02 Desember, 2017

Jalan-jalan Surabaya: Menemani Suami Nostalgia di Kampus ITS Keputih



ITS dan Surabaya adalah sesuatu yang begitu melekat pada suami saya, Af. Selama 5 tahun kuliah disana, dan meninggalkan Surabaya tahun 2011, sepertinya memori masa alay, kere dan muda Af (hehe) masih begitu nempel! Dan akhirnyaaa kami punya rezeki untuk main-main ke Surabaya dan ITS. Cowok lulusan Fakultas Teknik Kelautan inipun bahagia banget!


To be honest, saya bukan orang yang ‘awet’ memelihara kenangan masa sekolah. Asli deh :’))




Meskipun begitu, saya cukup menikmati kesan-kesan Af tentang masa kuliahnya di ITS dulu. Meskipun setelah itu Af lanjut kuliah di ITB, kuantitas ceritanya masih lebih banyak tentang ITS! Bahkan Af menyebut dirinya: Aku ini anak ITS yang lanjut kuliah di ITB. Kayaknya kenangan yang doi lewati di Surabaya ga kelar-kelar diceritain ke istrinya. Saya jadi tahu gimana serunya keseruan tipe mahasiswa seperti Af (merantau, teman kuliah tetap solid sampai sekarang, begitu juga teman kost), ketika masa kuliah yang saya lewati kok kayaknya datar-datar aja. Wahahaha.




Semesta mendukung kami sampai di Surabaya. Hmm, lebay ga sih? Hahaha,  di tengah cicilan-cicilan masa muda, travelling terasa lebih josss biayanya. Setelah ngecek-ngecek poin Garuda Miles dan memanfaatkan aneka diskon dari aplikasi hotel, kami bisa dapat harga tiket dan hotel dengan jauh lebih murah.


Saya melihat Af excited banget ketemu teman-teman kosnya dulu. Tapi mungkin Af nggak sadar, karena saya juga seneng akhirnya bisa melihat dan mendengar Af ngomong full bahasa Jawa ala Surabaya, lengkap dengan misuh-misuhnya! 


Soal kampusnya, menurut saya sih kaku  dan kurang banget soal estetika. Tapi ya komen barusan nggak begitu penting, kampus saya dulu jaman 2006 kurang kece apalagi coba, tapi justru saya mikir kalo fasilitas yang seadanya justru bikin masa-masa saat Af baru meletek itu jadi lebih berwarna. Halah bahasa guwee :))





Dari Fakultas Teknologi Kelautan ITS, kami lanjut ke kawasan belakang kampus, yaitu Gang Makam, Keputih untuk melihat kondisi kos-kosannya sekarang. Surprisingly, gang kosan Af dulu sudah banyak digambar mural-mural keren. Kami yang full jaket, masker, helm dan nenteng motor jadi foto-foto dulu deh! Saya juga cengar cengir saat lewat toko Endang, yang dulu pernah diceritain Af sebagai: toko serba ada, saking lengkapnya tanda tangan dosen juga mungkin dia jual. Hahahaha.






Kami juga mampir ke lokasi yang disebut Instagrammable di daerah Keputih, sekitar 10 menit dari ITS (coba search di Google: Hutan Bambu Keputih). Lucu juga sih karena ada area hutan bambu di area perumahan yang cukup menarik buat foto-foto.


Sayangnya banyak sekali sampah daaaan…. Cacing plus ulat. Asli deh saya langsung ciut. Salut juga ya sama satu kelompok embak-embak berbaju kompakan dan bersepatu hak tinggi yang kuat lama-lama disini dan foto berbagai angle. Mungkin dia beruntung karena nggak kopdar-an sama cacing dan ulat ituuuu!





Serunya, di sebelah hutan bambu ini ada Taman Harmoni! Tamannya bagus dan luaaas, sayangnya kami nggak bisa eksplor lama karena hujan. Taman ini rapi dan terawat dengan area parkir yang rapi. Meskipun begitu, taman ini cenderung lebih sepi dibanding hutan bambu.

Selanjutnya kami cari makan di area belakang kampus ITS. Menu yang lagi kepingin dimakan adalah tahu telor. Sayangnya kok nggak nemu! Akhirnya pindah opsi ke sebuah warung seafood yang keliatan rame, namanya Ikan Bakar Keputih di jalan Ahmad Dahlan. Menunya cukup mewah dan berkelas buat anak kuliahan, yaitu ikan gurame, ayam, cumi, udang dan lele yang semuanya disajikan dengan pilihan bumbu saus asam manis, saus padang, saus telor asin, kremes, saus kecap, saus inggris, juga dibakar. Semuanya plus nasi dan air putih Rp 15.000 aja!





Pilihan saya adalah nasi cumi telor asin dan mas Af nasi gurame bakar. Cuminya dipotong tipis dan digoreng tepung, lalu disiram saus telor asin. Untuk ikan gurame, dapat 1 bagian kepala dan 1 bagian badannya. Rasanya cukup enak, apalagi plus sambal tomat yang seger. Yaaa pastinya bikin kenyang dan bisa mengobati kerinduan akan seafood ‘beneran’ yang porsinya besar dan harganya lumayan untuk mahasiswa rantau yaaa!

Sayangnya kami hanya bisa stay Sabtu dan Minggu di Surabaya, dengan memecah waktu ketemu keluarga di Sidoarjo dan lanjut ke Malang di Senin pagi. Lagi musim hujan angin juga, jadi kami beberapa kali basah kuyup kena hujan (meskipun sudah pake jas hujan yaaa) karena kemana-mana naik motor sewaan. Tapi 2 hari yang singkat terasa cukup nyenengin, apalagi bisa bikin suami nyengir terus kaaan balik ke kota tercintanya. Heheheheu. Mudah-mudahan bisa jalan-jalan seru lagi ke Surabaya!


Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates