03 Januari, 2019



Tips Hemat Renovasi Rumah Pertama


Beli rumah baru atau rumah second lalu di renovasi? Tiap orang punya pendapat beda-beda soal ini. Ada yang memilih beli rumah lama lalu didandani supaya sesuai selera, ada juga yang prefer beli rumah baru. Salah satu pertimbangannya adalah anggapan “renovasi rumah tuh biayanya udah kayak bikin rumah baru”.


Well, sebetulnya bisa iya, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Saya dan suami membeli rumah pertama kami dengan banyak pertimbangan yang matang dari berbagai aspek. kalau dibandingkan dengan harga pasaran rumah di Kota Bekasi, harganya relatif oke. Sebuah rumah second di komplek perumahan orang tua saya, dengan kondisi rumah asli (baca: perlu banyak perbaikan di sana sini).


Kami merenovasi sekitar 80% dari kondisi rumah, karena kondisinya tidak layak dihuni. Banyak hal yang diganti, ditata ulang, juga dipindah. Termasuk kabel-kabel yang diganti semua, septic tank, dan pengaturan ruangan. People said: wah, abis duit banyak banget dong yah? Alhamdulillah… sebetulnya tidak se-tinggi yang dibayangkan orang.


Renovasi mencakup semua bahan bangunan, pintu utama dan jendela, manpower (tukang + kenek beserta konsumsi nya), juga kebutuhan interior eksterior (cat kayu dan tembok, handle pintu jendela, dapur, kamar mandi beserta kloset) dan lain-lain hingga siap dihuni. Do not ask about how we (we’re 29 years old, by the way) can afford it karena ada aja rezeki Allah hingga semuanya bisa selesai. Niat baik selalu Allah permudah :)


Wow prolog nya panjang sekali! Hahaha…. Jadi inilah yang sekiranya bisa menekan biaya renovasi rumah. Cekidot!






1. Tidak banyak sekat ruangan

Ide awalnya adalah saya kurang nyaman dengan ruangan banyak sekat. Karena sering sesak nafas, saya ingin punya rumah yang sirkulasi udaranya lancar dan mudah. Akhirnya, rumah kami dibuat minim sekat. Efeknya ada 2, rumah jadi terlihat lega, dan tentu sajaa menghemat bahan bangunan yang dipakai. Tahu sendiri kaaan biaya bahan bangunan itu kalau di total harganya wow sekaliii...

2. Pilih cat & keramik yang sama

Seluruh interior rumah saya di cat dengan warna yang sama. Fungsinya agar tidak banyak sisa atau kebutuhan cat dengan warna berbeda. Dengan memilih 1 warna, saya membeli cat ukuran pile yang harga akumulatifnya lebih murah dibanding beli galonan. Kalau warnanya kurang, saya tinggal beli warna yang sama. Saya lupa spesifikasi warnanya, pokoknya yang saya beli adalah tipe cat ready stock bukan warna campuran/adukan.


Untuk cat eksterior (pagar dan tembok luar) saya memanfaatkan sisa cat pelapis No Drop (yang waktu itu lagi diskon jadi 700 ribuan di Bazar Bangunan). Awalnya ga disengaja sih, saya beli cat No Drop warna coffee/coklat sebanyak 1 pile supaya nggak kurang. Eh ternyata sisanya lumayan banyak, dan warnanya kok oke juga. Jadilah si No Drop ini di cat sampai ke pagar dan tembok terluar. Dengan alasan supaya hemat sekaligus biar kece, pintu utama dan pagar juga dicat dengan satu jenis cat berwarna merah. Si coklat dan merah ini dengan manisnya nge-blend jadi warna utama rumah kami :)


Karena sehari-hari saya dan suami kerja dan ga mengawasi, kesamaan warna ini juga memudahkan abang-abang tukang untuk mengecat tanpa takut kurang, takut salah ambil warna cat, dan lainnya. Ya mereka tinggal cat aja semuanya dengan warna yang sama, hehehe.

Untuk keramik juga samaa, supaya gak banyak potong memotong, kurang ataupun sisa, saya samakan keramik untuk seluruh rumah (kecuali teras dan garasi).



3.  Komparasi harga di supermarket bahan bangunan

Cat tembok, keramik, kran, glass block, handle pintu dan lainnya saya beli di supermarket bahan bangunan. Ada 2 yang sering saya datangi yaitu Bazaar Bangunan dan Mitra 10. Untuk kebutuhan pintu, jendela, dapur dan kabel, saya beli di Bazaar Bangunan. Ada diskon 3% juga untuk membership. Kloset duduk merk American Standard juga saya dapat dengan harga diskon di sini.
Nah keramik seluruh rumah saya beli di Mitra 10 karena yang dijual hanya keramik bagus, bukan KW 2 atau KW 3. Saya juga hanya membeli keramik yang ada promo nya, karena pembelanjaan keramik ini cukup menguras budget.  Biarpun promo, yang penting grade nya A kaaan...




4. Akrab dengan pemilik toko bangunan setempat

Naah kalau yang ini memberikan benefit tersendiri. Orang tua saya punya langganan toko bangunan langganan di dekat rumah dan relasi keduanya sangat bagus. FYI doi juga diundang dan datang saat pernikahan saya hehe. Efeknyaaaa: bisa kasbon dulu dan selalu dapat diskon! Hahaha… Karena biasanya adaaa aja kebutuhan harian yang perlu dibeli dan saya nggak ada di tempat. Jadi si pemilik toko sudah merapikan catatan pengambilan barang yang bisa saya bayar mingguan bahkan bulanan hehehe.


5. Ada yang selalu memantau

Karena saya dan suami bekerja, ayah saya sukarela menjadi ‘mandor’. Bersyukur karena ayah saya yang pensiunan PNS memang selalu terlibat dalam semua ‘pekerjaan tukang’. Kalau rumah ataupun kontrakan miliknya perlu diperbaiki sedikit, ya pasti ayah saya yang langsung turun tangan. Kalau skalanya sudah advance, baru deh panggil tambahan tenaga (tukang). Bukan untuk menggantikan pekerjaannya, tapi kerja bareng! Hahaha.

Naah adanya PIC yang selalu memantau ini, budget jadi terkendali. Ayah saya punya catatan siapa tukang dan kenek yang rajin masuk, masuk setengah hari dan absen. Karena ada yang selalu memonitor, tukang dan kenek jadi bisa disiplin, ga banyak ina inu dan becanda. Karena kalau kerjanya lelet tentu mempengaruhi pada gaji harian dan budget keseluruhan hehehe.

Naahh semoga membantu yaaa! Selamat merencanakan renovasi rumah yang ngeri-ngeri sedap hehehe. 

Sumber foto:
Foto 1: ssremodeling.com
Foto 2: www.moneysense.ca
Foto 3: www.aussie.com.au

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates