29 Mei, 2019



Ini bukan saya... Saya mah gembrot sekarang hahaha. (Sumber Foto: Time.com)


Masih inget dengan postingan saya tentang program hamil sebelumnya? Di suatu titik, saya dan suami memutuskan untuk nggak lanjut promil dengan dokter dan melakukan promil alami. Alhamdulillah, 3 bulan setelahnya saya hamil! Mau tau apa aja yang kami lakukan dalam program hamil alami ala kami ini?


Oke, mari bercerita lebih detil. Jadiii…. Akhir tahun 2018 saya dan suami berencana untuk konsultasi dengan lebih serius dengan dokter spesialis kandungan dengan subspesialis kesuburan di RS Hermina Bekasi. Tujuannya simple aja sih, kami pengen tahu bagaimana kondisi reproduksi kami, dan apa ada hambatan.

Kami konsultasi dengan Dr. Ni Made Desi Suratih Sp.OG (K). Saya dan suami sama-sama mengonsumsi obat kesuburan yang diresepkan oleh dokter selama beberapa bulan. Selain obat, saya juga di cek HSG (Histerosalpingografi) dan suami di cek spermanya di laboratorium. Semuanya kami lakukan di RS Hermina Bekasi.

Untuk lebih detilnya cerita konsultansi promil dan HSG, bisa di cek di postingan saya sebelumnya yaa di link bawah ini:




Okeh lanjut. Akhirnya kami mengetahui, apa yang menyebabkan proses pembuahan menjadi tidak maksimal dan kehamilan terkendala. Konklusinya pun bisa ditebak, dokter menyarankan kami untuk inseminasi.


Yang mana nggak (atau belum) mau saya lakukan. Hehehe.


Di momen ini kami sama-sama belajar kalau hasil yang disampaikan dokter bukan jadi alasan untuk saling menyalahkan pasangan. Entah saya ataupun dia yang jadi ‘penyebab’ ya santai weh lah. Toh ‘penyebab’ nya adalah kondisi alamiah, bukan yang dibikin-bikin macamnya seks bebas atau jajan PSK. 

Note: tapi emang kacau sih ya mulut orang-orang yang banyak menyudutkan wanita ketika belum juga hamil. Judgement nya macam saya kecapean, saya mentingin karir, aduh ampun dah hahaha.

Inseminasi buat kami, rasanya it’s way too far. Dan mahal. Gabisa reimburse kantor. Wahahaha. Lagipula saya mikir: “Do we really need that?”. Saat itu pernikahan kami aja belum genap 2 tahun. Dan kami happy banget dengan ke-berduaan kami! Ketika banyak orang memberi komentar menyudutkan, kami malah bebas banget mau kemana, mau apa, mau ngapain. Yaaah kebebasan yang sangat didambakan teman-teman yang sudah pada punya anak gitulaah hihi.

Setelah rangkaian pertemuan dengan dokter itu… akhirnya kami nyantai lagi. Gak melanjutkan konsultansi. Tidak ada yang berubah, karena kami yakin anak adalah murni hak Allah. Belum dikasih? Ya itu juga hak Allah. Then just embrace the moments we had with our spouse… ciee…

Kalau diingat-ingat, ada beberapa hal yang kami lakukan di masa-masa nyantai itu. Semuanya dilakukan tanpa tujuan spesifik, namun untuk menjalankan peran kita sebagai manusia beragama aja.


Sedekah

Sedekah ke keluarga, ke orang yang membutuhkan, ke siapa ajalah. Sedekah sebisanya, bisa uang, bantuan fisik, bahkan ramah ke orang juga sedekah kan tuh hehehe.


Minum jamu rumahan

Ini gara-gara di feed Istagram saya hits ramuan atau jamu kekinian racikan rumah. Eh kok enak ya? Kok hype ya? Kok keren ya? Hahaha…. Jadi resepnya adalah seruas jahe, seruas kunyit dan sereh yang direbus. Lalu air rebusannya ditambahkan madu dan jeruk nipis lalu diminum hangat-hangat. Tujuannya biar sehat aja, dan murah pula kan. Gara-gara rajin kupas kunyit, tangan saya suka kuning-kuning pas ke kantor hahaha.


Once again… Embrace the moments we had

Selagi masih berdua sama suami, sering-sering quality time! Malem mingguan, after office dating, becanda receh, karaokean dirumah, apa ajalaaah hehehe. Keep the sparks! we married not only for child, right? Kita ini nikah untuk menyempurnakan agama, dan caranya banyaaaakkk bukan melulu soal anak.


Kurangin mikirin tentang anak

Saya punya 3 keponakan, yang SD ada, yang balita ada, yang bayi ada. Terserah mau mainin yang mana, emaknya pun dengan senang hati memberikan hahhaa. Ini udah cukup banget mengobati kerinduan sama anak kecil. Dan Alhamdulillah saya merasa cukup. Sosok anak-anak sudah ada di sekitar. Soal kapan punya anak sendiri, serahkan lagi ke Allah, yang pastinya akan memberikan di waktu terbaik.


Travelling dan honeymoon lagi!

Kalo kata judul di majalah sih: don’t ever loose the butterfly in your tummy! Persis di anniversary, kami nekat backpackeran ke Bali! One of the unforgettable journey for me, dan kami benar-benar menikmati momen travelling berduaan aja tanpa anak hehehe. Tidak ada pikiran yang terlalu berat dan muluk-muluk, yaudah seru-seruan aja pacaran berdua dengan itinerary irit kami. Naik motor di tol laut, ke Uluwatu, jalan-jalan motoran di pinggir pantai.

Saat di Bali juga saya ke pasar, beli kunyit, jahe, lemon, madu dan pisau untuk minum jamu homemade seperti yang sudah dijelaskan ke atas dengan water boiler di kamar. Oh FYI, perjalanan kami ngepas dengan masa subur saya.


And surprisingly…. Ternyata kami pulang ‘bertiga’. Alhamdulillah beberapa minggu setelahnya testpack saya bergaris dua.


Tanpa obat dokter.
Tanpa inseminasi (meskipun ada ‘masalah’ dalam proses pembuahan).
Yakin sama Allah.
Syukuri nikmat lain dalam pernikahan: suami sehat, suami setia, suami bolehin sering-sering ke salon, hahaha, dan lainnya.


Alhamdulillah saat ini usia kandungan saya masuk 4 bulan. Dari yang nyantai ga mikir banyak, sekarang tiba saatnya memikirkan lahiran, kebutuhan anak, sekolah, dan juga biayanya. Hehehe.

Semoga pregnancy journey ini bisa sedikit menginspirasi teman-teman yang sedang berharap diberi keturunan. Percayalah Allah sudah menyiapkan waktu terbaik.


Salam,
Flora Febrianindya

Cerita Nengflora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates