide memilih susu kental manis instead of kuah kari datang dari pengalaman saya waktu ditraktir temen les LIA waktu SMA, Bima. Waktu itu kami makan cheese naan di Kuala Lumpur dan dicocol susu. Endeus! Terima kasih Bima, istrinya Cindy, serta LIA Galaxi.

Sarapan kenyang kami pagi itu merogoh kocek (aiiiih merogoh kocek) seharga $6,5 untuk nasi briyani, dan $3 untuk roti prata, serta $1,2 untuk teh tarik. Selanjutnya, eneng siap jalan-jalan ke Garden By The Bay (ehm, karena di GBTB susah cari makan, jadi kebayang kenapa nggak bungkus makanan di Zam-zam aja yaa buat bekel).

Senyum lebar walaupun kaki encok. Butuh makan siang yang paripurna! 
Kalo kesini lagi, harus bawa bekel yang banyak :p

Udah gitu aja endingnya? Enggak dong… Pulang dari GBTB, kita balik lagi ke Zam-zam. Jadi setelah sempat mampir ke Orchard Road, kami salah naik bus. Sepanjang jalan Afid bolak balik nanya, Zamzam tutup jam berapa ya? Keburu nggak ya? Saat nyasar naik bus, rasanya kami sudah menjauh dari hingar bingar Singapura dan memasuki area yang hening, semakin sepi dan jalanan kosong. Sudah jam 21.30 dan Afid tampak agak khawatir. Saya udah GR aja, karena dari jaman pacaran kan Afid paling nggak seneng saya pulang malem. Lha tapi kan ini udah bedua, suami istri, lagi liburan pula. 

Akhirnya kami turun di halte terdekat, nyebrang dan naik bus arah balik. Pas lagi nunggu bus, saya tanya Afid, kok gak tenang gitu? Lalu dijawab “takut Zamzamnya tutup, aku mau balik lagi makan martabak. Duhh dia tutup jam berapa ya?”. Ealaaaah, ternyata bukan mengkhawatirkan akuhh. Hahahaha. (Baca juga: Revie Hotel 85 Beach Garden, Hotel Murah di Kawasan Bugis).

Kami turun di halte MRT terdekat dan kemudian turun di Bugis dan keluar exit D. Kaki rasanya udah gempor, betis cekot-cekot, tapi harus tetap semangat mengejar impian dan cita-cita makan di Zamzam! *cemen. Itu sudah jam 10 malam dan ternyata masih buka! Yeayyy, saya ikutan senang. Jam buka nya ternyata panjang juga, dari pagi (07.00) hingga jam 11 malam.


Saya mah makan soya beancurd yang dibeli di Bugis MRT ajahh...

Kali ini Afid pesen beef murtabak dan makan dengan riang gembira. Bagian luar martabak mirip sekali dengan prata yang paginya saya pesan (eh apa sama ya?), kemudian diisi dengan daging sapi. Dagingnya cukup banyak dan cukup bikin kenyang. Rasanya gurih enak, tapi jejak rasa kari nya agak tipis. Makannya tetap dicocol dengan kuah kari. Babang pelayan juga memberikan irisan timun yang diberi semacam saus kental, tapi nggak dicolek Afid. Timunnya ya yang nggak dicolek, bukan babangnya. *lho abangnya dicolek dong *ih apasih. (Baca juga: Pengalaman Naik Bus dari Singapura ke Kuala Lumpur, Rp 130.000 Aja!)



Untuk seporsi beef murtabak, teh tarik dan halia O (jahe hangat), kami menghabiskan $10. Menurut Afid, yang paling nendang tetep Gerard Pique chicken briyani. Tapi masnya penasaran sama deer murtabak, kayak apa sih rasanya daging rusa? Aduuuh senangnya kalo ada yang penasaran gini. Sebagai istri yang baik dan sholihah, saya sih tinggal duduk manis menunggu, siap kapanpun kalo diminta nemenin jalan-jalan di Singapura makan di Zamzam Restaurant lagi!

Singapore Zam-Zam Restaurant
697 - 699 North Bridge Rd Singapore  
Seberang Masjid Sultan, Singapura (tidak buka cabang di tempat lain)
Jam buka: 07.00 - 23.00



Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates