Pengalaman Bikin, Tambah Nama dan Perpanjang Paspor di Kanim Kelas III Bekasi

By Flora - April 15, 2016

Foto: hadiyanta.files.wordpress.com

Belum lama, saya dan keluarga berurusan dengan kantor imigrasi. Bapak, ibu dan adik membuat paspor baru, dan saya harus menambah nama pada paspor yang sudah ada menjadi 3 suku kata. Dulu saat membuat paspor tahun 2012 di Imigrasi Bekasi, saya agak ilfeel dengan pelayanan  yang lama, diselak orang-orang bercalo, tempatnya panas dan sesak serta bayar map/formulir yang sebetulnya gratis. Alhamdulillah, sekarang imigrasi sudah jauuuuuh lebih baik.


Atas pengalaman gak menyenangkan saat buat paspor dulu, mulanya saya merekomendasikan orang tua untuk bikin paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Timur aja. Alasan saya, kalau kelas 1 mungkin pelayanan lebih prima, dan kok rasanya birokrasi di Jakarta ‘tampak’ lebih cemerlang ya daripada di Bekasi. Itu perkiraan saya sih. Tapi akhirnya kita sepakat mengurus di Bekasi aja yang lebih dekat rumah. Niatnya mau daftar online dulu, tapi kok baru dapet tanggalnya 4 minggu lagi. Akhirnya ganti haluan, kita urus langsung ajah!

Setelah Googling dan baca cerita-cerita orang, urus paspor langsung itu harus datang pagi. I mean, pagi-pagi-banget-abis-Subuh, kalo nggak mau kehabisan kuota pemohon paspor yang terbatas. Jadi misalnya per Kanim (Kantor Imigrasi) kuotanya 100 orang, ya kalau kita dapat nomor urut 101, kita nggak akan dilayani.

ENG ING ENG, nyatanya tidak demikian. Pendaftaran dibuka mulai jam 08.00 – 10.00. Jadi mau kita pendaftar ke 200, tapi kita datang jam 09.45, kita pasti dilayani. Dan yang saya lihat, sekitar jam 09.00 sudah tidak ada antrean lagi seperti pagi harinya. Tinggal masuk, isi form dan verifikasi data. So easeeehh!

Orang tua saya berangkat dari rumah sekitar jam 05.15, dan selesai sekitar pukul 10.00 (mulai proses jam 08.00). Mendapat nomor urut 24, 25 dan 26, jadi kesimpulannya, ada 23 orang yang datangnya lebih pagi! Malam sebelumnya saya rapikan segala dokumen terkait yang kemudian dirapikan ke dalam map masing-masing, memastikan kalau tidak ada dokumen yang kurang atau lupa difotokopi, yaitu:

Untuk ibu dan bapak:
Copy KTP (1 copy di selembar kertas A4 tidak digunting), Copy buku nikah, Copy Kartu Keluarga

Untuk Adik:
Copy KTP, copy ijazah (bisa diganti dengan dokumen lain yang tercantum nama orang tua), copy akta kelahiran dan copy KK

Jangan lupa bawa dokumen asli nya untuk diverifikasi. Saya juga melengkapi tiap map dengan materai dan juga pulpen. Biar ga ribet kan shay! Juga wanti-wanti untuk tidak pakai sandal dan kaos. Iya, saya dan keluarga memang tipe yang harusss well prepared. Kami tidak suka kalau sesuatu yang bisa mudah tapi jadi ribet dan lama karena ada yang kelupaan atau tertinggal. Kalo bisa, saat hari H ngurus itu semua dokumen sudah siap.

Testimoni orang tua saya: Petugas Kanim Bekasi informatif dan sangat membantu. Bapak saya yang sudah lama tidak terlibat dalam birokrasi kepengurusan surat dan dokumen seperti itu mengakuinya. Beliau merasa terbantu dan dimudahkan oleh petugas Kanim Kelas III Bekasi. Dan cerita kalo urus paspor itu lama, ribet dan nyebelin sama sekali tidak dirasakan.

Okeh, orang tua dan adik saya sudah beres urusan paspornya. Ane begimane?

Berhubung saya sudah punya paspor dan tinggal tambah nama, prosesnya jauh lebih singkat. Tapi ternyata, tetap ada drama. Halah.

Jadi beberapa hari selang orang tua saya membuat paspor, saya sakit dan tidak masuk kantor. Kemudian saya ingat, kalau syarat penambahan paspor sudah saya miliki semua. Dokumen yang harus dibawa saat mengurus tambah nama di paspor yaitu: foto copy KTP, KK, materai juga akta kelahiran dan tentunya paspor. Sepertinya nggak akan lama, karena cuma kasih data, isi formulir, tanpa antri sama sekali. Pede lah, insya Allah kuat kalo Cuma ke Kanim doang, semoga cepet beres dan bisa istirahat lagi di rumah.

Betul, saya nggak pakai antri, langsung masuk dan bicara ke petugas. Kemudian saya diberi form untuk diisi, ditempel materai dan ditandatangani. Dan kemudian saya kembali ke petugas tersebut. KTP, KK, paspor, beres. Kemudian saya ditanya: ini tambah nama untuk ibadah Umroh ya? Surat keterangan dari biro perjalanannya ada kan?

MAKJLEB. Kagak ada coi.

Berdasarkan hasil baca-baca di blog orang, memang ada yang ditanya tentang surat keterangan ini. Tapi ada juga yang langsung lolos. Begitu juga ketika saya tanya ke seorang teman yang belum lama bikin paspor, dia bilang dia bisa langsung bikin paspor 3 nama tanpa surat pengantar apa-apa, padahal nama nya 2 suku kata. Waduhhh ane kudu begimanee…. Syebel rasanya udah sampe Kanim  tapi nggak menghasilkan apa-apa. Kan ga seru kalo harus khusus cuti cuma buat urus paspor.

Saya nggak diem aja, saya ngomong ke 3 petugas customer service Kanim. Dari ngomong tegas, penuh senyum sampe persuasi pelan-pelan, nggak mempan. Semuanya tetap bilang tidak bisa hehehe. Seorang ibu-ibu petugas yang ramah dan cantik masih memberi saya angin segar “nggak apa-apa mbak, kami tunggu sampai jam 3 yaa,” sambil senyum. Saya telepon pihak biro perjalanan. Karena saya minta nya dadakan, dan posisi si bapak tidak di tempat, jadilah surat saya nggak bisa terbit di hari yang sama. Hiks. Ini teleponannya sampe berrrrrkali-kali, dan konklusi nya: jam 3 nggak keburu.

Sayapun meninggalkan Kanim, nggak lupa membawa formulir yang sebelumnya sudah diisi dan ditandatangani di atas materai. Kalo udah ‘nyebur’ gini, pantang pulang tanpa hasil kan. Sayapun telepon Af, a.k.a sahabat yang mengarah ke belahan hati. Hahahaha agak mules ya nulis barusan. Af tinggal nggak jauh dari Kanim. Af besok pagi ada waktu untuk bantu saya. Dan pihak biro perjalanan menjanjikan surat keterangannya besok pagi sudah ada dan akan diantar ke tempat Af. Cocok!

Serius, saya nggak tau apakah bisa diwakilkan seperti itu. Saya Cuma mencoba. Untungnya formulir bermaterai dan bertanda tangan asli sudah di tangan, nggak usah isi baru. Mudah-mudahan bisa. Saya kasih seluruh fotocopy dan dokumen asli ke Af, tak lupa saya buat surat pernyataan, yang menyatakan nama, nomor KTP, nomor paspor, alamat dan nomor telepon, menguasakan penyerahan data-data terkait perubahan nama di paspor kepada orang lain (menyebut nama, no KTP dan no telepon Af). Gak lupa ditandatangani juga.

Saya briefing Af: “Kalo ditanya sama petugas, bilang ini perempuan berkemeja merah dan kerudung abu-abu yang kemaren bolak balik nanya mulu. Pasti inget dehhh, muka ku udah melas banget, mereka pasti tau hahahaha”.

Besok paginya jam 09.30 Af ngabarin kalo data-datanya sudah diterima pihak Kanim, dan paspor siap diambil 2 hari lagi. Alhamdulillah…. Pengambilanpun bisa diwakilkan oleh orang tua saya.

Setelah lihat paspornya: Oh, ternyata gitu doang. Hanya ketikan 3 suku kata di lembar kedua. Udah. Kirain bakal gimana, hahaha.

Foto: nisfanisyahrien.files.wordpress.com

Kesimpulan saya saat urus tambah nama di Kanim kelas 3 Bekasi: Kesan negatif yang dulu saya rasakan saat bikin paspor sudah hilang. Bangunannya sudah baru, petugas nya informatif, profesional, tempatnya lebih teratur, tertib dan GA ADA CALO. Yeaaay.

------------------------------------------------

Desember 2016 saya perpanjang paspor di Kantor Imigrasi Bekasi. Saat itu saya pede aja dateng di jam 08.30. Ternyataaa permintaan membludak dan saya dapat nomor 133! Hahaha... Pemanggilan antrian juga lama bwangets. Ngets. Saya juga perhatikan untuk pemohon online, nomor antriannya memang tidak sebanyak yang urus langsung, tapi jalannya antrian LEBIH LAMA LAGI. Di jam 11 saya pulang dan baru kembali lagi jam 13.30, antrian masih di nomor 120. Setelah verifikasi data, saya dapat giliran foto di jam 16.30.

Secara umum, permintaan penggantian paspor sama dengan pembuatan paspor baru. Dokumen pendukung yang dibawa juga sama persis. Yang berbeda sepertinya hanyalah proses wawancara yang lebih singkat. Oh iya, karena di paspor lama saya sudah pernah mengurus penambahan nama jadi 3 suku kata, di paspor baru saya juga meminta untuk dituliskan keterangan nama 3 suku kata. Siapa tahu kan yaaa dalam waktu dekat Umroh lagi. Aamiin ya Allah...

Oh iya, beberapa tips saat bikin paspor: bawa buku bacaan dan sedia headset biar nggak mati gaya, daaaan: JANGAN KUCEL PAS WAWANCARA! Kemarin saya bela-belain nggak minum supaya lipstik tetap on dan sudah menyiapkan senyum andalan. Maklumlah, di paspor lama, muka saya butek banget, hahaha. Lagipula, tampilan yang meyakinkan bikin kita lebih pede saat diwawancarai petugas, kan.

Saat ambil paspor juga lamaaa.... Saya datang di jam 09.00, dan dapat nomor 154. Wuih banyak yaa... Saat itu masih nomor 35, tentunya saya tinggal pulang lagi dongs! Luar biasa yaa bikin paspor di akhir tahun....

Intinya siih, kalau di Kanim Bekasi harus banget pagi-pagi datengnya, dan harus siap bersabar menunggu. Fiuhh... Kalau bisa sih bukan di saat musim libur.


Tambahan:

Masih ada simpang siur informasi seputar jumlah halaman paspor, termasuk di Kanim kelas 3 Bekasi ini. Menurut petugas, untuk ke negara-negara Arab dan negara yang jauh banget dari Indonesia, yang berlaku adalah paspor 48 lembar. Sementara paspor 24 lembar hanya berlaku di Asia Tenggara. Padahal jelas-jelas di website Kementerian Hukum dan HAM, kedudukan paspor 24 dan 48 adalah SAMA PERSIS di mata negara. Bedanya hanya pada jumlah halaman dan harga nya.

Update: waktu saya perpanjang paspor di akhir Desember 2016, saya 'iseng' nanya petugas Kanim tentang paspor 24 halaman, kata ibu nya: yaa bisa aja sih mbak bikin yang 24, tapi nanti bisa diperlakukan berbeda lho pas di Imigrasi, yang 24 itu buat TKI sih ya... 

Saya banyak baca tentang ketidaksepahaman petugas imigrasi (baik di Kanim maupun bandara) mengenai jenis paspor.  Ada yang bilang paspor 24 halaman itu khusus TKI, paspor 24 nggak berlaku, paspor 24 kasta nya lebih ‘rendah’, sampai disepelekan orang imigrasi bandara di daerahnya karena paspornya ‘Cuma’ 24 halaman. Saya masyarakat awam aja bisa dengan sangat  mudah meng-crosscheck informasi ini di internet. Miris lho, saya merasa ada yang salah dengan pola sosialisasi ke jajarannya ya…




  • Share:

You Might Also Like

27 comments

Postingan Populer