03 November, 2018




Entah ada angin apa, rasanya kok pingin ke Obgyn lagi. Tapi kali ini tekadnya lebih serius dan benar-benar memilih lokasi dan dokter yang ‘tepat’. Insecure belum hamil insya Allah enggak, desakan keluarga juga bukan. Lebih kepada pola pikir: kepo aja ingin tahu apakah kondisi tubuh kami benar-benar siap apa ternyata ada kendala? Jika ternyata memang ada, mari kita perbaiki.


Pencarian Obgyn ini cukup drama. Sebelumnya, saya pernah melakukan papsmear di RS Bunda Menteng Bersama Dr. Bonti. Dokternya wanita dan saya merasa lebih sreg ternyata dengan Obgyn wanita. Meskipun begitu, harga RS Bunda yang MAHAL BANGET dengan beragam komponen pembayarannya, plus waktu itu hanya untuk papsmear tanpa ada maksud konsultasi promil, jadi RS Bunda gak masuk dalam pencarian.

Yang jadi incaran adalah RS Tambak Manggarai, RS Mitra Keluarga Bekasi dan RS Hermina Bekasi. Di RS Tambak, ada 2 Obgyn populer yang katanya enak, keibuan, jadwalnya cocok dengan jam pulang kantor tapi antrinya luar biasa. Iya sih deket stasiun, tapi ga kebayang kalo saya harus pulang malem banget dan masih naik KRL. Tekad saya serius, ingin mengikuti step by step nya yang artinya akan bolak balik RS. Sempet mau daftar, eeh telfonnya sibuk terus. Ga jadi deh kesana.

Saya cukup sreg dengan RS Mitra Keluarga Bekasi, karena lokasinya depan jalan raya banget dan pelayanannya bagus. Sayang, Obgyn wanita yang direkomendasikan untuk promil jadwalnya siang hari. Gak cocok lagi kaan dengan jam kantor saya dan suami. Apalagi lokasi kantor kita Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Sebetulnya saya agak ‘terdesak’ dengan keinginan datang ke Obgyn di hari awal mestruasi. Tapi sampai H-1 kok yha masih galau mau daftar dimana. Hahaha. Akhirnyaaa saya menjatuhkan pilihan ke Dr. Ni Made Desi Suratih yang praktik jam 6 sore. Beliau adalah salah satu ahli fertilitas di Hermina Bekasi, cocok lahh. Sayapun dapat nomor antrian 13.

Di hari H, ternyata saya bisa datang lebih cepat dari jam praktek dokternya. Saya langsung daftar, dicek tensi, juga TB dan BB. Suami akan datang menyusul. Saat Dokter mulai praktek, saya kaget ternyata saya bukan pasien pertama yang dipanggil. Saya kira sistemnya akan sama dengan RS lainnya, yaitu daftar via telepon hanya untuk membatasi kuota. Antrian sesungguhnya akan dilakukan dengan sistem siapa cepat datang, dia dapat nomor antrian duluan. TERNYATA KAGAK CHOI, antri sesuai nomor. padahal saya pasien Dr Made Desi yang datang paling awal. Hahhh nomer 13 dong?!

Mood udah kedodoran siiih. Pingin pindah dokter aja, tapi suster meyakinkan kalau Dr. Made Desi adalah dokter perempuan yang tepat di jam tersebut untuk konsultasi kesuburan. Oke, lessons learned nya adalah: datang gausah cepet-cepet, sesuai dengan nomor urut ajaa!

Alhamdulillah jam 19.30 nama saya dipanggil. Saya sudah minta ke suami agar dia aja yang aktif tanya-tanya, karena saya sering speechless kalau di hadapan obgyn hahahaha. Entah kenapa yaa karena saya tidak memandang ‘infertilitas’ sebagai suatu penyakit dan lebih karena belum dikasih Allah, jadi saya kurang kritis ke Obgyn, bingung mau nanya apa hahaha.

Surprisingly Dr. Made Desi menyenangkan sekali! Tipikal dokter senior berpengalaman, ngomongnya santai, bersahabat, luwes, banyak omong dan gak nakut-nakutin. Kriteria saya yang agak detil tentang Obgyn yang cocok rasanya cukup ada pada Dr. Made. Keputusan saya untuk datang di hari kedua menstruasi ternyata tepat, untuk mengecek kondisi Rahim. Setelah berjabat tangan, ditanya-tanya, lalu Dr. Made mengajak saya untuk USG Transvaginal.

Weits, USG transvaginal di hari kedua mens, beneran nih? Bleber-bleber gitu dong hahaha… Saya tanya ke suster dan katanya gak apa-apa bu, santai aja, udah biasa kok. Bhaiklah kisanak, sayapun nurut dan sudah dalam posisi yang diminta. Setelah siap, baru dokter mendekat dan langsung memasukkan alat. Wow, ini USG TransV kedua saya dan rasanya yang kedua ini berlangsung cepat (oh I mean masuknya cepet dan tanpa deg-degan hahaha). Cukup mual saat Dokter menggerakkan alat USG.

Sambil USG, Dr. Made juga menjelaskan ke saya dan suami kondisi rahim. Alhamdulillah bagus dan bersih. Beberapa ‘wejangan’ Dr. Made yang saya ingat adalah:

Jangan lagi ingat-ingat kapan masa subur, jadul banget itu. yang penting kalau berhubungan maksimal 2 hari sekali (well, ini cukup sejalan dengan apa yang saya yakini: ML means making love, jadi jangan terpaku dengan tanggal namun mood. Jika prinsipnya adalah making babies, rasanya kok seperti ‘yang penting dibuahi’ yaa tanpa memikirikan aspek psikologis pasangan)

Saat suami menanyakan jika seorang Obgyn pria, muda, di RS Anand* mengatakan jika posisi Rahim saya terbalik (saat itu doi hanya USG perut) sehingga kami harus begini dan harus begitu. Respon Dr. Made apa? “Itu Namanya variasi… Ada orang rambutnya lurus dan keriting. Apakah yang keriting artinya tak normal? Kan enggak… Udahlah santai aja. Lagipula Rahim ibu menghadapnya depan kok ini!”.

Dokter Made menyarankan saya untuk melakukan HSG dan cek sperma untuk suami. Itupun dijelaskan dengan detil bagaimana prosesnya dan apa tujuannya. Plus insight lain, yaitu perbanyak olahraga, jangan mudah capek dan meningkatkan endurance tubuh supaya lebih fit. Ya ya, I need that kind of motivation instead of “banyak makan toge dan alpukat ya buu”. Saya diminta konsul sebulan lagi dengan membawa hasil HSG dan cek sperma.

Pertemuan 20 menit dengan Dr. Made Desi membuat saya berharap semoga kecocokan ini bisa terus dirasakan dan saya gausah repot-repot lagi cari Obgyn yang cocok jika suatu hari hamil dan melahirkan. Aamiin.

Oh ya, biaya konsultasi awal ini adalah Rp 195.000 untuk biaya konsultasi dokter spesialis, Rp 125.000 untuk USG TransV, dan Rp 321.600 untuk obat (30 butir Glisodin untuk suami selama 1 bulan dan Zistic Tab 500mg untuk diminum istri. Resep lainnya yaitu Folavit ga saya tebus karena masih banyak dirumah). Mudah-mudahan artikel ini membantu para sobat Bekasi dalam mencari Obgyn yaaaa....

(Baca juga: Cerita Promil: Pengalaman HSG di RS Hermina Bekasi)


Foto: Images.unsplash.com

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates